Antara Wanita ‘Baik’ dan Budaya Seksis Oknum Pengemudi Uber

Siapa di antara Anda yang sering menggunakan jasa ride-hailing seperti GoJek atau Grab? Bagi Anda yang kebetulan berjenis kelamin wanita dan sering menggunakan jasa Go-Car atau Grab Car, nampaknya Anda harus lebih memperhatikan sikap yang Anda lakukan terhadap pengemudi layanan tersebut, jangan sampai nasib Anda berakhir seperti seorang pengguna setia layanan ride-hailing asal San Francisco, Uber, dimana ia mendapatkan rating yang jelek sebagai penumpang hanya karena sikapnya saja.

Baca Juga: Ride-Sharing, Upaya Uber Untuk Lebih Mengerti “Perasaan” Pengguna

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman smh.com.au, wanita yang identitasnya enggan dibongkar ini bercerita bahwa dirinya mendapatkan rating buruk hanya karena dirinya mengakhiri pembicaraan dengan si pengemudi.

Kejadian ini berawal ketika si penumpang wanita menggunakan jasa Uber untuk pergi ke suatu tempat. Ketika dirinya masuk ke dalam mobil, si pengemudi dengan ramah menyapa dan menyelipkan pernyataan yang sedikit ambigu.

“Saya suka dengan parfum Anda,” ujar si pengemudi.

Padahal, kala itu si penumpang wanita ini tidak menggunakan parfum apapun. Menanggapi pernyataan si pengemudi, penumpang ini hanya melontarkan senyum dan berterima kasih atas pernyataan ambigu tersebut sebelum akhirnya ia mengeluarkan ponsel dan mengecek email yang masuk.

Kepada media, penumpang ini mengatakan bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang tidak terlalu senang jika dipuji, dan, “itu (pernyataan si pengemudi) bukanlah komentar yang berbahaya atau buruk, namun itu membuat saya merasa tidak terlalu nyaman dan sejak saat itu, saya lebih memilih untuk mengakhiri pembicaraan dengan si pengemudi,”

Namun seketika ia memilih untuk mengakhiri pembicaraan dengan si pengemudi, pikiran bahwa dirinya akan mendapatkan rating rendah dari pengemudi begitu saja melintas.

Setelah membagikan keluh kesahnya yang ia alami di media sosial, ternyata ada banyak penumpang wanita lain yang pernah mengalami hal yang sama – kendati tidak sama persis. Hingga pada akhirnya mereka berkesimpulan bahwa rating mereka sebagai penumpang itu dipengaruhi oleh jenis kelamin mereka.

Para penumpang wanita yang mendeklamirkan diri mereka sebagai wanita baik ini merasa apa yang mereka lakukan ini sangat mempengaruhi rating mereka – terlebih kondisi ini didukung oleh mayoritas pengemudi Uber itu berjenis kelamin pria.

Bahkan, seorang direktur kreatif dalam periklanan dan panelis reguler di Gruen Transfer yang bernama Dee Madigan pernah mengalami hal serupa, dimana ia berusaha untuk bersikap defensif ketika pengemudi Uber yang kala itu ia tumpangi melontarkan gombalan-gombalan yang membuatnya tidak nyaman.

Baca Juga: Uber Berlakukan Sistem Denda Bagi Penumpang yang Terlambat

“Saya pernah mengalami saat-saat dimana diantar oleh pengemudi genit, dan itu membuat saya tidak nyaman. Anda tidak hanya berada di mobil bersama dia (pengemudi), tapi tidak sedikit dari mereka yang tahu di mana Anda tinggal. Jika saya merasa tidak nyaman saya akan menutup pembicaraan dan kemudian saya ‘ditandai’,” ujar Dee.

Tindakan seksis yang kerap dilakukan oleh pengemudi Uber ini sontak mendapat kecaman dari berbagai pihak dan bukan tidak mungkin jika hal semacam ini akan merugikan perusahaan.