AIIB: Transportasi Publik Harus Pertimbangkan ‘Dampak’ Sosio-Ekonomi di Daerah Terkait

MTR Hong Kong. Sumber: KKday Blog

Selain harga minyak bumi, bisakah Anda sebutkan faktor eksternal yang membawa dampak pada laju pertumbuhan sarana transportasi berbasis massal? Ya, ledakan jumlah populasi ternyata memegang peranan penting terhadap kelangsungan pertumbuhan dari sarana transportasi berbasis massal tersebut. Dengan ragam caranya – termasuk urbanisasi, hadirnya angkutan berbasis massal akan memungkinkan operator terkait untuk memobilisasi penumpang dalam jumlah yang banyak dalam sekali perjalanan.

Baca Juga: Menhub Targetkan Integrasi Transportasi Massal di Jakarta Pada 2023 – 2024

Sampai sini, masih tidak ada masalah yang cukup berarti. Namun ketika ditelisik lebih dalam di sektor pembayarannya, tidak sedikit orang yang enggan menggunakan angkutan tersebut dengan dilatarbelakangi oleh masalah ongkos yang terbilang cukup mahal di kocek mereka. Ketika angkutan berbasis massal tersebut sudah disiapkan pemerintah, namun ternyata harga perjalanan yang ditawarkan tidaklah ‘membumi’, maka tujuan utama pemerintah dalam menghadirkan moda tersebut bisa dibilang gagal.

Berdasarkan lansiran KabarPenumpang.com dari laman govinsider.asia (21/8/2018), data World Bank pada tahun 2017 menyebutkan bahwa lebih dari separuh populasi global tinggal di kota-kota besar dan kecil. Dalam dua dekade terakhir, pertumbuhan ini terutama didorong oleh kota-kota di sekitaran Asia dan Afrika. Sudah barang tentu, ledakan populasi di kota-kota besar atau kecil ini telah menghadirkan tantangan tersendiri bagi para perencana kota.

Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk mengakomodasi masalah biaya perjalanan yang tinggi, sedangkan para calon penumpangnya lebih memilih untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi karena dinilai lebih hemat? Menurut Manager Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), Ka Feng, pertimbangan kelayakan ekonomi di awal terhadap suatu moda transportasi merupakan kunci dasar dari keberhasilan operasinya kelak.

Maksudnya seperti ini, sebelum membangun sarana transportasi berbasis massal di suatu daerah, ada baiknya pertimbangan matang soal, “Apakah moda ini kelak memiliki dampak sosio-ekonomi positif bagi daerah yang bersangkutan?”

“Sistem transportasi yang baik memiliki beberapa indikator, seperti mampu mengurangi waktu perjalanan dan meningkatkan konektivitas, berperan serta dalam pertumbuhan ekonomi, meningkatkan harga tanah, dan menyediakan lapangan kerja,” ujar Ka Feng.

Ka Feng mengambil contoh jaringan MTR Hong Kong – dimana harga tiket yang ditawarkan lebih rendah ketimbang moda perkotaan lain di seluruh dunia. Kendati begitu, MTR Corporation Hong Kong merupakan salah satu perusahaan yang membawa dampak positif bagi perekonomian di daerah yang dilayaninya. Bagaimana bisa?

Dengan dukungan dari pemerintah, MTR Hong Kong diijinkan untuk menghasilkan uang dari peningkatan nilai properti yang biasanya mengikuti pembangunan jalur kereta api. Mungkin sederhananya seperti ini, “MTR Hong Kong tidak mendapat keuntungan signifikan dari segi penjualan tiket perjalanan, namun mereka bisa merengkuh keuntungan lebih besar dari peningkatan nilai properti.”

Baca Juga: Tahun 2020, Singapura Hapuskan Transaksi Tunai Pada Transportasi Berbasis Massal

Menanggapi pendekatan seperti ini, Direktur Jenderal Direktorat Kereta Api Norwegia, Kirsti Slotsvik mengatakan bahwa MTR Hong Kong dapat, “mengeluarkan biaya keseluruhan serendah mungkin, namun membawa dampak positif pada keseluruhan proyek (jaringan MTR Hong Kong),”

Selain itu, pertimbangan penentuan biaya perjalanan pun harus lebih dikaji lebih dalam, mengingat para pengguna sarana transportasi berbasis massal ini sangatlah heterogen – tidak hanya pegawai kantoran saja, melainkan orang-orang kurang mampu pun layak dan berhak untuk menikmati fasilitas ini pula. Dari sini, peningkatan pengamanan pun mesti diperketat karena ragam penumpang tersebut. Pada akhirnya, semuanya saling berkaitan.