Timeline Teknologi Body Scanner di Bandara, dari Isu Gender Hingga Cegah Corona

0
Body scanners yang terpasang di sebuah bandara. Foto: Raimond Spekking via airport-technology.com

Sejak awal kemunculannya, body scanner (alat pemindai tubuh) kerap kali ditentang oleh beberapa kalangan di beberapa negara. Di Indonesia sendiri, body scanner sempat menjadi polemik ketika Ombudsman Republik Indonesia (ORI) turun tangan menginspeksi penggunaannya. Kala itu, ORI menilai jika penggunaan body scanner di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta (Soetta) bisa menimbulkan diskriminasi.

Kala itu, Komisioner Ombudsman, Adrianus Meliala, mengkritik alat pemeriksaan yang berbentuk tabung tersebut karena petugas bandara secara acak memilih para penumpang yang harus diperiksa di dalam alat tersebut. Oleh karenanya, ia menyarankan agar pihak bandara membuat aturan yang jelas terkait penggunaan alat tersebut. Tujuannya agar tidak ada praktik diskriminasi dalam kegiatan pemeriksaan.

Baca juga: Bak Kuburan, Inilah 8 Penampakan Sepinya Bandara di Dunia Akibat Virus Corona

Akan tetapi, terlepas dari polemik yang terjadi, sebetulnya, body scanner sedikit banyaknya menempati posisi strategis di beberapa kondisi, mulai dari ancaman akibat tindak kejahatan hingga wabah virus mematikan, tak terkecuali virus corona. Dikutip dari airport-technology.com, berikut rangkuman timeline body scanner sejak awal kemunculan hingga penggunaan terkini di berbagai bandara.

1. 1960an-1990an: Pemeriksaan Manual, Metal Detectors, dan Body Scanner Pertama

Dipicu oleh ledakan ekonomi pasca berakhirnya Perang Dunia II, perjalanan udara memperoleh daya tarik besar pada 1960-an. Pemeriksaan keamanan seseorang dan barang bawaannya sebagian besar dilakukan secara manual selama periode ini.

Seiring berjalannya waktu, mesin pemindaian x-ray pertama untuk bagasi di tahun 1970-an pun muncul. Namun, penumpang sendiri hanya diperiksa dengan magnetometer elektronik dan kemudian melalui detektor logam.

Menjelang akhir milenium, pada awal 1990-an, Dr Steven Smith berhasil mengembangkan konsep pertama body scanner. Model awal ini terdiri dari sistem skrining keamanan sinar-X backscatter dosis rendah yang juga dikenal sebagai Secure 1000.

2. 2000-2007: Insiden 9/11 Menunjukkan Kurangnya Langkah-langkah Pemeriksaan yang Efektif

Pada periode ini, proses pengawasan setiap penumpang di berbagai bandara, khususnya Amerika dan sekutunya, menjadi lebih ketat. Hasilnya, pemerikasaan full body scanner pun dilakukan. Bandara Amsterdam Schiphol saat itu digadang-gadang memimpin pengecekan full body scanner dengan teknologi selangkah lebih maju dibanding negara lainnya pada tahun 2007.

3. 2010-2013: Konsolidasi dan Masalah Privasi

Pasca insiden 9/11 disusul percobaan pemboman di Bandara Detroit pada tahun 2009, seluruh bandara di dunia pun akhirnya mengeluarkan protokol keselamatan di bandara dengan menerapkan dua model skrining. Pertama menggunakan sinar-X untuk memancarkan radiasi untuk mendeteksi benda logam dan non-logam yang dikenakan oleh seseorang. Adapun yang kedua adalah radiasi elektromagnetik yang mampu menghasilkan gambar 3D seseorang. Teknologi inilah yang kemudian memancing polemik karena mengancam privasi penumpang. Akhirnya teknologi tersebut tak diberlakukan

4. 2013-2019an: Kemajuan Teknologi dan Polemik Gender Atas Body Scanner

Pada periode ini program pengembangan mulai dilakukan. Pada tahun 2017 start-up Evolve Technology berhasil menemukan teknologi yang mampu memindai dengan cepat dan efektif hingga 600 penumpang per jam. Setahun berikutnya, ilmuwan di Cardiff mengumumkan uji coba pemindai ‘super sensitif’ yang menggunakan teknologi luar angkasa untuk mendeteksi panas tubuh manusia. Dari sinilah kemudian teknologi thermal scanner mulai marak dikembangkan; termasuk penggunannya untuk menangkal penyebaran virus corona lewat bandara seperti sekarang ini.

Pada periode ini juga sempat terdapat polemik dari kelompok non-gender. Sebab, body scanner memungkinkan petugas mengetahui jenis kelamin penumpang. Kondisi tersebut seringkali menjadi aneh. Sebab, di dokumen seorang penumpang tertulis berjenis kelamin pria, sedangkan hasil pemindaian body scanner menunjukkan penumpang berjenis kelamin wanita. Hal inilah yang kemudian menjadi polemik. Desakan untuk dilakukannya perubahan pun terus digaungkan.

Baca juga: Ini Dia! Lima Kelemahan Covid-19

5. 2020: Virus Corona dan Kebutuhan untuk Berevolusi

Virus corona menyebar dengan cepat pada 2020. Tercatat, virus yang diduga berasal dari Cina ini telah menyebar ke seluruh benua, kecuali Antartika. Thermal scanner, yang notabene merupakan hasil pengembangan dari body scanner pun amat sangat diandalkan dalam menangkal virus corona di bandara.

Namun, belakangan kemampuan thermal scanner untuk mencegah penularan atau pasien terinfeksi corona bebas bepergian ke negara tujuan mulai diragukan. Banyak hal yang mendasarinya. Oleh karenanya, berbagai peniliti pun coba melakukan pengembangan. Mungkin nanti ketika virus Cina ini lenyap dari muka bumi, mengingat saat ini peneliti mayoritas tengah fokus mengembangkan vaksin virus corona.

Leave a Reply