A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing?

0
Airbus A-380

Tidak ada yang bisa memungkiri peran pesawat super-jumbo jet milik perusahaan Eropa, Airbus di sektor aviasi global. Pertama kali diperkenalkan pada 25 Oktober 2007 dengan menggunakan livery Singapore Airlines, pesawart yang bisa menampung hingga 800 penumpang ini terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dari segi kuantitas di hampir seluruh penjuru dunia.

Namun seiring berkembangnya jaman, lambat laun pamor dari pesawat dua dek ini mulai mengalami penurunan – terlebih saat teknologi pesawat narrow body bisa melakoni tugas yang hampir sama atau bahkan menyaingi jet penumpang komersial terbesar yang pernah dibuat ini.

Baca Juga: Setelah Qantas, Emirates Berpotensi Batalkan Pesanan Airbus A380

Ya, dalam beberapa waktu ke belakang, Qantas Airways memutuskan untuk membatalkan pemesanan delapan armada A380, yang disusul oleh potensi pembatalan armada serupa dari pengguna terbesarnya, Emirates. Tentu saja, dengan pembatalan dan wacana pembatalan yang dilayangkan oleh dua maskapai tersebut, maka ini semakin memukul telak pihak Airbus untuk menghentikan produksi dari armada yang pertama kali mengudara pada 27 April 2005 ini.

“Benda-benda ini dilahirkan untuk mati,” ujar Richard Aboulafia, analis kedirgantaraan dari perusahaan riset pasar, Teal Group, dikutip KabarPenumpang.com dari laman providencejournal.com.

“Pada saat hal ini (kebangkitan era pesawat narrow body) terjadi, era kejayaan pesawat berbadan besar jelaslah hanya akan menjadi bagian dari sejarah,” tandasnya.

Pada saat awal peluncurannya, Airbus dengan A380-nya jelas hadir untuk menggeser dominasi Boeing di sektor pesawat berbadan besar selama puluhan tahun. Tapi jalan dan visi misi yang dijalankan oleh Airbus tidaklah melulu sejalan dengan Boeing dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi produksi dari A380.

Jika Airbus dengan A380-nya sudah jelas mengincar kapasitas penumpang dengan jumlah besar dan menghubungkan penerbangan melalui hub yang kaya akan koneksi. Namun visi tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dilihat oleh Boeing, dimana mereka lebih memilih untuk menyediakan pesawat berbadan kecil (narrow body), menerbangkan penumpang point-to-point, dan menggunakan bandara kecil. Dan terbukti, Boeing lebih jeli dalam melihat problematika di sektor aviasi global.

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

Sebagaimana yang sudah pernah disinggung pada artikel sebelumnya, kendati ‘punah’ sekalipun namun nama Airbus A380 tetaplah fenomenal dan akan selalu dikenang oleh para pelaku usaha kedirgantaraan dan para pengamat serta para pecinta sektor aviasi global.

Leave a Reply