Boeing 747 Qantas Terbang dengan Lima Mesin dan Tetap Stabil, Ini Rahasianya!

0
Ilustrasi pesawat diregistrasi. Foto: Roo Tales

Di antara ratusan maskapai di dunia, Qantas tercatat menjadi masakapai yang paling sering menerbangankan pesawat dengan lima mesin. Alasan di balik hal itu sangat simpel, terkait erat dengan efisiensi.

Baca juga: Boeing 707 Milik Qantas Pernah Terbang dengan Lima Mesin!

Penerbangan perdana Qantas dengan lima mesin terjadi pada akhir Juni tahun 1959. Setelah armada pertama Boeing 707 diterima pada 7 Juni 1959, maskapai pertama di luar Amerika Serikat yang menjadikan Boeing 707 sebagai armadanya ini tak lantas menerbangkan pesawat tersebut.

Kala itu, Qantas masih menunggu kesiapan tim teknik untuk menyematkan mesin kelima yang menempel di sayap bagian kiri. Setelah dua pekan, barulah pesawat siap diterbangkan dengan lima mesin untuk memulai tahun layanan.

Setelah Boeing 707, giliran armada Boeing 747 Qantas yang diterbangkan dengan lima mesin. Bedanya, jika Boeing 707 Qantas terbang dengan lima mesin untuk tujuan safety, dimana satu mesin lainnya diplot sebagai mesin pengganti bila mana suatu waktu mesin mengalami kerusakan, maka, Queen of the Skies Qantas terbang dengan lima mesin untuk memberi dukungan pada pesawat Qantas lainnya yang tengah bermasalah pada mesin.

Simple Flying mengabarkan, meskipun sempat menjadi kontroversi, pesawat Qantas rute Sydney-Johanesburg bernomor penerbangan QF63 akhirnya tetap terbang dengan lima mesin pada 2016 lalu.

Hal itu dilakukan Qantas untuk mempersingkat waktu pengiriman. Pasalnya, bila mesin dikirim via laut, mungkin akan memakan waktu lama. Kemudian, teknik penempatan mesin di sayap juga didorong oleh dimensi pesawat itu sendiri. Boeing 747 tidak cukup besar untuk memuat mesin pesawat. Itulah sebabnya mesin diletakkan di sayap.

Menurut Qantas, Boeing 747 memungkinkan untuk dipasangi satu mesin tambahan di kedua sayapnya. Pemasangan itu pun tidak memengaruhi kondisi pesawat. Hanya saja teknik ini memang jarang digunakan. Namun bagi Qantas, teknik tersebut rasanya sudah begitu melekat, mengingat pada tahun 1959 dan 2011 silam maskapai nasional Australia itu sudah pernah melakoninya.

Secara matematis, bobot mesin Rolls-Royce RB211 yang mencapai enam ton seharusnya bakal menambah beban di bagian kiri pesawat, tempat mesin tambahan berada. Hal itu pulalah yang menjadi dasar kekhawatiran para penumpang dalam penerbangan QF63 Qantas rute Sydney-Johanesburg.

Baca juga: Mengenal GE9X Boeing 777X, Mesin Pesawat Terkuat di Dunia

Namun, hal itu dibantah oleh maskapai. Menurut Qantas, meskipun bobot mesin kelima mencapai enam ton dan berpotensi menganggu keseimbangan, namun, letaknya yang sangat dekat dengan badan pesawat membuatnya tetap seimbang, mirip tengan konsep pesawat trijet dimana mesin ketiga menempel di bagian tengah belakang pesawat.

Sebab, dengan penempatan di dekat badan pesawat, beban mesin seolah bergabung dengan beban badan pesawat sebagai pusat gravitasi. Dengan begitu, pesawat bisa tetap seimbang meskipun dengan mengeluarkan tenaga ekstra -karena tambahan mesin kelima tadi- yang pada akhirnya membuat penggunaan bahan bakar menjadi lebih boros dari biasanya.

Leave a Reply