Ternyata! Stasiun Juwana Dulu Disebut Orang Belanda “Joana”

0
Stasiun Juana yang kala itu disebut Joana

Stasiun Juwana berada di kelurahan Doropayung, kecamatan Juwana, kabupaten Pati, Jawa Tengah. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api nonaktif kelas I yang masuk dalam Wilayah Aset IV Semarang dan menjadi stasiun terbesar kedua di Kabupaten Pati.

Baca juga: Jalur Mau Dihidupkan, Stasiun Demak Justru Sudah Menjadi Kafe

Stasiun ini diresmikan oleh Samarang–Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) yang merupakan perusahaan dengan tujuan untuk menghubungkan wilayah Lingkar Muria Raya dengan Semarang menggunakan moda kereta api. Sesuai denga namanya, perusahaan ini membangun jalur kereta api yang menghubungkan Stasiun Samarang Centraal atau Jurnatan dengan melalui Demak, Kudus dan berakhir di Juwana.

Kemudian dari Stasiun Juwana dibangun jalur kelanjutan menuju Rembang yang berakhir di Jatirogo untuk menjangkau daerah lain di Lingkar Muria. Selain itu percabangan menuju Tayu juga dibuat dari Stasiun Juwana dengan semua jalur menggunakan lebar sepur 1067 mm.

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber Stasiun Juwana didirikan sekitar tahun 1811 dan mulai dibuka pada 1884. Kereta yang melintas dijalur ini bukanlah kereta cepat melainkan kereta api bergandar rendah atau biasa disebut trem yang melaju dengan kecepatan tak lebih dari 50 km per jam.

Pada masa itu bukan hanya kereta yang mengangkut penumpang, tetapi kereta barang yang mengangkut bahan mentah seperti tebu, kapuk, minyak bumi, kapur dan kayu jati juga melintas di jalur dan berhenti di Stasiun Juwana. Pada masa PJKA pun, jalur ini melayani lokomotif diesel berukuran kecil relasi Rembang ke Semarang ataupun sebaliknya.

Berada di kecamatan Juwana, pada masa dulu, orang Belanda menyebutnya Joana dan bahkan nama “Joana” terdapat pada nomenklatur SJS. Jalur dan stasiun Juwana sendiri pernah beroperasi di bawah bendera DKA, PNKA hingga masa-masa emas PJKA sepanjang dekade 1970-an. Meski DKA sudah memiliki jalur ini, tetapi SJS baru dilikuidasi pada tahun 1959 bersamaan dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah RI No.40/1959.

Sayangnya Stasiun Juwana kini berstatus stasiun kereta api nonaktif kelas I setelah di tutup pada 1986 lalu karena penumpang yang turun secara drastis. Stasiun tersebut juga tutup karena tak mampu bersaing dengan angkutan pedesaan.

Meski tak lagi beroperasi, sisa-sisa bangunan Stasiun Juwana masih berdiri bahkan lemari besi peninggalan masa kejayaan Belanda yang berukuran besar masih ada. Sayangnya, bangunan ini tak lagi terawat sebagai benda peninggalan sejarah masa lampau.

Baca juga: PT KAI Sambungkan Semarang-Demak-Kudus-Pati dengan Angkutan Terusan

Bangunan bekas Stasiun Juwana dimanfaatkan warga sebagai lapangan badminton dan tempat parkir. Bahkan dijadikan tempat pengungsian warga ketika mengalami musih banjir Kali Juwana.

Leave a Reply