Begini Kisah Pilot dalam Penerbangan 9 Hari Keliling Dunia Non Stop! Sempat Mau Mati Gegara Dehidrasi

0
Dick Rutan dan Jeana Yeager (Foto: Istimewa)

The Rutan Model 76 Voyager berhasil mencetak sejarah sebagai pesawat pertama di dunia yang berhasil terbang keliling dunia non-stop selama sembilan hari tanpa mendarat. Kepastian itu didapat setelah Voyager mendarat dengan selamat di Edwards Air Force Base (Edwards AFB) -tempat yang sama untuk pesawat lepas landas tanggal 14 Desember 1986- pada 23 Desember 1986.

Baca juga: Inilah Rutan Model 76 Voyager, Pesawat Pertama yang Keliling Dunia Tanpa Mengisi Bahan Bakar

Mendengar pesawat terbang sembilan hari keliling dunia tanpa mendarat, tentu akan ada banyak insan yang heran dibuatnya. Pertanyaan yang paling mungkin adalah, bagaimana pilot dan co-pilot buang air kecil atau besar? Bagaimana minum dan makannya? Bagaimana tidurnya? Bagaimana dengan oksigennya? Serta sederet pertanyaan lainnya, baik menyangkut pilot dan co-pilot atau pesawat itu sendiri.

Dilansir historynet.com, penerbangan keliling dunia selama sembilan hari non-stop tanpa mendarat pertama di dunia itu sejak awal sudah nyaris gagal. Penyebabnya, desain pesawat yang terlalu lebar dan berat (karena memuat bahan bakar seberat 3 ton lebih di dalam 17 tangki) membuat proses lepas landas sangat berisiko. Singkatnya, pesawat berhasil lepas landas persis 243 meter sebelum ujung runway.

The Rutan Model 76 Voyager jadi pesawat pertama di dunia yang berhasil terbang keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar. Pesawat buatan Rutan Aircraft Factory itu total melahap penerbangan selama 9 hari, 3 menit, dan 44 detik sejauh 42.212 km. Foto: National Air and Space Museum – Smithsonian Institution

Satu jam setelah lepas landas, di atas Pasifik, Jeana, yang memiliki ratusan jam terbang melihat keluar jendela dan mengatakan bahwa sayapnya yang panjang itu seperti hendak mengepak alias patah.

Disebutkan, selama tiga hari di pesawat, pilot mulai merasa kesehatannya berkurang. Dick mengaku sakit di sekujur badan. Sedangkan Jeana lehernya kaku. Di sini, tak disebutkan dengan jelas bagaimana mereka buang air besar atau kecil. Yang jelas, untuk mengatasi kurang tidur dan menjaga pesawat aman selama penerbangan, Dick lebih sering tidur siang dan Jeana tidur malam.

Usai melewati Hawaii, Dick dan Jeana diingatkan oleh ahli meteorologi di Mojave, California, AS, soal adanya badai besar di depan mereka. Sebagai informasi, keduanya memang terhubung dengan pusat control (mission control) di Mojave, dimana para ahli di bidang meteorologi, komunikasi, dan instrumentation and control engineering, standby selama penerbangan berlangsung. Singkatnya, pesawat berhasil melewati badai tersebut.

Seiring The Voyager terbang dari Pasifik menuju Afrika, para ahli mengaku khawatir akan kebocoran tangki bahan bakar dan kerusakan pada wingtip. Hal itu diperburuk dengan kesehatan kedua pilot, dimana dick merasa perutnya sangat sakit dan ia hanya bisa menangis. Di momen ini, sempat ada opsi untuk mendarat darurat sekalipun akhirnya urung dilakukan.

The Rutan Model 76 Voyager kemudian mulai memasuki Somalia dan Kenya bagian barat untuk terbang naik turun melewati gunung dan awan cumulonimbus. Di sini, misi terancam gagal.

Dick dan Jeana mengaku hampir mau mati karena dehidrasi dan hipoksia. Sudah begitu, keduanya lama tak mengirup oksigen 100 persen. Dick mulai berhalusinasi. Kepalanya migrain, jantungnya berdebar, perut sakit, mual, dan akhirnya muntah. Jeana masih bisa mengontrol dirinya dan mengambil alih pesawat. Dick tidur dengan lutut menempel di dada, digelapnya malam tanpa bintang di Afrika.

Akan tetapi, Jeana lupa membangunkan Dick saat di Kamerun dan pesawat nyaris menabrak gunung. Sempat terjadi cekcok antar keduanya di dalam kokpit yang sempit. Tetapi, keduanya kemudian saling berpelukan dan menangis haru usai Voyager melewati Afrika. Selangkah lagi untuk sampai ke Amerika Serikat (AS), dalam hal ini California.

Baca juga: Hari ini, 101 Tahun Lalu, Penerbangan Terjauh di Dunia Inggris-Australia Dimulai! Sempat Mampir di Batavia dan Surabaya

Voyager kemudian melewati Atlantik Selatan, pesisir Brazil, utara Venezuela, Panama, dan memasuki Kosta Rika, Nikaragua, Guatemala, Meksiko, dan AS, menuju California. Selama penerbangan itu, pesawat berkali-kali menghadapi badai, tepatnya di Panama, Brazil, dan Kosta Rika. Pesawat mulai lebih enteng. Bahan bakar terus menipis. Pesawat akhirnya mendarat dengan hanya menyisakan sedikit sekali bahan bakar.

Tinta emas sejarah pun mencatat akan pesawat pertama keliling dunia non stop tanpa mendarat, diikuti oleh setidaknya delapan penghargaan kepada pilot dan co-pilot.

LEAVE A REPLY