Begini Proses Sertifikasi Pesawat Baru, Panjang dan Mahal

0
Tes ketahanan struktur pesawat Airbus A350. Foto: Airbus

Sebelum dioperasikan oleh maskapai di seluruh dunia, pesawat harus melewati sertifikasi terlebih dahulu. Mengingat tahapan ini amatlah penting dan menentukan kelaikan sebuah pesawat, prosesnya sangat panjang dan mahal.

Baca juga: Inilah Lima Rangkaian Tes Ekstrem untuk Pastikan Pesawat Aman

Menengok ke belakang, sertifikasi pesawat pertama kali dilakukan di Inggris pada tahun 1919. Saat itu, aturan sertifikasi pesawat dikeluarkan oleh Sekretaris Negara Bagian Udara, Winston Churchill, dengan sebutan Air Navigation Regulations.

Secara umum, proses sertifikasi pesawat dimulai dari segi desain dan struktur badan pesawat terlebih dahulu. Keduanya diuji di simulator untuk alasan efisiensi. Bila lolos, tim akan mengujinya langsung di udara. Di antara serangkaian proses atau tahapan sertifikasi pesawat baru, inilah yang termahal dan memakan waktu terpanjang. Sebab, desain dan struktur badan pesawat biasanya memakan biaya pengembangan yang juga sangat mahal dan menentukan kesuksesan pesawat baru.

Pada proses sertifikasi, produsen biasanya akan menyediakan prototipe pesawat lebih dari satu. Sebagai contoh, saat proses sertifikasi pesawat A380 dan A350 oleh Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), Airbus setidaknya menyediakan lima prototipe pesawat, dimana masing-masing prototipe mempunyai perbedaan di beberapa bagian. Baik A380 dan A350, keduanya menjalani proses sertifikasi selama kurang lebih 14 bulan dan melewati hingga 2.600 jam terbang.

Dilansir Simple Flying, pasca diuji di simulator dan sebelum diuji di udara, struktur badan pesawat dites dengan beragam cara, seperti uji tekanan dengan alat khusus ke badan pesawat dan sayap untuk melihat tingkat ketahanan keduanya, tes wing loading, deflection, serta fungsi aileron dan spoiler selama tes wing loading, uji fatigue, dan simulasi siklus penerbangan.

Pada tahap simulasi siklus penerbangan, pesawat akan disimulasikan terbang menggunakan alat khusus dengan muatan penuh hingga dua kali lipat dari kemampuannya atau dari jumlah penerbangan yang mungkin akan dijajaki pesawat. Pada sertifikasi A380, misalnya, pesawat komersial terbesar di dunia ini telah dilakukan 47.500 siklus penerbangan atau 2,5 kali lipat jumlah penerbangan total pesawat itu selama 25 tahun.

Setelah serangkaian proses tes sturuktur badan pesawat dan berbagai tes lainnya di darat tuntas, pesawat mulai melakukan rangkaian tes panjang di udara. Pada tahap ini, pesawat akan dilihat general handling dan kinerja serta kemampuannya saat diuji dalam kondisi ekstrem, seperti cuaca dingin, panas, ketinggian, serta angin kencang.

Tempat yang digunakan pun sudah langganan. Untuk tes cuaca dingin, wilayah di Kanada Utara menjadi andalan. Begitupun juga dengan Timur Tengah, La Paz (Bolivia), dan Islandia, yang menjadi lokasi andalan tes penerbangan untuk kondisi cuaca panas, tes di dataran tinggi, dan angin kencang.

Baca juga: Bagaimana Perawatan Mesin Pesawat Dilakukan? Ini Jawabannya

Di masing-masing wilayah itu, berbagai sistem akan coba dioperasikan, seperti autopilot, tes ketahanan air untuk menguji bahwa air tidak masuk ke dalam pesawat, tes flutter untuk mengukur getaran agar tidak terjadi kerusakan struktural, lepas landas dengan kecepatan rendah, uji pengereman dengan pembatalan take off, serta uji jejak karbon pesawat atau tes kadar karbon pesawat.

Andai pun pesawat mampu melalui semua tes di atas dengan hasil sangat memuaskan, pesawat memang akan diizinkan melayani penerbangan komersial, namun, performanya tetap akan dipantau penuh untuk melakukan peninjauan kembali kelaikan pesawat. Selain itu, jika ada perubahan struktural atau komponen avionik, pesawat juga mesti disertifikasi ulang untuk memastikan semuanya aman.

Leave a Reply