Dalam Kondisi Berkabut, Penggunaan ILS Bukan Jaminan Penerbangan Bakal Lebih Efisien

Sumber: bbc.com

Bencana kabut asap yang belakangan ini tengah ramai diperbincangkan tentu membawa dampaknya tersendiri. Selain membuat kesehatan warganya menjadi terganggu, ternyata kehadiran asap-asap hasil pembakaran hutan secara masif ini juga membawa imbas terhadap dunia transportasi. Sebut saja di sektor dirgantara yang turut terdampak – jarak pandang yang terbatas menjadi salah satu kunci dari dibatalkannya puluhan penerbangan di daerah Sumatera dan Kalimantan.

Baca Juga: Terkait Kabut Asap, Inilah Tiga Pedoman Bagi Pilot untuk Tetap atau Batal Terbang

Jika ditimbang lebih jauh, ternyata bencana seperti kabut asap ini tidak hanya mengganggu ketika pesawat tengah berada di udara saja, melainkan ketika tengah di darat pun, sejumlah aktivitas yang seharusnya dijalankan secara normal juga jadi ikut dipertimbangkan. Tarik mundur ke tahun 2015 silam, tepatnya pada akhir tahun, dimana di Tanah Britania diterpa kabut tebal yang menyebabkan kelumpuhan pada sektor kedirgantaraannya.

Mengutip dari laman bbc.com, penerbangan kala itu banyak yang mengalami penundaan dan ratusan hingga ribuan penumpang terpaksa mengatur ulang jadwal penerbangan mereka – tidak sedikit juga yang memilih untuk membatalkannya. Di tengah era yang sudah serba canggih dan modern, mengapa pesawat masih bisa terdampak kabut asap atau bencana lain yang menurunkan visibilitas pilot dalam bertugas? Bukankah teknologi jaman sekarang sudah dilengkapi dengan sistem radar canggih, dimana pilot tidak melulu harus berpatokan pada apa yang dilihatnya melalui kaca depan pesawat?

Sebagai informasi, bandara-bandara di Inggris baru akan memberlakukan prosedur khusus ketika jarak pandang berada di bawah angka 600 meter.

Pada era penerbangan modern seperti sekarang ini, hampir semua pesawat penumpang dilengkapi dengan Instrument Landing System (ILS), dimana teknologi ini akan ‘membimbing’ para pilot untuk mendekati bandara dengan bantuan sinyal radio. Penggunaan ILS ini juga berfungsi ketika pesawat hendak tinggal landas.

National Air Traffic Services bandara Heathrow, Jon Proudlove mengatakan bahwa instrumen ini memiliki sejumlah syarat yang harus dipenuhi agar dapat beroperasi secara optimal, salah satunya adalah, “kondisi landas pacu harus benar-benar jelas,”

“Secanggih-canggihnya alat bantu pendaratan dan tinggal landas tersebut, namum tetap saja masalah utamanya terletak di darat,” ungkap

Jon menjelaskan bahwa jika kondisinya sedang normal, maka proses taxi dari sebuah pesawat di Heathrow akan mengandalkan pilot dan arahan dari petugas ATC. Namun ketika kondisinya tidak memungkinkan seperti halnya sedang tertutup kabut, maka pilot akan menggunakan teknologi ILS untuk membantunya bermanuver selama berada di darat.

Baca Juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut

“Tapi taxi dengan menggunakan ILS sebenarnya malah memperlambat proses,” terang Jon.

Walhasil, karena lambatnya proses taxi dari sebuah pesawat akan berdampak pada penundaan keberangkatan dari pesawat lainnya.

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa secanggih-canggihnya teknologi yang akan membantu suatu pekerjaan, maka akan tetap lebih aman dan tepat jika pengoperasiannya dilakukan oleh tenaga manusia – bukan bertumpu semuanya pada teknologi.