Pertumbuhan penumpang Commuter Line Kereta Rel Listrik (KRL) khususnya jalur Bogor terlihat selalu meningkat. Hal ini didasari pertumbuhan aktivitas menuju ibukota maupun sebaliknya semakin besar. Sebagai pengguna KRL di jalur tersebut hal tersebut tentu sangat bergantung untuk kelancaran mobilitas masyarakat. Apalagi ditambah waktu yang relatif cepat dan biaya yang murah, masyarakat tentu memilih transportasi KRL.
Terlihat pengguna KRL yang naik maupun turun di Stasiun Bogor juga terlihat antusias. Tak hanya hari biasa (weekdays) yang kerap kali terlihat ramai, namun saat akhir pekan (weekend) juga terlihat ramai dengan masyarakat yang mengisi waktu liburan. Pihak KAI Commuter tentu membuat antisipasi agar penumpang lebih nyaman dalam menggunakan KRL di Stasiun Bogor.
Dari pantauan kabarpenumpang, kondisi Stasiun Bogor terutama pembangunan peron di jalur 6-8 masih terus dikerjakan. Alasan pembangunan tersebut adalah supaya rangkaian KRL bisa masuk jalur tersebut dengan stamformasi 12 kereta (sebelumnya hanya sampai 10 kereta).Penutupan dilakukan selama 90 hari hingga pekerjaan rampung sampai dengan Juli 2026 mendatang.
Progres pembangunan infrastruktur kelistrikan dilaporkan berjalan lebih cepat dibandingkan perluasan area peron. Pemasangan tiang listrik aliran atas kini telah menyentuh angka 80 persen, sementara pengerjaan rel dan peron baru mencapai 31 persen. Kondisi tersebut membuat pihak operator harus merancang skenario khusus demi mengantisipasi kepadatan pengguna di dalam stasiun.
Hingga saat ini, frekuensi perjalanan Commuter Line di Stasiun Bogor mencapai 392 perjalanan per hari pada hari kerja dan 373 perjalanan per hari saat akhir pekan. Tingginya frekuensi perjalanan tersebut menjadikan Stasiun Bogor sebagai salah satu stasiun dengan aktivitas pelanggan paling padat di jaringan Commuter Line Jabodetabek.
Data penumpang menunjukkan tren pertumbuhan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada periode Januari hingga April 2026, volume penumpang yang melakukan gate in di Stasiun Bogor tercatat sebanyak 6.140.074 penumpang, sedangkan gate out mencapai 5.959.832 penumpang.
Tentunya, pengoperasian rangkaian dengan 12 kereta akan memberikan kapasitas angkut yang lebih besar dalam satu perjalanan sehingga distribusi pelanggan dapat menjadi lebih baik, khususnya pada jam sibuk. Dengan kapasitas yang lebih besar dalam satu perjalanan, pelayanan diharapkan menjadi lebih lancar dan pengalaman perjalanan pelanggan semakin nyaman.
Tak hanya perpanjang peron, revitalisasi juga mencakup pembangunan kanopi baru pada area peron jalur 6, 7, dan 8. Kanopi tersebut dirancang terhubung langsung dengan area selasar stasiun guna meningkatkan kenyamanan pelanggan saat menunggu maupun berpindah jalur, terutama saat kondisi hujan dan cuaca panas. Terlihat pula pekerjaan revitalisasi telah memasuki tahap pemasangan ulang tiang Listrik Aliran Atas (LAA) dan konstruksi calon peron baru.
Untuk mendukung kelancaran mobilitas penumpang, disiapkan juga area pedestrian sementara di sisi selasar stasiun serta melakukan rekayasa arus penumpang pada jam sibuk. Penumpang yang menuju Hall Barat dapat diarahkan melalui Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Paledang, sementara sebagian penumpang lainnya diarahkan menuju Hall Taman Topi dan Pintu Timur Stasiun Bogor.
Pengembangan dan perbaikan fasilitas pelayanan terus dilakukan secara bertahap dengan tetap mengutamakan keselamatan perjalanan Commuter Line dan pelanggan. Untuk itu KAI menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan selama proses pembangunan dan mengimbau pengguna menyesuaikan alur keberangkatan serta jadwal perjalanan terbaru. Para pelanggan dimohon agar mengikuti arahan petugas dan memperhatikan rambu yang tersedia.
Atasi Akses Sulit, Pemkot Bogor Usulkan Stasiun Ciomas Disinggahi KRL
