Selaraskan Layanan, Mulai Tahun Depan Singapore Airlines Garap Rute Silk Air

0
Setelah 30 tahun lebih beroperasi, Silk Air akhirnya bakal merger dengan Singapore Airlines mulai tahun depan. Foto: executivetraveller.com

Mulai tahun depan, maskapai terbaik dunia tahun lalu versi SkyTrax, Singapore Airlines (SIA), dikabarkan mulai menggarap rute-rute Silk Air, yang notabene adalah anak perusahaan Singapore Airlines. Hal itu merupakan bagian dari skema merger Silk Air dengan SIA dalam waktu dekat.

Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?

Menurut CEO Singapore Airlines, Goh Choon Phong, strategi ini berdampak sangat signifikan bagi konsumen. Mereka bisa merasakan produk dan layanan yang selaras, baik di penerbangan jarak pendek, medium, atau jarak jauh.

Hal itu dikarenakan SIA telah berinvestasi lebih dari 100 juta dollar AS untuk program penyesuaian produk dan layanan, seperti kursi rebah (flatbed) yang baru di kelas bisnis, pemasangan sistem in-flight entertainment (IFE) di semua kursi, serta meningkatkan penggunaan pengalaman penumpang dengan kursi Vantage Thompson Aero dari semula kursi conventional recliners (traditional recliners) atau akrab juga disebut kursi malas.

Dengan begitu, penumpang dapat tetap merasakan kualitas premium khas Singapore Airlines sekalipun dalam rute-rute pendek (regional) menggunakan Boeing 737-NG. Selama ini, SIA memang dikenal fokus pada penerbangan menengah dan jarak jauh dengan pesawat-pesawat widebody andalan, seperti Airbus A380, Airbus A350, Boeing 777, Boeing 787-10 Dreamliner.

Hanya saja, untuk fasilitas flatbed dan IFE, penumpang masih harus bersabar karena harus mengikuti perkembangan industri penerbangan ke depan, mengingat saat ini, kursi kelas bisnis belum banyak diminati karena berbagai faktor, mulai dari perekonomian dunia yang tengah loyo, rendahnya perjalanan bisnis akibat tren baru meeting via daring, hingga kekhawatiran masyarakat terhadap pandemi Covid-19 yang masih terus menghantui.

Di samping itu, pasokan logistik yang masih tersendat akibat perlambatan ekonomi global juga turut andil.

Dari segi iklim bisnis perusahaan, dengan adanya merger ini, SIA akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan pandemi Covid-19 untuk tetap terus bertahan di industri penerbangan global.

Selain itu, juru bicara maskapai mengatakan penggabungan atau integrasi SilkAir-SIA dapat “memberikan skala ekonomi yang lebih besar untuk SIA Group, dan memungkinkannya untuk mengoperasikan pesawat yang tepat untuk memenuhi permintaan perjalanan udara saat waktunya tiba,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari executivetraveller.com.

Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir

Penguatan keuangan perusahaan memang penting dilakukan anak (Silk Air) dan induk perusahaan (SIA) mengingat keduanya sama-sama mencetak hasil minus di kuartal II 2020. Dalam sebuah pernyataan, Singapore Airlines mengaku rugi sebesar $1 miliar, cukup besar dibanding Silk Air yang hanya terkoreksi 0,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Saat ini, Silk Air mengoperasikan 11 pesawat Airbus A320, 22 Boeing 737-800 dan 737 MAX 8. Saat ini Silk Air juga sedang dalam masa transisi, menjadi seluruhnya pesawat tipe 737. Silk Air diketahui memiliki 49 destinasi penerbangan di 16 negara.

Leave a Reply