Terjebak ‘Badai’ Corona, Nasib Pesawat Widebody Sejumlah Maskapai Jadi Tak Jelas

0
Deretan Boeing 737 MAX yang 'nanggur' akibat larangan terbang. Foto: (Mike Siegel / The Seattle Times)

Virus Corona ‘akhirnya’ sampai di Indonesia, setelah dua warga asal Depok dinyatakan positif mengidap Covid-19, mengingat, sebelum benar-benar ditemukan kasus WNI positif virus corona, terlebih dahulu sudah ada beberapa warga negara asing yang positif mengidap virus tersebut sepulang dari Indonesia atau mempunyai riwayat perjalanan ke Indonesia.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Dengan positifnya WNI mengiap virus corona, bagi dunia penerbangan, hal tersebut tentu sangat berdampak sangat buruk, mengingat, pemerintah, melalui berbagai kementerian dan pelaku bisnis aviasi, tengah berjuang menghadapi terpaan badai virus yang diklaim berasal dari Wuhan tersebut.

Dihimpun KabarPenumpang,com dari berbagai sumber, Sabtu lalu, dengan pemberian insentif kolaborasi berbagai pihak, seperti Pemerintah, AP I dan II, Airnav Indonesia, dan Pertamina, maskapai pun akhirnya bisa sedikit bernapas lega, setelah Februari lalu ‘terpaksa’ menutup rute internasional dari dan ke Cina hingga batas yang belum dapat dipastikan, mengikuti perkembangan virus corona di negara tersebut. Insentif tersebut dinilai dapat membuat maskapai menurunkan harga tiket pesawat hingga 40-50 persen.

Benar saja, bak gayung bersambut, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia dan anak perusahaannya, Citilink, misalnya, mulai Minggu (1/3) mengumumkan telah memberlakukan potongan harga pada sejumlah rute yaitu dari dan ke Batam, Denpasar, Yogyakarta, Labuan Bajo, Lombok, Malang, Manado, Toba (Silangit), Tanjung Pandan, dan Tanjung Pinang. Pemberlakuan potongan harga ini merupakan tindak lanjut kebijakan pemberian insentif dari Pemerintah untuk menurunkan tarif penerbangan ke 10 Destinasi Wisata.

Sesuai keputusan Pemerintah, skema pemberian potongan (diskon) harga tiket ke 10 destinasi wisata dilaksanakan selama 3 bulan kedepan dimulai tanggal 1 Maret hingga 31 Mei 2020, dimana Pemerintah menetapkan besaran insentif untuk maskapai adalah dengan potongan harga tiket hingga 50 persen. Hanya saja, diskon tersebut hanya untuk 25 persen dari total jumlah penumpang, bukan untuk seluruhnya, atau sekitar 40 seat untuk program tersebut. Bila ditotal, dalam sebulan, seat yang tersedia untuk program itu sekitar 65.700 seat.

Akan tetapi, bagi sebagian pengamat, seberapa besar pun diskon yang ditawarkan, ketika masyarakat tengah was-was, sekalipun belum ada pernyataan dari pemerintah bahwa Indonesia darurat virus corona, tetap saja mereka (masyarakat) memilih untuk menahan diri bepergian ke sana sini. Singkatnya, jika bukan karena urusan super penting, masyarakat mungkin akan urung bepergian apalagi ke daerah wisata, sebagaimana destinasi yang ditawarkan pada diskon tersebut.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Wikipedia)

Akibatnya, tentu saja berdampak pada penurunan jumlah penumpang dan frekuensi penerbangan. Seperti di Bandara I Gusti Ngurah Rai Denpasar, misalnya, Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub, Novie Riyanto, menyebut pergerakan pesawat di bandara ini menurun dari semula 470-480 pergerakan pesawat menjadi hanya kurang lebih 400 pergerakan.

Hal itu baru pergerakan, belum spesifik ke okupansi di masing-masing penerbangan dari total 400 pergerakan tersebut. Sangat mungkin jumlahnya juga menurun karena banyak turis yang cenderung menghindari penerbangan ke Asia. Jika pergerakan pesawat menurun, pertanyaan yang paling mungkin adalah, kemana kah pesawat-pesawat yang biasa melayani penumpang?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sebetulnya redaksi KabarPenumpang.com sudah berusaha untuk mendapatkan jawaban dari pihak Garuda Indonesia dan Lion Grup. Namun, keduanya belum memberikan tanggapan spesifik. Pasalnya, dari kedua maskapai tersebut, ada banyak penerbangan internasional. Rute internasional ke Cina, misalnya, setidaknya terdapat 75 penerbangan dari kedua maskapai tersebut, 30 penerbangan milik Garuda Indonesia dan sisanya milik Lion Air.

Dengan ditutupnya rute tersebut (dari dan ke Cina), pesawat widebody yang biasa digunakan untuk terbang ke sana bukan tak mungkin mangkrak di apron bandara. Sebetulnya, bisa saja dipaksakan terbang dengan dua pilihan. Pertama, mengalihkan pesawat-pesawat tersebut ke rute-rute internasional lainnya. Namun, pilihan tersebut rasanya sulit, mengingat, maskapai-maskapai Indonesia bisa dibilang masih sulit bersaing di rute internasional melawan maskapai raksasa dengan reputasi tinggi, seperti Singapore Airlines, Qatar, Emirates, dan Etihad, di samping iklim penerbangan global yang tengah tak baik. Ditambah memang demand sedang rendah ke tujuan-tujuan yang dimaksud.

Pilihan kedua, pesawat-pesawat widebody yang biasa melayani rute internasional putar haluan menjadi melayani rute dalam negeri. Pilihan tersebut rasanya juga sulit, mengingat butuh perjuangan ekstra keras. Pasalnya, bila okupansi rendah, menggunakan pesawat widebody untuk rute domestik dengan jarak tempuh singkat justru malah membuat maskapai rugi besar.

Nyatanya, gairah penumpang untuk menggunakan pesawat pun juga tengah menurun. Selain konektivitas darat dan laut yang sudah mulai membaik, persoalan tiket masih dikeluhkan penumpang, di tengah perlambatan ekonomi global, termasuk Indonesia, akibat berbagai hal. Tahun lalu, misalnya, penumpang pesawat tercatat turun 19,14 persen atau turun sebanyak 17,5 juta orang.

Sebetulnya, di luar kedua pilihan tersebut, maskapai masih bisa tertolong dengan pilihan lainnya, yakni penerbangan khusus umroh. Namun, harapan tersebut pupus, mengingat pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk menyetop layanan umroh. Akibatnya, calon pesawat mangkrak pun jadi bertambah meskipun belum jelas ada berapa pesawat yang akan terdampak.

Kemudian, pilihan untuk memarkirkan pesawat di apron bandara pun juga bukan pilihan bagus, mengingat, pesawat tetap harus membayar biaya parkir pesawat dan tetap harus melaksanakan perawatan rutin. Setidaknya, setiap pesawat membutuhkan kocek sebesar Rp43 miliar untuk perawatan rutin, mencakup Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).

Hanggar 4 GMF. Sumber: Twitter

Pada dasarnya, perawatan rutin tidak melihat pesawat digunakan atau tidak. Tentu, hal tersebut akan sangat menyedihkan maskapai. Sudah pesawat tidak menghasilkan (karena tidak melayani penumpang), namun di sisi lain tetap harus mengeluarkan uang untuk membayar biaya parkir dan perawatan pesawat. Kondisi yang sangat sulit bagi maskapai.

International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $29 miliar atau Rp417 triliun. Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Celakanya, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit loss) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik, termasuk di dalamnya Indonesia.

Baca juga: Penutupan Rute dari dan ke Seluruh Cina Daratan, Berpotensi Hanguskan Triliunan Rupiah

Menariknya, berkaca pada peristiwa serupa (wabah SARS), upaya recovery-nya pun tak sebentar, membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?

Jika sudah begini, bagaimana kah strategi maskapai untuk memaksimalkan armadanya yang mangkrak akibat penutupan rute dari dan ke Cina, rute umroh, serta rute-rute internasional lainnya yang juga terdampak akibat virus corona sampai iklim penerbangan global benar-benar pulih kembali? Khusus untuk Garuda Indonesia, di tengah kewajiban membayar utang sebesar Rp6,8 Triliun yang sudah jatuh tempo, bagaimana kah upaya maskapai pelat merah tersebut? Akankah bernasib sama dengan anak perusahaannya, Merpati Airlilnes?

Leave a Reply