Airbus Rugi Rp7,7 Triliun di Kuartal I 2020, CEO: Ini Masih Permulaan

0
Pabrik Airbus di Getafe, Spanyol. Foto: airbus.com

Pada Rabu lalu, Airbus melaporkan hanya membukukan pendapatan sebesar 10,6 miliar euro pada kuartal I 2020. Bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu, pendapatan raksasa produsen pesawat dunia tersebut terkoreksi sebesar 15 persen atau telah merugi sebesar US$515 juta (Rp7,7 triliun – kurs 15,239).

Baca juga: Airbus ‘Berdarah-darah,’ Karyawan Diminta Bersiap Kemungkinan Terburuk

Hal itu pun memaksa perusahaan setidaknya telah mem-PHK sebanyak 3.000 karyawan di Perancis, 3.200 karyawan lainnya di UK dipaksa cuti tanpa dibayar, dan ribuan karyawan lainnya di Jerman menanti giliran untuk di-PHK atau dipaksa cuti tanpa dibayar, serta mencari pinjaman miliaran euro. Celakanya, menurut CEO Airbus, Guillaume Faury, bencana yang belum pernah dialami sebelumnya ini bukanlah akhir, melainkan baru permulaan.

Selain itu, saat virus corona pada akhirnya sirna dari muka bumi, pria 52 tahun yang mulai menjabat sebagai CEO Airbus sejak April 2019 tersebut menegaskan, butuh waktu yang lama untuk membujuk kembali pelanggan agar mau bepergian menggunakan pesawat. Menariknya, berapa lamanya itu ia tidak dapat memprediksi.

“Kami berada dalam krisis paling parah yang pernah dialami industri dirgantara. Sekarang kita perlu bekerja sebagai industri untuk mengembalikan kepercayaan penumpang dalam perjalanan udara saat kita belajar untuk hidup berdampingan dengan wabah ini,” ujarnya, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari talkingpointsmemo.com.

CEO berkebangsaan Perancis itu juga menyebut bahwa saham Airbus sejauh ini sudah turun sebesar 60 persen. Faktor terbesar yang melatarbelakangi anjloknya saham adalah kegagalan perusahaan mendapatkan dana talangan dari pemerintah hingga membuat likuiditas melorot. Pada akhirnya, lemahnya likuiditas keuangan dan defisit uang tunai membuat Airbus harus merelakan 60 rencana pengembangan bisnis di kuartal I. Hal itulah yang kemudian mengurangi kepercayaan investor terhadap bisnis Airbus saat ini.

Melihat situasi yang berkembang saat ini, Faury juga menduga, kuartal II 2020 tampaknya tak akan jauh berbeda. Sama- sama suram. Itu berarti, akan ada beberapa langkah efisiensi berkelanjutan yang sudah mulai dilakoni, seperti pengurangan gaji, pengurangan karyawan, memangkas produksi hingga sepertiga, membatalkan rencana menambah jalur perakitan untuk A321 di Toulouse, dan memperlambat proses pengembangan jet terbaru A220. Tak lupa, tentu saja Airbus juga harus mencari pinjaman lain dalam jumlah besar untuk keberlangsungan bisnis.

Baca juga: Awas, Hindari Keramaian! Studi Terbaru Mendukung Gagasan Virus Corona Menular Lewat Airborne

Sebelumnya, CEO Airbus, Guillaume Faury juga telah memperingatkan karyawannya bahwa keuangan perusahaan tengah ‘berdarah-darah’. Hal itu disebabkan oleh anjloknya industri penerbangan, dimana, mayoritas keuangan maskapai di seluruh dunia tengah defisit dan hanya memikirkan cara untuk bertahan hidup, tidak untuk membeli pesawat baru. Oleh karenanya, produsen pesawat asal Eropa tersebut harus melakukan upaya efisiensi sambil melakukan sejumlah evaluasi prospek bisnis jangka panjang.

“Kami menggelontorkan uang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dapat mengancam keberadaan perusahaan kami. Kami sekarang harus bertindak segera untuk mengurangi arus pengeluaran kas, mengembalikan keseimbangan keuangan, dan pada akhirnya, untuk mendapatkan kembali kendali atas nasib kita,” kata Faury dalam sebuah rilis

Leave a Reply