Pemerintah Australia baru saja meluncurkan megaproyek kereta api cepat yang akan menghubungkan kota-kota besar di sepanjang pesisir timur. Kabar ini disambut antusias oleh para petinggi industri perkeretaapian Jepang yang berharap dapat mengekspor teknologi legendaris mereka, Shinkansen, ke Negeri Kanguru.
Proyek ambisius ini akan dimulai dengan tahap pertama yang menghubungkan Sydney dan Newcastle. Jalur sepanjang 190 kilometer ini diprediksi mampu memangkas waktu tempuh secara drastis, dari yang semula lebih dari dua jam menjadi hanya satu jam.
Tahap awal proyek ini diperkirakan menelan biaya sebesar 55 miliar dolar Australia (sekitar Rp560 triliun). Namun, ini barulah permulaan. Rencana jangka panjang pemerintah Australia adalah membangun jalur sepanjang 1.800 kilometer yang menghubungkan Brisbane hingga Melbourne.
Jika terealisasi, ini akan menjadi salah satu jaringan kereta cepat terpanjang di dunia, dan Jepang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadi mitra utamanya. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengonfirmasi bahwa perusahaan-perusahaan Jepang menunjukkan minat yang sangat besar untuk berperan dalam proyek ini.
Keunggulan Teknologi Shinkansen Jepang
Jepang memiliki modal kuat dalam persaingan ini. Berikut adalah beberapa poin utama yang ditawarkan oleh sektor perkeretaapian Jepang kepada Australia:
1. Rekor Keselamatan Sempurna: Shinkansen telah beroperasi selama lebih dari 60 tahun tanpa satu pun insiden besar yang mengakibatkan korban jiwa penumpang.
2. Pengalaman Operasional: Jepang memiliki jam terbang tinggi dalam mengelola sistem kereta api cepat yang padat dan tepat waktu.
3. Keberhasilan di India: Saat ini, Jepang sedang membantu India membangun jalur kereta cepat pertamanya menggunakan teknologi Shinkansen, yang menjadi bukti nyata ekspor teknologi mereka di kancah internasional.
4. Ketua International High-speed Rail Association, Shukuri Masafumi, menyatakan keyakinannya bahwa teknologi Jepang adalah pilihan terbaik bagi Australia. “Saya sangat berharap tim terbaik dari perusahaan-perusahaan Jepang dapat bekerja sama erat dengan mitra lokal Australia yang luar biasa,” ujarnya.
Jadwal Konstruksi
Meski rencana sudah matang, keputusan final pemerintah Australia masih ditunggu. Jika berjalan sesuai rencana, peletakan batu pertama (groundbreaking) ditargetkan dapat dimulai pada tahun 2029.
Proyek ini diharapkan tidak hanya merevolusi mobilitas warga Australia, tetapi juga mempererat hubungan kerja sama ekonomi dan teknologi antara Jepang dan Australia di kawasan Indo-Pasifik.
Jika Berkuasa, Partai Buruh Akan Buka Rute Kereta Berkecepatan Tinggi di Australia
