Gegara Wajibkan Tes PCR dan Rapid Antigen, Wisatawan ke Bali Kompak Refund Tiket! Di Thailand Justru Diserbu

0
Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, merupakan salah satu bandara yang dikelola oleh AP 1. Foto: Istimewa

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali resmi mewajibkan tes PCR dan rapid antigen ke para pengunjung atau wisatawan sebagai syarat masuk ke Pulau Dewata. Aturan itu berlaku pada 18 Desember 2020 – 4 Januari 2021. Dirasa memberatkan, calon pengunjung yang telah membeli paket wisata ke Bali pun ramai-ramai melakukan pembatalan tiket (refund).

Baca juga: Qatar Airways Tuntaskan Refund Tiket Senilai US$1,2 Miliar

Dalam sebuah webinar Rabu lalu, Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menyebut, pembatalan tiket perjalanan ke Bali oleh calon pengunjung jumlahnya mencapai 133 ribu tiket atau setara Rp317 miliar.

Meski gelombang pembatalan tiket pengunjung ke Bali masih mungkin terus terjadi dan pastinya akan merugikan banyak pihak, Gubernur Bali, I Wayan Koster, kepada wartawan, mengaku aturan tes swab atau rapid test antigen -terkadang disebut juga dengan swab antigen- dan tes PCR untuk wisawatan tak bisa ditawar.

Akan tetapi, anehnya, kebijakan serupa di Thailand tak berdampak apapun. Justru sebaliknya, dinilai bakal diserbu wisatawan. Dilansir travelweekly-asia.com, Thailand, yang selama ini tertutup dari wisatawan asing akibat pandemi Covid-19, belum lama ini mulai membuka diri dari dunia luar meski dengan berbagai syarat. Syarat tersebut mencakup tes PCR dan atau rapid antigen serta karantina mandiri 14 hari untuk wisatawan.

Dalam paket perjalanan wisata asal Inggris, Chic Locations, bekerjasama denganTourism Authority of Thailand (TAT) London dan Thai Airways International, setelah melalui karantina mandiri selama 14 hari dan tentu saja dengan hasil rapid antigen dan atau tes PCR negatif, wisatawan dapat menghabiskan waktu di Negeri Gajah Putih itu maksimal selama 60 malam atau dua bulan, di bawah aturan visa khusus wisatawan.

Kebijakan tersebut tentu tak berlaku untuk wisatawan atau turis yang memiliki waktu berlibur sempit. Sebaliknya, bagi wisatawan dengan waktu berlibur panjang, kebijakan itu dinilai masih belum ada apa-apanya dibanding menikmati musim dingin menusuk tulang selama beberapa pekan di Eropa Utara, Amerika Utara, AS, atau wilayah-wilayah lainnya yang memiliki suhu dingin ekstrem.

Baca juga: Akses Menuju Bandara Soekarno-Hatta Macet Total, Tiga Maskapai Beri Kompensasi Pada Penumpang

Direktur Chic Locations David Kevan mengungkapkan, “Jelas ide tersebut mungkin tidak menarik bagi semua orang mengingat lamanya tinggal tetapi setidaknya itu menunjukkan bahwa Thailand terbuka, meskipun dengan cara yang terbatas. Dan saya pikir kami mungkin akan terkejut betapa banyak klien yang ingin melarikan diri dari musim dingin yang keras di Eropa Utara dan melakukan penguncian abu-abu untuk hibernasi sinar matahari.”

Ia menambahkan, Thailand menjadi pilihan utama wisatawan mancanegara untuk menikmati matahari tropis, bersaing dengan Karibia dan Maladewa. Dengan adanya visa khusus turis di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, diharapkan negara itu bisa menjadi pilihan berlibur wisatawan untuk merayakan natal dan pergantian tahun. Disebutkan, ada lebih dari 400 paket perjalanan ke Thailand dengan visa itu, mencakup mulai dari kedatangan sampai kepulangan.

LEAVE A REPLY