Adakah Kaitan Antara Pecahnya Perang Diponegoro dengan Pembangunan Jalur Kereta di Jawa?

Momen penangkapan Pangeran Dipongeoro. (Sumber: historia.id)

Salah satu nama pahlawan kelahiran Yogyakarta ini hampir tidak pernah absen dari setiap jalanan di kota-kota besar yang ada di Tanah Air. Pangeran Diponegoro, Putra sulung dari Sultan Hamengkubowono III ini berdedikasi besar terhadap perang yang terjadi di Jawa pada tahun 1825 hingga 1830. Dan diantara sejarah hidupnya, ternyata debut pahlawan kelahiran 11 November 1785 ini tak bisa dikesampingkan dari sejarah pembangunan jalur kereta pertama di Pulau Jawa.

Baca Juga: Jalur Kereta Terpendek di Dunia, Ternyata ada di Vatikan

Kendati salah satu faktor utama pecahnya Perang Diponegoro adalah karena campur tangan pihak Belanda di dalam Keraton Yogyakarta, yang kala itu baru saja terjadi pergantian kekuasaan dari Sri Sultan Hamengkubuwono III ke Sri Sultan Hamengkubuwono V, namun tidak sedikit literasi yang juga menyebutkan bahwa pembangunan jalur kereta api menjadi faktor yang menyulut pecahnya perang yang juga dikenal dengan nama Perang Jawa ini.

Mengutip dari buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk Kelas V Sekolah Dasar terbitan Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional 2008, karangan Endang Susilaningsih dan Linda S Limbong, dituliskan bahwa kekecewaan Pangeran Diponegoro memuncak ketika Patih Danuredjo (wali Raja Hamengkubuwono IV yang kala itu masih berumur 10 tahun) atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak (patok) untuk membuat rel kereta api melewati makam leluhur dari Pangeran Diponegoro.

Apabila paham pemasangan patok oleh Belanda untuk pembangunan jalur kereta api di Indonesia ini terjadi di awal tahun 1825 ini menjadi salah satu faktor penyebab pecahnya Perang Diponegoro, maka dapat di tarik benang merahnya bahwa ada persaingan yang cukup sengit antara Belanda dan Inggris. Pasalnya, masih di era yang sama (tahun 1825), pihak Inggris telah terlebih dahulu mengembangkan dan meluncurkan lokomotif uap pertama mereka yang tidak hanya mampu mengangkut logistik (batu bara dan lain-lain) saja, melainkan juga dengan penumpang.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Stockton and Darlington Railway merupakan perusahaan kereta api partama yang melayani publik dengan menggunakan lokomotif uap. 27 September 1825 merupakan tanggal peluncuran dari rangkaian kereta yang digagas oleh George Stephenson.

Menghubungkan Darlington dan Stockton, kala itu George Stephenson berhasil mengemudikan lokomotif uapnya dengan ‘muatan’ 450 penumpang – kecepatannya pun masih sangat pelan berkisar 24 km per jam saja. Kereta yang dikemudikan oleh George Stephenson tersebut memboyong 28 gerbong, dimana 21 gerbong diisi oleh penumpang, sedangkan sisanya diisi oleh batu bara.

Ya, pada era tersebut, baik Belanda maupun Inggris serta sejumlah negara penjajah lainnya memang terkesan saling pamer dan unjuk kebolehan siapa negara yang paling kuat dan paling maju dalam ekspansi kolonial. Ada kemungkinan pihak Belanda menggunakan tanah Jawa sebagai lahan mereka untuk ‘uji coba’ apakah jaringan perkeretaapian yang mereka bangun dapat berjalan sempurna – sebelum akhirnya diterapkan di tanah mereka sendiri.

Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda

Hipotesa ini ditunjang oleh pembangunan trem pertama yang ternyata bukan di Belanda, melainkan di Jakarta. Batavia Electrische Tram Maatschappij (BETM) yang mengoperasikan trem listrik di Jakarta pertama kali menjalankan kereta ini pada April 1899, sedangkan pihak Belanda baru mengoperasikan trem listrik pertamanya pada Juli 1899. Kendati hanya berselang tiga bulan saja, tapi tetap saja Indonesialah yang terlebih dahulu mengoperasikan trem listrik ketimbang Belanda.

Jadi, kembali lagi ke topik awal, apakah pemasangan patok untuk pembangunan jalur kereta api di tanah Jawa menjadi salah satu faktor pecahnya Perang Diponegoro?