Airbus A380 Pernah Ingin Dijadikan Air Force One, Batal Gegara Hal Ini

0
A380 Air Force One. Foto: Twitter @ByERussell

Sudah sejak satu dekade lalu, Angkatan Udara AS (USAF) sedang dalam misi mencari pengganti Boeing 747 VC-25A yang dinilai sudah usang untuk terus menjadi Air Force One. Pesawat tersebut lama kelamaan dinilai tak lagi efisien untuk membersamai Presiden Amerika Serikat (POTUS).

Baca juga: Air Force One Kini Dibuat Replika untuk Edukasi Publik

Di samping itu, Queen of the Skies juga disebut agak rumit untuk dirawat. Di antara beberapa kandidat, Airbus A380 termasuk di dalamnya. Namun, apa mau dikata, pesawat komersial terbesar di dunia itu batal dijadikan Air Force One karena satu dan lain hal.

Dilansir Simpel Flying, dalam sebuah artikel lansiran Flight Global tahun 2007, Komando Mobilitas Udara (AMC) Amerika Serikat sedang mempelajari kemungkinan datangnya Air Force One baru. Disebutkan agensi tersebut meminta detail informasi tiga jet Airbus, A340-600, A330-200 dan A380, sebagai bagian dari apa yang disebut survei “Rekapitalisasi Pesawat Besar VIP”.

Selang dua tahun kemudian, dari ketiga kandidat tersebut, Airbus A380 rupanya jadi pesawat yang paling berpeluang besar untuk dijadikan Air Force One. Laporan Guardian, Airbus sedang mempersiapkan konsep A380 Air Force One untuk disesuaikan dengan spesifikasi USAF dan selera POTUS yang kala itu dijabat oleh Barack Obama.

Dibanding Boeing 747-200, A380 Air Force One dinilai jauh lebih irit bahan bakar dan menawarkan kemewahan berkat kabin luas nan megah.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, alih-alih menjadikan A380 sebagai Air Force One, USAF dan AMC malah balik ke pilihan lama dengan varian baru, Boeing 747-8; yang nantinya akan diberi sandi VC-25B saat menjalani tugas sebagai Air Force One. Pesawat ini dinilai jauh lebih efisien ketimbang Boeing 747-200 atau VC-25A.

Sebagai mana alasan maskapai global mulai meninggalkan A380, batalnya pesawat jet superjumbo itu menjadi Air Force One juga didasari oleh alasan yang sama; tidak efektif dan efisien. A380 dinilai terlalu besar untuk memenuhi kebutuhan POTUS. Lagi pula, A380 tentu lebih unggul bila dibandingkan dengan Boeing 747-200 yang sudah usang. Namun, ketika Boeing 747-8 muncul, tentu A380 bukan lagi pilihan terbaik karena lebih boros 15 persen dibanding Queen of the Skies.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Selain itu, dimensi pesawat yang super besar juga menyulitkan bandara-bandara yang akan didarati A380 Air Force One. Tentu itu bukan pilihan menarik untuk pesawat VVIP.

Alasan lain di luar paparan di atas, tentu karena Airbus buatan Eropa, semangat nasionalisme pada akhirnya mendorong para pemangku kebijakan untuk tak pindah ke lain hati alias tetap menggunakan pesawat Boeing, melengkapi kendaraan POTUS di darat bersama Cadillac yang notabene juga buatan AS, layaknya Boeing.

Leave a Reply