Terbentur Masalah Bahasa dan Kultur, Mungkinkah Cina Cantumkan Bahasa Inggris di Sarana dan Pra-Sarana Transportasi?

Sumber: railjournal.com

Bahasa merupakan salah satu identitas dari suatu daerah atau wilayah. Dari sekian banyak bahasa yang ada di dunia, mungkin anda semua setuju bahwa Bahasa Jepang dan Cina merupakan contoh bahasa yang tidak menggunakan alfabet. Lalu bagaimana jadinya jika kedua negara tersebut tetap menggunakan Bahasa Ibu mereka di berbagai sarana dan pra-sarana transportasi? Tentu ini akan menjadi masalah tersendiri bagi para wisatawan mancanegara yang tengah plesiran di sana.

Baca Juga: Bandara Dubai Gunakan Bahasa ‘Jawa Halus’ Untuk Pemeberitahuan Penerbangan

Sebagai bahasa universal, sudah selayaknya bahasa Inggris disematkan di setiap instrumen yang ada di sarana dan pra-sarana transportasi, seperti halnya papan penunjuk arah. Dengan begitu, para pelancong ini dapat dengan mudah membaca arah dan menggunakan fasilitas yang ada. Nah, pada kasus kali ini, China Railway Coorporation (CRC) tengah mempersiapkan sejumlah penanda bilingual yang diproyeksikan dapat mempermudah mobilitas dari para pelancong.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railjournal.com (16/7/2018), upaya dari sang operator kereta Cina ini diperkirakan akan terhambat oleh berbagai faktor, seperti tata penggunaan kata yang akan berdampak pada efektifitas tanda tersebut. Ambil contoh, hampir semua kata perintah dalam Bahasa Inggris selalu tertuang dalam bentuk yang singkat, jelas, lugas, dan padat. Berbeda dengan Cina yang terkesan bertele-tele.

Di Cina, pengumuman di dalam kereta selalu diawali oleh ucapan terimakasih kepada para pelanggan, yang dilanjutkan oleh penjelasan tentang potensi bahaya, dan diakhiri dengan pengarahan dari pihak kereta api tentang apa yang semestinya dilakukan atau dihindari.

Lebih lanjut, penggunaan bentuk jamak (plural) pun tidak berlaku di Cina. Kendati terdengar sederhana, namun sesungguhnya ini dapat mengacaukan persepsi para pelancong yang sudah terbiasa menggunakan Bahasa Inggris.

Mungkin diantara dua masalah di atas, masalah terjemahan kata per kata dari Bahasa Cina ke Bahasa Inggris merupakan yang paling krusial, dimana Cina memiliki aturan yang menyebutkan jika satu kata (baik kata benda, kata kerja, maupun kata sifat) yang disandingkan dengan kata lainnya akan mengubah arti dari kata itu sendiri.

Baca Juga: Manjakan Penumpang Asal Cina, Sydney Airport Gaet Baidu Hadirkan Peta Bandara

Contoh sederhananya adalah frasa “ticket gates will close before departure” yang berarti loket penjualan tiket akan ditutup sebelum kereta berangkat dalam Bahasa Inggris, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Cina menjadi “kaiche qian tingzhi jianpiao”. Namun terjemahan dalam Bahasa Cina tersebut memiliki arti yang tidak bisa dipahami, yaitu “drive car before stop halt check ticket” yang berarti kendarai mobil sebelum berhenti untuk mengecek tiket.

Dari contoh di atas saja, masalah penyampaian pesan dalam bahasa asing saja sudah tidak terpenuhi dan tidak menutup kemungkinan masalah pergeseran makna seperti ini akan terus berlanjut. Selain itu, masalah lain yang timbul adalah bagaimana cara menyederhanakan sebuah frasa ke dalam bentuk yang lebih singkat dan lugas, namun tidak menghilangkan pesan tersirat yang hendak disampaikan menjadi problematika lain yang harus dipertimbangkan matang-matang oleh CRC semisal mereka ingin melengkapi instrumen bilingual yang ada di sarana dan pra-sarana transportasi.