Ada Jalur Penerbangan Palsu ke Pulau Jawa Sebelum MH370 Hilang di Samudera Hindia

0
Info grafis laporan penemuan titik pencarian terbaru. Foto: Istimewa

Pulau Jawa, Sabang, Pantai Sumatra, Banda Aceh, dan Lhokseumawe tercatut dalam sebuah penelitian terbaru terkait misteri hilangnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines MH370 pada 8 Maret 2014. Kelimanya diduga dilibatkan secara tidak langsung oleh pilot Zaharie Ahmad Shah untuk membuat jalur palsu, sebelum mengarah ke Selatan setelah dirasa aman.

Baca juga: Update Misteri Hilangnya MH370, Ahli Sebut Pesawat Jatuh Gegara Kehabisan Bahan Bakar!

Belum lama ini, seorang insinyur penerbangan, Richard Godfrey, yang juga salah satu anggota Kelompok Ilmuwan Independen, mengungkapkan fakta-fakta terbaru atas hilangnya MH370. Temuan tersebut didasarkan pada terknologi terbaru untuk melacak pergerakan pesawat.

Teknologi itu didasari pada data pencarian jejak pesawat secara global dengan menggunakan sinyal radio lemah yang ada di seluruh bumi, dikenal dengan istilah WSPR, yang dikembangkan oleh Pemenang Nobel Fisika, Prof. Joe Taylor pada tahun 2008 lalu. Godfrey mengembangkan software khusus yang disebut GDTAAA (Deteksi Global dan Melacak Pesawat di Mana Saja Kapan Saja) untuk membaca data dari WSPR.

Dia mengatakan pesawat apapun – baik itu komersial, militer atau pribadi – akan mengaktifkan apa yang disebut ‘gelombang elektronik perjalanan’ ketika pesawat itu melintas gelombang tersebut. Data dari gelombang tersebut kemudian bisa digunakan untuk melacak keberadaan pesawat.

Dalam makalah terbaru Richard Godfrey yang dimuat airlineratings.com, disebutkan, pilot pesawat MH370 coba menghindari jalur resmi dengan beberapa kali mengubah kecepatan dan jalur penerbangan. Pilot juga diduga mengetahui jam-jam operasional radar di Sabang dan Lhokseumawe sehingga berhasil melenggang bebas di udara tanpa terdeteksi.

Sekalipun terdeteksi, pilot kemungkinan akan mengelabui petugas dengan jalur penerbangan palsu ke sejumlah tujuan, seperti Kepulauan Andaman, Afrika Selatan, dan Pulau Jawa (Jakarta), Kolombo, Melbourne, dan Kepulauan Cocos.

“Pilot MH370 pada umumnya mencoba menghindari jalur resmi mulai jam 18:00, dan menggunakan jalur tidak resmi di Selat Malaka, di sekitar Sumatra dan melintas Lautan India. Jalur ini mengikuti pesisir pantai Sumatra dan terbang dekat dengan Bandara Banda Aceh,” tulis Godfrey.

“Pilot tampaknya memiliki pengetahuan mengenai jam beroperasinya radar di Sabang dan Lhokseumawe dan di malam di akhir pekan, dimana situasi internasional tidak genting sama sekali, radar tidak akan berfungsi sama sekali,” lanjutnya.

Setelah berhasil melewati radar, mengelabui petugas, dan membuat beberapa jalur penerbangan palsu, pilot pesawat MH370, yang hampir dipastikan dalam keadaan sadar dan aktif, dilihat dari perubahan jalur dan kecepatan, pesawat akhirnya diterbangkan menuju Selatan.

Sayangnya, pilot hanya mempedulikan manuver pesawat untuk menghindari deteksi radar dan membuat jalur penerbangan palsu serta perubahan kecepatan ketimbang fokus pada kemampuan bahan bakar. Karenanya, pesawat diduga kehabisan bahan bakar dan jatuh ke laut di Samudera Hindia.

Baca juga: Wartawan Klaim MH370 Jatuh Ditembak Senjata Laser! AS Terlibat

Tetapi, analisis lebih rinci untuk menentukan posisi penerbangan terakhir akan segera dilakukan. Ada tiga cara untuk menetukannya, termasuk data satelit, analisis serpihan MH370, dan analisis data WSPR.

Bila ketiganya menyajikan data yang sama atau tak jauh berbeda, besar kemungkinan akan menuntun pada kesimpulan yang sama. Celakanya, proses pencarian bawah air selama ini oleh banyak pihak, seperti Fugro dan Ocean Infinity tidak didasarkan hal itu.

Leave a Reply