Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

0
Gambaran pergerakan pesawat di ruang udara Cina sebelum diterpa pembatalan besar-besaran oleh maskapai seluruh dunia. Foto: Tangkapan laman Instagram nytimes

Sejak pertama kali virus corona merebak, pereknomian Cina terus tergerus di berbagai sektor. Dari data salah satu pusat studi ekonomi dunia, perekonomian Cina memang terus mengalami penurunan, bahkan mencapai yang terburuk dalam 10 tahun terakhir. Diperkirakan tahun ini Cina hanya sanggup meraih angka pertumbuhan ekonomi dikisaran 5,3 persen, dari semula diperkirakan mencapai 6 persen, sebelum adanya kasus virus corona.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Di samping itu, pergerakan perdagangan Cina juga mencapai titik terendah setelah adanya virus corona. Puncaknya terjadi pada pertengahan Februari lalu, dengan angka perdagangan berkisar 30-50 persen. Begitu juga dengan sektor aviasi yang juga mengalami penurunan drastis akibat banyaknya maskapai yang menghentikan penerbangan dari dan ke Negeri Tirai Bambu itu. Meskipun otoritas setempat belum merilis angka resminya, namun, setidaknya jebloknya penerbangan di Cina dapat terlihat dari pergerakan pesawat tersebut di ruang udara Cina.

View this post on Instagram

Thousands of planes criss-cross China every day, but that number has fallen sharply as flights are canceled to help combat the coronavirus. The slowdown in air travel is, in part, a response to fears that the virus could become a pandemic. The virus has, as of Friday, infected at least 76,000 people and killed more than 2,200, most of them in China. Within just 3 weeks, the number of daily departures and arrivals for domestic and international flights dropped by over 13,000. Restrictive measures adopted by China helped to delay the spread of the virus to other countries, but China’s increasing isolation from the world could have lasting economic consequences. To read more about the global consequences of the coronavirus, tap the link in our bio.

A post shared by The New York Times (@nytimes) on

Seperti dilihat KabarPenumpang.com dari laman Instagram @nytimes, Jumat, (28/2), sebelum virus corona merebak, ruang udara Cina tampak memang sangat padat, dengan angka ribuan pergerakan pesawat setiap harinya. Namun setelah adanya virus corona di penghujung tahun lalu, ruang udara Cina tampak turun lebih dari separuhnya, berkisar 70-80 persen.

Menurut Flightradar24, hanya dalam tiga minggu, mulai 23 Januari hingga 13 Februari, jumlah keberangkatan dan kedatangan harian untuk penerbangan domestik dan internasional turun menjadi hanya 2.004, dari 15.072. Detailnya, pada 23 Januari lalu, sebelum maraknya pembatalan penerbangan dari dan ke Cina, pergerakan pesawat di negara tersebut mencapai 12,814 pergerakan dalam sehari. Pada 13 Februari lalu, setelah adanya pembatalan besar-besaran dari maskapai seluruh dunia, angkanya menjadi hanya 1,662 pegerakan pesawat dalam sehari. Singkatnya, ada lebih dari 13.000 penerbangan dalam sehari hilang akibat virus corona.

Data penerbangan di Cina. Sumber: FlightRadar24 via nytimes

International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar $ 29 miliar atau Rp 417 triliun. Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Terlebih, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit lost) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik.

Hal itu setidaknya telah terbukti bila dilihat dari beberapa langkah yang dilakukan untuk menyelamatkan ekosistem bisnis aviasi di beberapa negara, semisal HongKong yang harus menggelontorkan (melalui otoritas bandara HongKong) sebesar Rp 2,8 triliun atau Indonesia yang juga tengah mempersiapkan beberapa skema guna penyelamatan bisnis penerbangan.

Data penerbangan di empat tujuan favorit warga Cina. Foto: FlightRadar24 via nytimes

Akan tetapi, IATA tidak menampik, bahwa profit loss sebesar Rp 417 triliun tersebut sangat dimungkinkan bisa berkembang lebih besar, mengingat, dalam pengamatan IATA, virus corona jauh lebih mematikan, lebih besar (dampaknya), dan lebih merusak ekosistem bisnis penerbangan di Cina, yang saat ini tengah menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia, dan mau tak mau (dengan posisinya sebagai raksasa perekonomian dunia tersebut) juga akan berimbas ke negara lain.

Baca juga: Operasional Terganggu Akibat Virus Corona, Ini Strategi Maskapai Dunia Maksimalkan Pesawat Widebody

Lihat saja Jepang dan Singapura, sekalipun bukan menjadi negara endemik virus corona, namun perekonomian kedua negara tersebut dibuat rontok dan memasuki periode resesi karenanya. Sebaliknya, Cina hingga kini masih tergolong aman dari ancaman resesi, meskipun diprediksi mencatatkan pertumbuhan ekonomi terburuk dalam 10 tahun terakhir.

Sementara itu, dalam catatan IATA, wabah SARS sendiri, kala itu, merenggut sekitar $ 6 miliar atau sekitar Rp 86,5 triliun pendapatan tahunan maskapai penerbangan di seluruh dunia. Selain itu, upaya recovery-nya pun tak sebentar, membutuhkan setidaknya sembilan bulan untuk memulihkan ekosistem bisnis di dunia aviasi. Lantas, bagaimana dengan virus corona, akankah sama dengan SARS (dalam hal recovery yang mencapai 9 bulan)?

Leave a Reply