Transportasi di Rusia Rawan Serangan Teroris

0
Sumber: Kompas.com

Kabar memilukan datang dari negeri Beruang Merah, Rusia. Sebuah bom meledak pada Senin (3/4/2017) pada pukul 14.40 waktu setempat. Bom tersebut memporakporandakan gerbong kereta bawah tanah yang sedang bertolak menuju Technical Institute di St. Petersburg. Hingga berita ini diturunkan, peristiwa ini sedikitnya menewaskan 11 penumpang dan puluhan lainnya luka-luka. Tak berselang lama dari kejadian tersebut, polisi menemukan bom lainnya di stasiun Vosstaniya. Untungnya, bom tersebut belum meledak dan pihak berwenang di sana berhasil menjinakannya.

Badan Anti teror Rusia, Natsionalnyi Antiterroristicheskii Komitet (NAK) menyebutkan ledakan yang terjadi di kota kedua terbesar di Rusia tersebut merupakan salah satu aksi terorisme yang selama ini diperangi oleh Negara dibawah pimpinan Vladimir Putin tersebut. Presiden Rusia, Vladimir Putin menyebutkan pihak otoritas sedang melakukan investigasi tahap awal terhadap penyebab ledakan. Ucapan belasungkawa langsung datang dari banyak pihak, salah satunya dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Seperti yang dilansir dari Reuters, Trump turut angkat bicara mengenai ledakan tersebut. “Hal yang mengerikan. Benar-benar hal yang mengerikan,” ujar Trump, Selasa (4/4/2017).

Terkait ledakan bom ini, berbagai pihak langsung menuduh ISIS sebagai dalang dibalik aksi teror tersebut. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, ISIS melancarkan aksi terornya ke sejumlah Negara di benua Eropa, seperti Turki, Jerman, Perancis, dan yang terakhir adalah Inggris. Tuduhan tersebut bukan tanpa landasan, berdasarkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan oleh NAK, aksi ini diduga kuat dilakukan oleh organisasi teror berhaluan Islam radikal.

Bila ditelisik lebih dalam, hubungan Rusia dengan ISIS memang sedang panas-panasnya, dilihat dari Rusia yang mendukung rezim Bassar Al Assad, yang notabene merupakan musuh ISIS di medan tempur Suriah. Ditambah lagi negeri beruang merah ini juga memiliki musuh bebuyutan, yaitu para pemberontak di Kaukasus. Sebenarnya, tuduhan terhadap ISIS dibalik aksi teror terbarunya ini bisa dibilang tidaklah semudah membalik terlapak tangan, mengingat kebanyakan aksi teror yang terjadi di Rusia didalangi oleh pemberontak Chechnya dan kelompok lain di pegunungan Kaukasus bagian selatan.

Apabila dilihat kebelakang, pada 29 dan 30 Desember 2013 silam Rusia juga pernah digemparkan oleh bom bunuh diri di sarana transportasinya, yaitu di depan stasiun kereta utama Volgograd pada tanggal 29 Desember dan di bus umum padat penumpang di kota Volgograd pada tanggal 30 Desember. Bom yang meledak pada tanggal 29 merupakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh seorang wanita yang berdampak pada hilangnya 17 nyawa dan puluhan lainnya luka-luka, sedangkan bom yang meledak di bus umum padat penumpang menewaskan sedikitnya 10 orang dan 19 lainnya luka parah.

Tidak hanya itu, pada 27 November 2009, kelompok Umarov bertanggung jawab terhadap aksi peledakan di stasiun bawah tanah Rusia dan menewaskan sedikitnya 26 orang dan 100 lainnya luka-luka. Beberapa bulan berselang, tepatnya pada 29 Maret 2010, bom bunuh diri kembali dilakukan oleh kelompok Umarov melalui 2 wanita yang meledakkan dirinya di kereta bawah tanah Moskow dan menewaskan 40 orang serta 100 orang lainnya luka-luka.

Tidak hanya menyasar moda darat, aksi teror juga dilakukan pada moda udara. Pada Agustus 2004, 2 pesawat sipil mendapat serangan bom bunuh diri dan menewaskan 90 penumpang yang berada di dalamnya. Seakan belum puas dengan serangan udara etape pertama, bom bunuh diri meledak di bandara Domodedovo, Moskow pada 24 Januari 2011. Kejadian ini menewaskan 37 orang dan 180 lainnya luka-luka.

Bom yang meledak di St. Petersburg kemarin seolah menjadi pengingat agar Rusia dapat meningkatkan keamannya, mengingat perhelatan Piala Dunia yang akan diselenggarakan pada tahun 2018 mendatang, pihak Rusia bertindak sebagai tuan rumah. Dengan kata lain, Rusia harus lebih meningkatkan pengamanannya dari berbagai aspek,agar gelaran akbar sepak bola dunia tersebut berjalan lancar.

 

Leave a Reply