Ada Penumpang Sakit di Pesawat? Hubungi Awak Kabin dan Jangan Langsung Panik Tertular

0
ilustrasi penumpang sakit menggunakan masker di pesawat

Merebaknya virus corona atau Covid-19 saat ini di seluruh dunia, membuat banyak masyarakat semakin resah. Bahkan dalam perjalanan menggunakan pesawat pun penumpang ikut resah apalagi jika ada penumpang lain yang bersin, batuk ataupun flu.

Baca juga: Sering Sakit Saat Turun Pesawat? Mungkin Ini Penyebabnya!

Namun nyatanya Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit atau Centers for Disease Control and Prevention (CDC) saat ini menempatkan risiko tertular Covid-19 di pesawat dalam kategori rendah. Hal ini karena sifat udara di pesawat yang bersirkulasi dan disaring.

Meski begitu, pelancong harus mengambil tindakan pencegahan kesehatan yang mungkin dan menjaga jarak sosial dari siapapun yang menunjukkan gejala penyakit pernapasan. KabarPenumpang.com melansir laman foxnews.com (16/3/2020), ketika berada satu pesawat dengan penumpang yang sakit, Anda harus sadar bahwa pemerintah federal dan CDC memiliki protokol untuk industri penerbangan jika terjadi kejadian seperti itu.

Sehingga jika penumpang diketahui sakit dalam penerbangan internasional, peraturan federal mewajibkan awak pesawat untuk melaporkan penumpang tersebut ke CDC sebelum tiba di Amerika Serikat. Setelah itu, CDC akan menjelaskan jika penumpang lain tertular dalam penerbangan, maka pejabat kesehatan bisa melakukan investigasi kontak untuk membantu mengidentifikasi serta menjangkau siapapun yang pernah melakukan kontak dengan penumpang sakit selama perjalanan.

“Kadang-kadang CDC diberitahu tentang seorang musafir yang sakit ketika pesawat masih mengudara atau tidak lama setelah pesawat mendarat. Namun, dalam kebanyakan kasus, CDC diberitahukan ketika seorang pelancong yang sakit mencari perawatan di fasilitas medis,” jelas agen CDC.

CDC kemudian akan bertanggung jawab dalam mengoordinasikan penyelidikan antara agen-agen federal dan maskapai penerbangan untuk menentukan di mana dan seberapa luas orang ini bepergian. Jika penumpang dianggap menularkan penyakit, penyelidik berkonsultasi dengan maskapai penerbangan untuk manifes penerbangan dan menentukan siapa yang mungkin telah melakukan kontak dengan orang yang sakit.

Dalam hal ini, pejabat kesehatan membuat zona kontak dari bagan tempat duduk dan mengidentifikasi penumpang yang mungkin terpapar. Setelah itu akan melakukan pemeriksaan kesehatan dan menguraikan langkah lanjutan.

“Zona kontak” di pesawat, bagaimanapun, tidak selalu terbatas pada area di sekitar penumpang yang terinfeksi. CDC mengatakan setiap teman seperjalanan, terlepas dari di mana mereka duduk, dianggap sebagai bagian dari “zona kontak”. Anak-anak di bawah 2 tahun, yang duduk di pangkuan wali mereka, juga dianggap sebagai bagian dari zona kontak saat menyelidiki kasus campak atau rubella.

Tetapi sekali lagi, CDC masih belajar tentang virus corona dan bagaimana penyebarannya, sehingga siapa pun yang berhubungan dekat dengan penumpang maskapai lain harus mengambil setiap tindakan pencegahan. Misalnya, pelancong harus menghindari menyentuh mata, hidung atau mulut setelah bersentuhan dengan permukaan yang berpotensi kuman, dan mereka harus sering mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik.

Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara

TSA juga memungkinkan penumpang untuk membawa pembersih tangan berbasis alkohol dalam barang bawaan jika kontainernya berukuran kurang dari 3,4 ons. Selain itu CDC menyarankan Anda memantau kesehatan Anda selama dua minggu setelah kembali dari perjalanan. Jika Anda mulai merasa sakit dengan “demam, batuk atau kesulitan bernapas,” tinggal di rumah dan hubungi dokter untuk melaporkan gejala.

Leave a Reply