Gegara Corona, Maskapai El Al Gunakan Pesawat Penumpang Kosong untuk Keperluan Kargo

0
Boeing 787 Dreamliner El Al saat baru tiba di Ben Gurion International Airport. Foto: AMIR COHEN/REUTERS

Maskapai El Al dilaporkan telah menawarkan pesawat penumpang kosong untuk penggunaan kargo. Hal itu dikarenakan maskapai asal Israel tersebut telah mengalami penurunan jumlah penumpang besar-besaran sejak wabah virus corona atau Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan belakangan ini.

Baca juga: Last Flight, Boeing 747-458 El Al Airlines Lukis Penampakan Indah di Udara

Dikutip dari jpost.com, Senin, (16/3), maskapai menawarkan armada Boeing 787 Dreamliner-nya untuk keperluan kargo tersebut. Selain itu, maskapai juga menawarkan armada lainnya yang lebih besar, Boeing 777. Hanya saja, tarifnya lebih mahal dibanding ‘pesawat kargo’ Boeing 787 Dreamliner. Rencananya, maskapai akan memberlakukan model bisnis seperti itu hingga beberapa waktu mendatang sampai waktu yang belum dapat dipastikan.

Dalam pengaplikasiannya, maskapai tersebut menawarkan lima hingga 10 pesawatnya untuk mendukung model bisnis tersebut, khususnya barang-barang berupa bahan mentah dan barang-barang lainnya yang urgent dibutuhkan oleh orang banyak, seperti obat-obatan dan bahan-bahan pelindung lainnya (masker dan sejenisnya).

Terkait tarif, pihak maskapai mengaku bahwa cara penghitungan (tarifnya) sama dengan ketika kondisi pesawat penuh. Seumpama, Boeing 787 Dreamliner yang mampu mengangkut sekitar 20 ribu ton kargo komersial, perusahaan yang ingin menggunakan layanan tersebut hanya perlu membayar seharga 340 penumpang. Tentu saja lebih murah bila dibanding kapasitas kargo itu sendiri (dibandingkan total berat 340 orang dengan kapasitas maksimal 20 ribu ton kargo).

Hanya saja, karena metode penghitungannya yang membuat kargo jadi lebih murah, pelanggan yang memakai jasa tersebut harus membayar untuk perjalanan pulang-pergi, sekalipun pesawat tak mengangkut muatan apapun sepulang dari bandara tujuan.

Manajer Divisi Kargo El Al, Ronen Shapira, mengatakan kepada surat kabar terbesar di Israel, Yedioth Ahronoth, bahwa hal tersebut dilakukan sehubungan dengan menurunnya jumlah penumpang di seluruh dunia dan di saat yang bersamaan, permintaan penerbangan kargo justru mengalami peningkatan. Maka dari itu, tak heran, bila maskapai sampai harus menambah jumlah operasional pesawat kargo, selain pesawat penumpang yang juga dioperasikan untuk keperluan kargo.

Meski demikian, maskapai tidak terlalu berharap banyak dari lonjakan permintaan tersebut (kargo). Terlebih untuk membantu laju keuangan perusahaan kembali ke kondisi sedia kala. Ronen mengaku, bahwa sekalipun mengalami lonjakan tajam, kargo tidak berdampak terlalu signifikan, mengingat, layanan kargo rata-rata berkontribusi sekitar delapan persen terhadap pendapatan keseluruhan El Al.

Baca juga: Lima Bulan Koma Pasca Terjangkit Campak, Pramugari El Al Israel Airlines Hembuskan Nafas Terakhir

Virus corona belakangan memang sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi industri penerbangan global. International Air Transport Association (IATA) atau Asosiasi Transportasi Udara Internasional sendiri memperkirakan, jika krisis virus corona sama dengan wabah SARS pada awal 2000-an silam hal itu sangat mungkin akan menyebabkan hilangnya pendapatan (profit loss) maskapai global tahun ini sebesar Rp417 triliun atau turun sekitar 4,7 persen sepanjang tahun 2020.

Bila itu terjadi, tentu saja ekosistem bisnis di dunia aviasi juga akan kena imbasnya. Terlebih, IATA memperkirakan, dampak tersebut (profit loss) sebagian besar akan terkonsentrasi di beberapa maskapai di kawasan Asia-Pasifik.

Leave a Reply