Demi Efisiensi, Garuda Indonesia Hapus Jatah Menginap Awak Kabin di Rute Sydney dan Melbourne

0
Ilustrasi penerbangan Garuda Indonesia ke China. Sumber: istimewa

Tunduk pada regulasi merupakan hal wajar bagi setiap pekerja, tidak terkecuali awak kabin suatu maskapai. Namun apa jadinya jika regulasi tersebut malah terkesan merugikan dan terlalu memaksakan? Hal inilah yang tengah hangat diperbincangkan oleh segelintir orang di luar sana, menyikapi langkah yang ditempuh maskapai plat merah Garuda Indonesia yang kabarnya akan mengurangi fasilitas awak kabin yang terbang dari Jakarta menuju Sydney dan Melbourne.

Baca Juga: Inilah Penyebab Ketika Pilot Benar-Benar Kelelahan!

“Kami sedang menguji coba penjadwalan atau penugasan awak kabin rute Australia, yaitu rute Sydney dan Melbourne menjadi rute pulang pergi sehingga tidak perlu stay,” ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman kontan.co.id (27/8).

Tidak perlu stay di sini, yang dimaksud Ikhsan adalah awak kabin nantinya tidak akan mendapatkan lagi fasilitas menginap di hotel. Ia menjelaskan, Garuda Indonesia melakukan itu sebagai bagian dari proses kajian berkelanjutan atas semua aspek bisnis dan operasi perusahaan. Maksudnya, untuk menjadikan pergerakan awak pesawat dan operasional penerbangan semakin efektif dan efisien, demi menunjang operasional penerbangan yang semakin dinamis.

Baik penerbangan dari Jakarta menuju Sydney atau Melbourne sama-sama memakan waktu perjalanan kurang lebih 6 jam 30 menit hingga 7 jam. Di sini, seorang awak kabin Garuda Indonesia akan bekerja minimal 14 jam ditambah masa istirahat bila on duty di rute penerbangan seperti Jakarta – Sydney atau Melbourne pulang pergi.

Ikhsan sendiri mengatakan bahwa peraturan penerbangan internasional mengijinkan seorang awak bekerja sampai maksimal 18 jam dalam sehari.

“Jadi, ini bukan dalam kaitan efisiensi, ya. Tapi lebih pada efektivitas operasional penerbangan,” terang Ikhsan.

Kendati terdengar ‘sadis’ dan membuat awak kabin Garuda Indonesia (mungkin) akan ogah untuk bertugas di rute penerbangan tersebut, namun Ikhsan menjelaskan bahwa pihaknya selalu memperhatikan faktor kesiapan dan kenyamanan awak kabin dalam bertugas. Caranya, dengan mengatur jadwal penerbangan yang berkaitan dengan jam kerja awak kabin.

Baca Juga: 9 Kali Sehari, Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Singapore Airlines

Ketika mengkonfirmasi rencana Garuda Indonesia ini, pengamat kedirgantaraan Indra Setiawan mengatakan, “oke kalau semuanya serba on-time, tapi bagaimana jadinya jika ada delay yang ujung-ujungnya bakal melebihi jam kerja awak kabin? Itu juga harus diperhatikan,” ujarnya kepada KabarPenumpang.com.

Indra juga menambahkan, bukan tidak mungkin jika kebijakan seperti ini juga akan diterapkan pada rute penerbangan lain yang memiliki jam terbang tidak jauh berbeda seperti rute Jakarta – Sydney atau Melbourne.

“Kembali ke jam terbang awak kabin, selama tidak melebihi jam kerjanya, ya it’s okay. Mungkin nantinya (jika skema penerbangan ini sudah beroperasi) jam off-duty awak kabin akan ditambah,” tandas mantan Direktur Utama Garuda Indonesia ini.

Namun terlepas dari semua rencana ini, Garuda Indonesia sudah kadung membukukan kerugian sebesar US$175 juta atau yang setara dengan Rp2,45 triliun (kurs Rp 14.004/US$) di tahun 2018 silam. Apakah pengurangan fasilitas awak kabin ini merupakan salah satu langkah yang dilakukan oleh emiten penerbangan BUMN untuk melakukan penghematan?

 

Leave a Reply