Transportasi Jepang Gunakan Bahan Bakar Hidrogen di Tahun 2025

0
Batubara coklat, atau batubara muda, mudah terbakar saat dikeringkan dan, oleh karena itu, belum banyak dieksploitasi (Pixabay)

Jepang menyelesaikan pembangunan 2500 meter kubik terminal gas hidrogen cair di Kobe pada bulan April yang lalu. Negara ini juga akan mengkomersialkan wahana transportasi yang menggunakan bahan bakar hidrogen pada tahun 2025. Eiichi Harada, pejabat eksekutif, wakil manajer umum divisi teknologi perusahaan, Kawasaki Heavy Industries Ltd mengatakan, uji coba dengan bahan bakar hidrogen telah berhasil dilakukan.

Baca juga: Zeppelin, Riwayat Balon Udara dengan Bahan Bakar Hidrogen

Sebelumnya pada 2014 lalu, Jepang menandatangani proyek pertama semacam ini dengan Australia untuk tujuan mendemonstrasikan kelangsungan hidup gasifikasi batubara coklat di Lembah Latrobe di Australia. Proyek ini untuk menghasilkan hidrogen dan mengangkutnya melalui laut ke Pelabuhan Kobe di Jepang dan menggunakannya di pabrik kogenerasi untuk mengasilkan listrik dan panas.

KabarPenumpang.com merangkum laman downtoearth.org.in (10/9/2020), karbon dioksida yang dihasilkan dari proses ini ditangkap dan disimpan di bawah tanah untuk kembali di proses menjadi netral karbon. Meski tak jadi di demonstrasikan pada Olimpiade Jepang, tetapi ini telah beroperasi dengan sukses. Batubara coklat atau batubara muda memiliki kadar air setinggi 50-60 persen.

Ini mudah terbakar saat dikeringkan dan berisiko tinggi untuk ditangani sehingga sumber daya ini belum banyak dieksploitasi. Karena biaya rendah, menjadikan batubara coklat ini salat satu produksi energi paling terjangkau sehingga Jepang memanfaatkannya. Untuk diketahui, lembah Latrobe di Australia, di mana Jepang telah memperoleh hak penambangan, memiliki cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik negara itu selama 240 tahun.

Batubara coklat tersedia pada kedalaman yang sangat rendah yaitu 250 meter sedangkan lapisan batubara India berada pada kedalaman hingga 600 meter. Namun hanya volume besar gas alam cair yang diangkut dengan kapal ke jarak yang jauh. Teknologi pencairan dan penyimpanan hidrogen telah terbukti praktis di industri, terutama untuk pengangkutan bahan bakar roket hidrogen.

“Transportasi jangka panjang dalam jumlah besar, penyimpanan energi serta integrasi sektor dimungkinkan dengan hidrogen. Menggunakan energi hidrogen sebagai bagian dari campuran energi akan berkontribusi pada ketahanan,” menurut Harada.

Kota Kobe di Jepang menggunakan energi dari bahan bakar hidrogen dalam skala percontohan. Untuk menghasilkan daya 1,5 megawatt, dibutuhkan 2.215 meter kubus normal per jam gas hidrogen, menurut demonstrasi uji. Modifikasi untuk mengangkut hidrogen cair dalam volume yang lebih besar dimulai pada bulan Maret di Carrier Suiso Frontier Cargo Tank di KHI Harima Works, Jepang. Hidrogen cair yang diangkut secara internasional hanya akan memiliki variasi marjinal dalam emisi karbon dioksida dibandingkan dengan pembangkitannya menggunakan sumber terbarukan lainnya, menurut penilaian siklus hidup oleh para peneliti Institut Penelitian dan Informasi Mizuho.

Baca juga: Dukung Operasional Kereta Hidrogen, Jerman Bangun Stasiun Pengisian Khusus di 2021

“Tidak ada limbah yang dihasilkan dari gasifikasi brown coal, sehingga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang tidak sedikit. Menjelajahi teknologi berbasis terbarukan memang diperlukan, tetapi harganya mahal. Jadi, mengeksploitasi batubara coklat untuk beberapa waktu bisa menjadi awal yang baik. Kami dapat melompat ke teknologi bersih lainnya saat teknologi tersebut matang dan menjadi hemat biaya,” tambah Harada.

Leave a Reply