Setelah beberapa hari mengalami kelumpuhan total akibat eskalasi ketegangan regional, industri penerbangan di Timur Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski masih sangat rapuh. Dilansir dari laporan Al Jazeera, otoritas penerbangan Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengumumkan dimulainya kembali operasional penerbangan secara terbatas mulai Selasa, 3 Maret 2026.
Langkah ini diambil di tengah upaya keras kawasan tersebut keluar dari kemelut perjalanan yang dipicu oleh konflik antara Iran dan Israel yang meluas.
Keputusan UEA untuk membuka kembali sebagian ruang udaranya menjadi angin segar bagi ribuan penumpang yang telantar di bandara internasional Dubai dan Abu Dhabi. Namun, pemulihan ini tidak berjalan mulus. Maskapai raksasa seperti Emirates dan Etihad Airways melaporkan bahwa jadwal penerbangan masih jauh dari kata normal. Banyak rute yang terpaksa dialihkan atau mengalami penundaan hingga belasan jam karena penutupan koridor udara tertentu yang dianggap berisiko tinggi.
Kekacauan ini bermula dari ancaman serangan udara dan penutupan ruang udara besar-besaran di beberapa negara tetangga, termasuk Irak, Lebanon, dan Yordania. Para pilot kini harus melakukan navigasi yang jauh lebih kompleks, memutar melalui rute-rute alternatif yang lebih jauh untuk menghindari zona konflik. Hal ini tidak hanya menambah durasi perjalanan secara signifikan, tetapi juga menyebabkan lonjakan biaya operasional bagi maskapai akibat konsumsi bahan bakar yang meningkat tajam.
Di Bandara Internasional Dubai, salah satu pusat transit tersibuk di dunia, pemandangan antrean panjang dan tumpukan bagasi masih terlihat di beberapa terminal. Meskipun penerbangan terbatas telah dimulai, prioritas diberikan kepada pemulangan warga negara yang terjebak dan pengiriman bantuan logistik mendesak. Otoritas bandara mengimbau penumpang untuk terus memantau status penerbangan mereka melalui aplikasi resmi karena perubahan jadwal dapat terjadi sewaktu-waktu tergantung pada situasi keamanan di darat.
Buntut Krisis Timur Tengah: Sebagian Besar Armada A380 Emirates Terjebak di Berbagai Belahan Dunia
Penutupan ruang udara ini memberikan hantaman keras bagi ekonomi kawasan yang sangat bergantung pada sektor pariwisata dan perdagangan udara. Para analis ekonomi memperingatkan bahwa jika situasi tidak segera stabil, biaya tiket pesawat di seluruh Timur Tengah diprediksi akan melonjak akibat terbatasnya pasokan kursi dan tingginya biaya asuransi penerbangan di zona konflik.
Sejumlah maskapai internasional asal Eropa dan Asia juga masih menangguhkan rute mereka menuju beberapa kota besar di kawasan Teluk sebagai tindakan pencegahan. Mereka menunggu jaminan keamanan yang lebih solid sebelum kembali beroperasi secara penuh. Di sisi lain, pemerintah UEA terus melakukan koordinasi diplomatik dan teknis dengan organisasi penerbangan internasional guna memastikan koridor udara yang dibuka tetap aman dari potensi serangan rudal atau gangguan sistem navigasi.
Situasi di Timur Tengah saat ini tetap berada dalam status waspada tinggi. Meskipun UEA telah memulai langkah berani untuk memulihkan konektivitas udara, bayang-bayang konflik yang tidak terprediksi tetap menjadi tantangan terbesar bagi dunia penerbangan internasional di tahun 2026 ini. Bagi para pelancong, fleksibilitas dan kesabaran menjadi kunci utama dalam menghadapi “normal baru” yang penuh ketidakpastian ini.
Puluhan Ribu Penumpang Terlantar Akibat Penerbangan Dibatalkan, UEA: Kami Tanggung Seluruh Biaya
