Bocorkan Data Penumpang, Awak Kabin Maskapai Israel Bakal Dibui Lima Tahun

0
Ilustrasi awak kabin maskapai Israel (paddleyourownkanoo.com)

Data penumpang merupakan hal yang paling penting bagi maskapai sehingga tidak bisa sembarang untuk disebarkan. Namun bagaimana jika data penumpang bocor dan yang menjualnya adalah orang dalam maskapai untuk kepentingan pribadi? Pastinya akan ada sanksi dari maskapai dan juga dari pihak petugas keamanan jika maskapai melaporkan hal tersebut.

Baca juga: Data Manifes Penumpang Bocor, Begini Penjelasan Lion Air Group

Seperti yang terjadi pada maskapai Israel yang mana awak kabin seniornya menghadapi kemungkinan dipenjara hingga lima tahun. Hal ini karena awak kabin yang sudah lama melayani di maskapai yang tidak disebutkan namanya tersebut dituduh membocorkan data penumpang yang sensitif dan menjual akses ke sistem komputer penerbangan rahasia.

KabarPenumpang.com melansir laman paddleyourownkanoo.com (7/6/2020), masalah ini kemudian ditangani oleh pasukan pertahanan Israel atau The Israeli Defence Forces (IDF) dan Badan Perlindungan Privasi Israel. Mereka mengumumkan rincian penyelidikan pada Minggu (7/6/2020) setelah kekhawatiran pertama kali dilaporkan ke pihak berwenang oleh maskapai tempat awak kabin tersebut bekerja.

IDF mengatakan, awak kabin tersebut membocorkan data pribadi penumpang bukan hanya sekali tetapi sudah bertahun-tahun. Data penumpang tersebut yang disebarkan mencakup informasi medis, status keanggotaan penumpang, detail paspor, alamat rumah dan penumpang VIP yang sangat dihormati maskapai.

Pertama kali tuduhan dilaporkan, tidak disebutkan nama maskapai yang terlibat. Namun IDF mengkonfirmasi bahwa maskapai yang melaporkan tindakan awak kabinnya itu adalah milik Israel. Maskapai nasional Israel yakni El Al menjadi maskapai terbesar di Israel, tetapi negara itu juga memiliki maskapai kecil yang termasuk Israir dan Arkia.

Setelah dilakukan penyelidikan, Badan Perlindungan Privasi menemukan bahwa awak kabin menjual rincian login mereka ke sistem komputer maskapai penerbangan jarak jauh. Awak kabin tersebut memberikan kebebasan kepada penjahat yang terlibat untuk mengakses informasi apa pun yang ingin mereka lihat atau ketahui.

“Basis data yang dikelola oleh entitas swasta seperti bisnis dan perusahaan juga mengandung informasi yang paling sensitif dan pribadi,” jelas juru bicara Badan Perlindungan Privasi.

Baca juga: Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

Juru bicara itu mengatakan memberikan akses ke informasi ini kepada orang yang tidak berwenang dapat dihukum hingga lima tahun penjara. Kasus ini telah diserahkan ke Departemen Cyber ​​Kantor Kejaksaan Negeri untuk ditinjau dan kemungkinan penuntutan.

Leave a Reply