Tak Lagi Beroperasi, Stasiun Lama di Yogya Berubah Jadi Bengkel Hingga Warung Makan

Replika Stasiun Dongkelan yang hangus terbakar (KabarPenumpang.com)

Imbas dari jalur kereta yang telah mati memunculkan stasiun-stasiun tua yang tak lagi beroperasi, karena stasiun yang tak lagi digunakan, maka kegunaan stasiun sudah banyak yang beralih fungsi. Tak sedikit stasiun yang kemudian hancur karena tak dirawat, namun tak sedikit juga yang mampu mengolah lahan tidur menjadi sesuatu yang berdaya guna. Contohnya seperti beberapa stasiun tua di Yogyakarta yang kini berubah fungsi menjadi bengkel dan warung makan.

Sampai saat ini setidaknya ada tiga stasiun di Yogyakarta yang beralih fungsi di jalur Yogya – Palbapang, yakni stasiun Bantul, Dongkelan dan Ngabean. Merujuk ke sejarahnya, jalur sepur Yogya – Palbapang sendiri dioperasikan oleh Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) atau sekarang bernama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) VI Yogyakarta. Jalur ini awalnya dilintasi kereta api uap yang berbahan bakar batu bara. Pembangunan jalur kereta ini bertahap dari tahun 1895 dan 1915 oleh perusahaan swasta kereta api Hindia Belanda atau Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Pembangunan ini selain utnuk transportasi masyarakat, juga untuk pengangkutan komoditi pertanian hingga angkutan pabrik gula yang ada di Yogyakarta.

Baca juga: Pembangunan (Kembali) Jalur KA Yogyakarta – Magelang, Hidupkan Nostalgia Era 70-an

Tampak depan Stasiun Bantul yang sudah menjadi bengkel dan warung makan (KabarPenumpang.com)

Dari pengamatan yang dilakukan KabarPenumpang.com saat bertandang ke Yogyakarta pada awal Juni 2017, walaupun ketiga stasiun sudah beralih fungsi, tetapi bentuk bangunan stasiun masih terlihat dengan jelas. Ketiga stasiun ini mulai ditutup pada 1973 oleh PJKA akibat kalah saing dengan angkutan umum dan kendaraan pribadi yang semakin banyak di Yogyakarta, terbakar hingga pelebaran jalan. Beberapa jalur rel pun masih ada yang bisa terlihat di sekitaran Bantul. Awalnya, KabarPenumpang.com melakukan pengamatan dari stasiun Bantul yang terletak tidak jauh dari pasar Bantul. Bangunan ini masih berdiri kokoh sejak tahun 1895 hingga tahun 2017 meski sudah berubah fungsi.

Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia

Semenjak ditutup, fungsi stasiun Bantul menjadi warung makan dan sekarang menjadi sebuah bengkel dengan nama “Stasiun”. Nama stasiun diberikan juga tak jelas dengan alasan apa, atau bisa jadi dikarenakan bekas stasiun maka di beri nama seperti itu. Padahal, di stasiun Bantul sudah tidak terlihat sama sekali bekas-bekas seperti rel, alat persinyalanan hingga tiang telegraf.

Tampak belakang Stasiun Bantul yang menjadi bengkel (KabarPenumpang.com)

Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia

Sedangkan stasiun Dongkelan yang saat ini terlihat adalah replika dari stasiun aslinya. Sebab bangunan yang dulu sudah hangus terbakar. Stasiun Dongkelan sendiri dibangun menghadap jalan Bantul dan persis berada di depan Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasty). Saat ini, bangunan replika dari stasiun Dongkelan sendiri sudah berubah menjadi tempat makan dan jajanan seperti food court kecil di depan Pasty.

Bangunan Stasiun Dongkelan saat ini menjadi tempat makan (KabarPenumpang.com)

Baca juga: Menapaki Sentuhan Belanda di 10 Stasiun Tua di Indonesia 

Tak jauh dari bekas stasiun Dongkelan, KabarPenumpang.com menemukan stasiun Ngabean yang tepat berada di jalan Wahid Hasyim. Stasiun ini masih jelas terlihat karena namanya yang terpampang di sisi kiri dan kanan tembok bangunannya yakni Ngabean +100 m, artinya lokasi stasiun berada di ketinggian 100 meter diatas permukaan laut. Bangunan stasiun ini belum lama dicat menjadi warna biru cerah dan masih terlihat bekas-bekas rel dan sinyal kereta. Dulunya stsaiun ini memiliki jalur cabang menuju Pundong, Bantul.

Jalur ini memiliki keunikan, yaitu salah satu jalur menggunakan gauge (lebar rel standar) 1435 mm. Sayangnya jalur ini kemudian di bongkar oleh pemerintah Jepang dan rel keretanya dipakai untuk membangun jalur kereta api romusha dari Saketi menuju Bayah.

Tampak samping Stasiun Ngabean +100m (KabarPenumpang.com)

Kondisi stasiun Ngabean sekarang sudah menjadi terminal untuk bus pariwisata rombongan menuju alun-alun ataupun Kraton Yogya. Persinyalannya sendiri masih berupa tipe Alkmaar yang masih bisa dilihat yakni di halaman Kantor Camat Ngampilan dan di pinggir jalan Letjend Soeprapto. Sedangkan bangunannya menjadi kantor Sekretariat Forum Komunikasi Kawasan Ngabean (FKKN) Yogyakarta.

Sebenarnya masih ada tiga stasiun lainnya yakni Staiun Winogo, Cepit dan Palbapang yang tidak sempat ditelusuri KabarPenumpang.com. Hingga kini, walaupun sudah tiadak aktif, keenam stasiun ini masih milik PT KAI dan belum berpindah tangan ke siapa pun.