“Timer,” Antara Utusan Operator Angkutan dan Pungutan Liar

ilustrasi pungli (kompasiana)

Berperan sebagai pengatur waktu keberangkatan bus atau headway angkutan umum sering juga disebut dengan istilah timer. Biasanya timer mengatur jadwal keberangkatan bus agar tidak terjadi penumpukan, apalagi bila berada di jalur yang sama. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, seorang timer dulunya bukanlah hanya seorang pengatur waktu keberangkatan tetapi juga mengawasi jumlah penumpang yang ada di dalam bus.

Baca juga: Trans Jogja, Bus Rapid Transit Tanpa Separator Asli Kota Gudeg

Bus-bus yang diatur seorang timer juga bukan hanya bus antar kota antar provinsi melainkan juga angkutan dalam kota, Mikrolet, Metromini, Kopaja atau bus kota lainnya. Para timer ini adalah orang-orang yang ditugaskan khusus oleh pihak operator untuk mengontrol jumlah penumpang pada saat-saat tertentu. Sebab dengan pengontrolan seperti ini juga bisa mengontrol pendapatan pengelola.

Sayangnya, peran timer kini banyak dipersepsikan negatif, seperti ada kesan berperan sebagai kepanjangan tangan dari pungutan liar (pungli), setiap perjalanan angkutan umum para timer mencoba untuk membuat penumpang untuk naik dalam kendaraan umum dan sebelum jalan meminta jatah uang penumpang pada para pengemudi angkutan. Atau ada oknum yang bergaya ala timer meminta uang saat angkutan melintasi suatu tikungan. Miris bila dikatakan, dengan kondisi saat ini yang semakin sedikit penumpang naik kendaraan umum pastinya pendapatan berkurang lebih lagi harus membayar kepada para timer yang sesukanya.

Baca juga: TransJakarta Terintegrasi KWK dengan Kartu seharga Rp15 ribu di Jam Sibuk

Memang tidak bisa semua disalahkan, karena penggunaaan tiket manual dalam perjalanan juga bisa menjadi salah satu kecurangan dan kebocoran pendapatan operator. Namun, dengan kondisi Indonesia sebagai negara berkembang, sistem tiket berupa elektronik sudah mulai digunakan apalagi di negara maju, sistem ini justru bisa menjadi kendali atau pengawas otomatis tanpa melibatkan manusia untuk mengaturnya.

Di Indonesia saat ini, sudah dilakukan mirip dengan negara maju seperti TransJakarta dan TransJogja yang memang dimana operator tidak lagi berhubungan langsung dengan penumpang karena hanya sebatas pelayanan saja. Apalagi kendali sistem kedua moda transportasi ini dikendalikan langsung oleh pemerintah sehingga tak mengenal lagi adanya timer sebab sudah menggnakan headway yang terkontrol dan terjadwal.

Baca juga: TransPakuan, Solusi Kemacetan Bogor yang Kurang Perhatian

Diketahui, seorang timer biasanya berada di pinggir jalan atau di terminal dengan membawa catatan untuk menulis waktu keberangkatan dan passtinya seorang timer menggunakan jam agar tahu jam berapa saat kendaraan umum berangkat. Tak hanya saat kendaraan yang berjalan di terminal, saat melintas dan berhenti sejenak juga di catat oleh para timer.

Dewasa ini dengan hadirnya fasilitas GPS (Global Positioning System) di armada bus, maka monitoring dan tracking perjalanan bus dapat dipantau secara online dari pusat kendali, bahkan memungkinkan bagi pengguna jasa secara langsung untuk memantau pergerakan moda angkutan lewat aplikasi.