Dari Selandia Baru, Boeing Siap Wujudkan Taksi Udara Listrik Otonom Pertama di Dunia

0
Taksi udara otonom dari perusahaan patungan antara The Boeing Company dan Kitty Hawk Corporation, Wisk, akan segera memasuki uji coba tahap selanjutnya di Selandia Baru. Foto: Futuretravelexperience

Pemerintah Selandia Baru belum lama ini telah menandatangani nota kesepahaman dengan perusahaan mobilitas udara perkotaan, Wisk, untuk mendukung uji coba taksi udara listrik otonom berpenumpang pertama di dunia. Rencananya, taksi udara yang diberi nama Cora tersebut akan diujicoba di Region Canterbury (setingkat provinsi atau negara bagian yang membawahi beberapa kota).

Baca juga: Berusaha Tetap di Arus Persaingan, Porsche pun Turut Luncurkan Taksi Udara Otonom!

Uji coba tersebut sebetulnya adalah lanjutan dari uji coba sebelumnya (pada 2017 silam). Bedanya, bila saat itu hanya mengujicoba unit taksi otonom listriknya saja, dalam waktu dekat ini, taksi udara otonom listrik pertama di dunia tersebut akan diujicoba kembali bersama penumpang. Belum jelas berapa penumpang yang akan jadi bagian dari uji coba tersebut, namun diperkirakan, Cora akan lebih tangguh dibandingkan taksi udara otonom dengan konsep drone milik perusahaan Cina, Ehang 184, yang hanya mampu mengangkut satu penumpang plus barang bawaan yang sangat terbatas.

Dengan adanya uji coba lanjutan tersebut, Wisk berharap, teknologinya tersebut akan lebih siap untuk dibawa ke pasar, dalam menyambut era baru taksi udara otonom di masa depan. Selain itu, perusahaan patungan antara The Boeing Company dan Kitty Hawk Corporation tersebut juga berharap, pihaknya dapat menjadi bagian dari masa depan dalam membentuk sebuah ekosistem perjalanan harian lintas kota atau dalam sekala yang lebih kecil dari itu, dimulai dari Selandia Baru.

Langkah konkret perusahaan patungan Boeing dan Kitty Hawk tersebut pun sekaligus menandai persaingan ketat antara Airbus dan Boeing, bukan hanya pada urusan pesawat terbang saja, melainkan juga pada urusan taksi terbang otonom listrik berpenumpang. Bedanya, jika saat ini Airbus dianggap lebih unggul karena nasib buruk kompetitornya tersebut dalam industri pesawat terbang, Boeing kini lebih unggul dalam implementasi taksi terbang otonom listrik karena sudah memiliki mitra (Selandia Baru) untuk mengaplikasikan teknologinya di tengah perkotaan. Adapun Airbus masih dalam proses uji coba dan belum mendapatkan mitra strategis untuk mengimplementasikan produk inovatifnya itu.

Menteri Riset, Ilmu Pengetahuan, dan Inovasi Canterbury, Megan Woods, pun menyambut baik sinergi antara pihaknya dengan Wisk. Menurutnya, uji coba tersebut sejalan dengan pembentukan Program Percobaan Integrasi Ruang Angkasa atau Airspace Integration Trials Programme (AITP) dan Wisk adalah mitra industri pertama yang bergabung. Program AITP sendiri adalah bagian dari strategi pemerintah dalam melihat peluang potensi di sektor transportasi di masa depan.

“Pemerintah melihat potensi besar dalam pengembangan sektor pesawat tak berawak yang inovatif di Selandia Baru dan kami berada dalam posisi utama untuk bekerja dengan perusahaan-perusahaan terkemuka global di sini untuk menguji dan masuk ke pasar dengan aman,” katanya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman futuretravelexperience.com, Jumat, (7/2).

“Selain manfaat ekonomi dan sosial yang ditawarkan pertumbuhan industri ini, kami juga berbagi visi dengan Wisk tentang cara yang lebih ramah lingkungan dan bebas emisi masyarakat dan pengunjung di Selandia Baru untuk berkeliling. Mengaktifkan kemunculan layanan taksi udara yang sepenuhnya listrik adalah hal yang wajar dengan tujuan nol karbon Selandia Baru pada tahun 2050,” tambahnya.

Sekilas tentang Canterbury , wilayah tersebut adalah rumah bagi sekelompok perusahaan penerbangan yang inovatif dan sektor manufaktur serta teknologinya adalah yang terbesar kedua di Selandia Baru. Ekosistem kebutuhan tersier dan penelitian serta inovasi perkotaan yang kuat di samping konektivitas ke seluruh dunia, dengan pelabuhan dan bandara internasional, membuat Christchurch, kota di Canterbury, cocok untuk menjadi tempat uji coba teknologi baru tersebut.

Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Dalam waktu, uji coba ditargetkan dapat segera dilakukan. Saat ini, prosesnya tengah dalam pembicaraan bersama pihak-pihak terkait, seperti regulator penerbangan di Selandia Baru, dewan kota, dewan regional, perusahaan, bahkan pemerintah pusat.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, pada Oktober 2019 lalu, Pemerintah Selandia Baru mengumumkan pembentukan Program Percobaan Integrasi Ruang Angkasa atau Airspace Integration Trials Programme (AITP), yakni sebuah program inovatif yang berfokus pada industri untuk mendukung pengujian yang aman dan pengembangan pesawat tanpa awak canggih serta mempercepat integrasi mereka ke dalam sistem penerbangan. Hal itu diharapkan dapat segera memajukan masa depan perjalanan di Selandia Baru dan dunia.

Leave a Reply