Bukan Cuma Corona, Krisis Minyak Tahun 1973 Juga Bikin Industri Penerbangan Global Rugi Besar

0
Boeing 757. Foto: YouTube

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) menyebut pandemi Covid-19 mengancam kelangsungan industri transportasi. Selain itu, IATA juga memperingatkan bahwa 2020 akan menjadi tahun “terburuk” sepanjang masa bagi industri tersebut.

Baca juga: Dassault Mercure, Sang Penantang Boeing 737 dan Airbus A320 yang Terjegal Krisis Minyak

Peringatan tersebut tentu bukan tanpa dasar. Sebelumnya, asosiasi yang membawahi 290 maskapai penerbangan di 120 negara itu memprediksi, maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Namun, bila melihat jauh ke belakang, rupanya industri penerbangan global juga pernah kalang kabut di medio 70an. Bukan akibat pandemi virus layaknya Covid-19, melainkan akibat krisis minyak dunia.

Krisis minyak pertama kali dimulai pada Oktober 1973 setelah anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Arab (OAPEC) memproklamasikan embargo minyak. Sejurus kemudian, harga minyak naik 400 persen. Padahal, sumbangan harga avtur dalam harga tiket pesawat mencapai 30 persen. Tak terbayang bukan lonjakan harga tiket yang disebabkan hal itu.

Selain itu, sebagaimana dikutip dari Simple Flying, bila pun masyarakat masih sanggup membeli tiket, maskapai tak bisa bebas terbang kemanapun. ICAO menyarankan agar maskapai menghemat untuk menjaga pasokan bahwa bakar. Dalam sekali terbang, pesawat memang membutuhkan banyak bahan bakar.

Boeing 747, misalnya, menghabiskan sekitar empat liter per detik, atau 240 liter per menit, dan 14.400 liter per jam. Dengan jangkauan terbang cukup jauh dengan durasi penerbangan rata-rata lima jam, terbayang bukan berapa liter bahan bakar yang harus diisi? Terlebih, harus ada perhitungan lebih oleh pilot ketika merencanakan penerbangan. Itu berarti, bahan bakar yang diisi, dalam kasus di atas, bukan berarti 14.400 x 5, melainkan bisa lebih dari itu.

Laporan The New York Times, ketika krisis minyak global pada medio 70an semakin parah, penerbangan di dunia dispesifikasi. Hanya penerbangan dengan rute gemuk sajalah yang boleh terbang. Di luar itu, maskapai tak boleh terbang.

Selain itu, pesawat-pesawat dengan mesin boros juga digrounded. Sebagai gantinya, hanya pesawat dengan tingkat konsumsi bahan bakar tertentu yang boleh mengudara. Di samping itu, produsen mesin juga didorong untuk menciptakan mesin baru yang lebih efisien sebagai antitesa dari embargo minyak oleh OAPEC.

Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Boeing 757 Terbang Perdana Saat Berkecamuk Krisis Minyak Global

Gal Luft dari Institute for the Analysis of Global security menekankan bahwa pesawat yang dibuat pada pergantian abad ke era millenium 70 persen lebih hemat bahan bakar daripada tiga dekade sebelumnya. Pasar mampu meningkatkan efisiensi bahan bakarnya sekitar 1 persen setahun selama tiga dekade sejak tahun 1970-an. Angka ini berarti penghematan sekitar 80.000 galon bahan bakar untuk setiap pesawat setiap tahun.

Meskipun berhasil menyesuaikan diri, krisis minyak global tetap saja memicu kerugian besar di industri penerbangan global, sekalipun memang tak sebesar kerugian akibat virus Corona.