Virgin Galactic Gandeng NASA Kembangkan Pesawat Komersial Berkecepatan Tinggi

0
Sebuah pesawat roket milik Virgin Galactic pada hari Jumat, (22/2/2019) mengudara menuju ujung ruang angkasa dengan pilot penguji untuk pertama kalinya, mendorong perusahaan besotan miliarder asal Inggris, Sir Richard Branson lebih dekat dengan tujuannya untuk penerbangan suborbital bagi para wisatawan menuju luar angkasa. Sumber: japantimes.co.jp

Virgin Galactic saat ini tengah mengalami jalan terjal dalam perjalanan bisnisnya di tahun ke-16 sepanjang sejarah berdirinya perusahaan. Dalam dua kuartal terakhir, perusahaan yang fokus di wisata luar angkasa ini dilaporkan mengalami kerugian besar. Namun, rupanya hal itu tak menghalangi inovasi perusahaan yang bernaung di bawah Virgin Group ini terhenti.

Baca juga: Virgin Galactic Sukses Terbangkan (Kembali) Pesawat Bertenaga Roketnya ke Antariksa

Dikutip dari newatlas.com, belum lama ini, perusahaan asal Britania Raya yang berbasis di Mojave, California, Amerika Serikat (AS) tersebut dilaporkan tengah mengembangkan teknologi penerbangan komersial next generation atau berkecepatan tinggi. Guna mempercepat terealisasinya misi tersebut, Virgin Atlantic menggandeng badan antariksa AS, NASA. Kepastian tersebut didapat setelah keduanya meneken sebuah perjanjian The new Space Act Agreement, beberapa hari lalu.

Walaupun secara DNA Virgin Atlantic merupakan perusahaan Britania Raya, namun, secara binsis, mereka lebih fokus bermain di ceruk pasar AS. Tak terkecuali dengan teknologi penerbangan next generation atau berkecepatan tinggi.

Bila segalanya telah rampung dan siap, pesawat komersial berkecepatan tinggi itu lebih memfokuskan diri di pasar potensial AS, khususnya pada penerbangan point-to-point. Namun, tak menutup kemungkinan seiring berjalannya waktu, pesawat komersial berkecepatan tinggi Virgin Atlantic juga akan beroperasi di negara lainnya.

“The new Space Act Agreement ini akan memungkinkan NASA untuk berkolaborasi dengan Virgin Galactic dan The Spaceship Company untuk membuat organisasi kami mengambil keuntungan dari alat, teknik, dan teknologi baru yang dikembangkan selama 50 tahun terakhir dan untuk mengeksplorasi potensi solusi baru untuk industri penerbangan komersial,” kata Dr. James Kenyon, Direktur Program Kendaraan Udara Masa Depan NASA Aeronautics.

“Pengalaman unik Virgin Galactic dan berbagai inovasi teknologi di masa mendatang, ditambah kemitraan dengan NASA yang memiliki reputasi tinggi (di bidang Advanced Air Vehicles) dan lembaga pemerintah terkait lainnya, memungkinkan kemajuan pengembangan bisnis perusahaan untuk meningkatkan daya saing di pasar AS. Kami melihat ini sebagai ceruk pasar dengan potensi pertumbuhan luar biasa yang akan terus kami investasikan, di samping operasi spaceflight (wisawat luar angkasa) komersial kami,” kata George Whitesides, CEO Virgin Galactic Holdings.

Baca juga: Virgin Galatic Uji Coba Pesawat Luar Angkasa Komersial

Sebelumnya, pada bulan Februari lalu, Virgin Galactic terlebih dahulu meluncurkan program baru untuk mengamankan hajat besar penerbangan suborbital pertamanya dengan mematok uang muka sebesar US $1.000 atau sekitar Rp15 juta (kurs 15,432), dimana sebanyak 400 orang telah mendaftarkan diri.

Diharapkan, sektor bisnis ini (jasa wahana antariksa suborbital untuk kepentingan wisata luar angkasa) dapat menutup kerugian yang terjadi di kuartal terakhir 2019 dan kuratal awal 2020, masing-masing sebesar $73 juta atau Rp 1,1 triliun (kurs 15,432) dan $60 juta atau Rp904 miliar (kurs 15,432).

Leave a Reply