Dassault Mercure, Sang Penantang Boeing 737 dan Airbus A320 yang Terjegal Krisis Minyak

0
Dassault Mercure Air Inter, yang dinilai sebagai salah satu pesawat komersial dengan penjualan terburuk di dunia. Foto: Wikiwand.com

Bicara soal dunia penerbangan Perancis pasti mau tak mau akan melibatkan Airbus. Padahal, jauh sebelum Airbus berdiri, pabrikan pesawat lainnya asal Perancis, Dassault Aviation, sudah lebih dahulu ada dan menjadi salah satu wakil Eropa untuk menjegal produsen pesawat asal Negeri Paman Sam Amerika Serikat, seperti Boeing dan McDonnell Douglas.

Baca juga: Intip Prosedur Cabin Cleaning Pesawat Ala GMF Cegah Covid-19 di Pesawat

Didirikan pada tahun 1929, pabrikan pesawat yang berbasis di Paris ini fokus memproduksi pesawat di berbagai kategori, mulai dari militer, jet regional, jet bisnis, hingga pesawat jet. Khusus pesawat sipil, di samping Dassault Falcon 20, Dassault Aviation juga punya pesawat andalan lainnya yang dinilai bakal laris di pasaran. Pesawat itu adalah Dassault Mercure.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Dassault Mercure merupakan pesawat jet sayap rendah (low wing) bermesin kembar. Meskipun baru diproduksi massal pada tahun 1973, namun, usulan untuk membuat pesawat seperti itu sudah dimulai pada tahun 1967. Kala itu, pendiri Dassault Aviation, Marcel Dassault, dan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Prancis (DGAC) melihat belum ada pesawat yang khusus melayani penerbangan regional point-to-point atau low distance.

Setelah dilakukan kajian serta dengan dukungan dari banyak pihak, Dassault Mercure akhirnya mulai mengudara untuk pertama kalinya pada 28 May 1971. Melihat perkembangan Dassault Mercure, pabrikan pun sesumbar bahwa pesawat andalannya itu akan menjadi pengganti McDonnell Douglas DC-9.

Selain itu, pabrikan juga mengklaim Dassault Mercure akan menjadi kompetitor sepadan Boeing 737 versi awal yang saat itu sedang menikmati masa kejayaannya karena minim pesaing, mengingat Airbus, lewat narrowbody andalannya, A320, baru lahir pada 1988.

Selang beberapa waktu setelah penerbangan perdana, Dassault Aviation mengaku banyak dapat pesan positif dari maskapai. Namun, pada akhirnya, hanya satu maskapai -itupun maskapai dalam negeri- Air Inter yang memesan Dassault Mercure. Air Inter pada akhirnya juga menjadi satu-satunya maskapai yang mengoperasikan pesawat.

Krisis minyak tahun 1970-an serta devaluasi dolar disebut sebagai biang keladi sepinya peminat yang pada akhirnya menyeret Dassault Mercure sebagai salah satu pesawat komersial dengan penjualan terburuk di dunia, yakni hanya sebanyak 12 unit selama kurang lebih 24 tahun. Tak ayal, dengan kondisi tersebut, pabrikan pun menyetop produksi Dassault Mercure pada 1975 hingga akhirnya resmi pensiun pada 29 April 1995.

Sebelum menyetop produksi, pada tahun 1973, Marcel Dassault, terlebih dahulu meminta timnya untuk membuat versi baru Dassault Mercure, Mercure 200C, dengan menggandeng sejumlah pihak, dalam dan luar negeri. Hal itu dimaksudkan untuk membalas kekecewaan atas kegagalan Dassault Mercure 100.

Baca juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini

Dilihat dari kemampuan, sebetulnya pesawat gagal Dassault Mercure cukup mentereng. Dibekali mesin Pratt & Whitney JT8D-15 turbofans, pesawat dengan panjang 34,84 meter, tinggi 11,35 meter, serta bentang sayap 30,55 meter ini mampu mengangkut sebanyak 150 penumpang, dengan tiga kru; pilot, co-pilot, dan flight engineer. Maklum, waktu itu, regulator penerbangan dunia rata-rata belum menerapkan aturan Two-Men Cockpit yang dicanangkang Direktur Utama Garuda Indonesia Wiweko Soepono.

Selain itu, kecepatan maksimum pesawat juga tergolong tinggi, mencapai 925 km per jam. Hanya saja, dari segi daya jelajah yang hanya mencapai 1.756 km serta ketinggian maksimum di ketinggian 12.000 meter, Dassault Mercure masih berada di bawah level Boeing 737 apalagi Airbus A320.

Leave a Reply