Covid-19 Belum Usai, AirAsia Kian Terpuruk! Hanya Terbang 19 Persen dari Kapasitas

0
Pendaratan perdana AirAsia dari Kuala Lumpur ke Silangit (The Star)

AirAsia Group masih belum bisa bangkit dari krisis. Laporan terbaru, grup maskapai asal Malaysia itu disebut hanya menerbangkan sekitar 19 persen atau sekitar 2.000 penerbangan dalam sepekan, jauh dibanding periode yang sama di 2019 lalu, mencapai 10.800 penerbangan sepekan.

Baca juga: Digugat Leasing Pesawat Rp340 Miliar dan Rugi Rp3,1 Triliun, AirAsia Diambang Kebangkrutan?

Dalam kondisi normal, Malaysia biasanya menjadi pundi-pundi uang andalan AirAsia. Tetapi, di masa pandemi virus Corona ini, kondisinya jauh berbalik. AirAsia Malaysia saat ini berada jauh di belakang AirAsia India, Thai AirAsia, AirAsia Indonesia, dan AirAsia Filipina.

Lockdown ketat di seantero Malaysia disebut menjadi biang keroknya. Jangankan untuk rute internasional, rute domestik saja sudah jatuh ke jurang terdalam. Saat ini, satu-satunya rute AirAsia Malaysia yang masih beroperasi adalah rute Kuala Lumpur – Kota Kinabalu yang notabene terpisah lautan. Itupun juga tidak sembarang orang yang bisa terbang.

Karenanya, manajer senior perencanaan jaringan AirAsia, Andreu Parés Prat, mengaku AirAsia Malaysia ataupun AirAsia Group pada umumnya, fokus ke rute-rute domestik dalam beberapa waktu ke depan dibanding internasional. Itu dipercaya bisa lebih mudah dicapai ketimbang mengejar rute internasional ke level sebelum pandemi.

“Sayangnya, kami mengalami lonjakan besar kasus (Covid-19) di Malaysia. Saat ini, negara ini cukup banyak dilockdown sehingga perjalanan sangat terbatas dan hanya untuk tujuan penting. Saya akan mengatakan bahwa saat ini kami berada di salah satu level terendah yang pernah kami lihat. Tapi mudah-mudahan, semua ini segera berlalu,” jelasnya.

“Sebagian besar kami fokus pada domestik; internasional untuk Malaysia sangat minim saat ini. Itu karena penerbangan internasional masih dilarang dan negara-negara tujuana juga hampir sepenuhnya dilockdown,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Di Thailand, AirAsia juga tak bisa berbuat banyak lantaran kebijakan ketat ditambah kasus Covid-19 yang masih tinggi. Demikian juga dengan di Indonesia, India, dan Filipina. Hanya saja, untuk di Filipina, kondisinya sudah berangsur membaik di beberapa wilayah dan terjadi peningkatan penerbangan. Tetapi, tetap saja masih jauh dari level di tahun 2019.

Meski begitu, Parés Prat mengaku yakin bahwa AirAsia Group bisa melalui tahun tersulit sepanjang sejarah perusahaan berdiri ini.

Baca juga: AirAsia X Vs Scoot Vs Jetstar, Siapa yang Terbaik?

Pada waktunya tiba, dimana herd immunity atau kekebalan komunal sudah terbentuk dimana-mana di seluruh dunia, negara-negara sudah mulai membuka perbatasan, tidak ada lagi karantina mandiri untuk wisatawan, dan roda perekonomian berputar kencang, AirAsia bisa dengan cepat mengambil peluang tersebut.

“Di seluruh jaringan, ketika tidak ada pembatasan, kami dapat meningkatkan dengan sangat cepat di pasar domestik; kami sangat reaktif untuk itu. Dan sesegera mungkin, kami mengerahkan kapasitas dan kami benar-benar melihat faktor muatan dan tarif yang baik,” tutupnya.