Boeing Rayu Maskapai Agar Beli Ratusan 737 MAX yang Batal Terjual

0
Deretan Boeing 737 MAX yang 'nanggur' akibat larangan terbang. Foto: (Mike Siegel / The Seattle Times)

Raksasa produsen pesawat global, Boeing, dilaporkan tengah merayu maskapai agar mau membeli 737 MAX yang batal terjual. Salah satu maskapai yang tengah dipepet Boeing saat ini ialah Delta Airlines. Sayangnya, baik Boeing maupun Delta Airlines tak mau memberikan komentar apapun terkait hal ini.

Baca juga: Gegara 737 MAX, Regulator Penerbangan Sipil Cina Mulai Rusak Hegemoni FAA

Boeing 737 MAX diketahui sudah satu setengah tahun lamanya digrounded. Hal itu lantaran berbagai persoalan terus-menerus muncul saat proses perbaikan tengah dikebut.

Akhir tahun 2019 lalu, Boeing 737 MAX diketahui memiliki masalah pada salah satu kabel di dalam sistem kendali pesawat. Masalah tersebut disinyalir sangat berpotensi membuat korsleting listrik. Kemudian, pada pertengahan Januari 2020, MAX kembali bermasalah pada bagian software.

Menurut sebuah laporan, masalah ini dapat mempengaruhi kemampuan pesawat untuk memverifikasi bahwa sistemnya siap untuk penerbangan. Rencana untuk kembali terbang sesegera mungkin pun kembali tersendat.

Selang sebulan kemudian, tepatnya sekitar tanggal 20 Februari 2020, Boeing 737 MAX kembali dirundung masalah. Kala itu, masalah muncul setelah temuan “Serpihan Obyek Asing” (Foreign Object Debris – FOD) yang tertinggal di dalam tangki bahan bakar yang berada di sayap pada beberapa 737 MAX yang belum dikirim ke pembelinya.

Lama tak terdengar, MAX justru dilaporkan kembali bermasalah. Di tanggal 9 April 2020, dalam sebuah pernyataan, raksasa dirgantara dunia tersebut mengakui bahwa pihaknya menemukan sebuah masalah pada sistem software MAX.

Boeing menguraikan bahwa satu masalah terkait pada “kesalahan hipotesa” dalam mikroprosesor flight control computer yang berpotensi menyebabkan stabilizer tidak berfungsi dengan baik. Horizontal stabilizer di bagian ekor pesawat sejatinya dapat bergerak ke atas dan ke bawah sebagai peredam gerak aktif atau stabilisator. Bila fungsi tersebut hilang karena loss control, hal itu bisa saja berakibat fatal.

Adapun masalah kedua yang ditemukan Boeing saat itu lebih mengarah pada fitur autopilot. Fitur ini ditemukan kerap aktif dengan sendirinya saat pilot sedang melakukan final approach. Tentu saja aktifnya fitur secara tiba-tiba dapat menggangu konsentrasi pilot dalam menguasai pesawat secara keseluruhan.

Setelah melalui proses perbaikan panjang, Boeing 737 MAX akhirnya kembali mengudara. Awal Juli kemarin, pesawat dengan penjualan tercepat dalam sejarah Boeing berhasil melahap penerbangan 10 jam untuk menjalani proses sertifikasi ulang. Bila tak ada badai menghadang, 737 MAX diperkirakan bisa kembali mengangkut penumpang di seluruh dunia mulai akhir tahun ini.

Belum lama ini, menurut laporan Reuters, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, Boeing bergerak cepat untuk bisa menjual sekitar 450 737 MAX yang mangkrak di gudang akibat batal terjual.

Sebelumnya, pesawat-pesawat tersebut merupakan bagian dari 4.700 unit pesanan dari sekitar 100 pelanggan di seluruh dunia. Namun, dua kecelakaan beruntun mengubah segalanya. Satu per satu maskapai mundur dan pesawat yang sudah kadung diproduksi pun menjadi tak bertuan.

Baca juga: Setelah Jalani Total Terbang 10 Jam, Proses Sertifikasi Ulang Boeing 737 MAX Dihentikan

Pengakuan dari dua sumber Reuters, Delta Airlines dikabarkan hampir menyepakati opsi pembelian 40 Boeing 737 MAX yang ditinggalkan pembelinya. Tak hanya itu, beberapa maskapai lain juga tengah diseret Boeing agar mau mengikuti jejak Delta. Sekalipun tak ada laporan spesifik maskapai mana saja selain Delta, kuat diduga, maskapai-maskapai tersebut berasal dari AS.

Sebab, bukan perakara mudah untuk mengangkut penumpang menggunakan pesawat tersebut sekalipun sudah disertifikasi ulang. Butuh usaha lebih untuk meyakinkan kembali penumpang bahwa pesawat tersebut aman. Tentu, maskapai tak cukup waktu untuk melakukan hal itu, kecuali maskapai-maskapai dalam negeri AS, yang memiliki ‘tanggung jawab’ moral untuk membantu Boeing.

Leave a Reply