Di Balik Penerbangan Bersejarah ke Uni Emirat Arab, Boeing 737 El Al 971 Israel Dibekali Sistem Anti Rudal

0
Penerbangan bersejarah Israel-Uni Emirat Arab (UEA). Foto: Getty Images via Simple Flying

Ada yang menarik di balik penerbangan bersejarah Israel-Uni Emirat Arab (UEA) pada 31 Agustus lalu. Guna menjamin keamanan dan keselamatan tamu penting penerbangan El Al 971, pesawat Boeing 737 yang ditumpangi delegasi Israel dan Amerika Serikat (AS) itu dikabarkan sampai harus dilengkapi sistem anti-rudal C-Music yang menjadikannya sebagai maskapai komersial pertama dan satu-satunya di dunia yang dilengkapi sistem pertahanan udara (anti-rudal). Adopsi sistem anti rudal pada pesawat penumpang biasanya itu diterapkan pada pesawat kenegaraan atau pesawat kepresidenan.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Dilansir Simple Flying, untuk pertama kalinya Arab Saudi membuka ruang udaranya untuk penerbangan komersial Israel. Pesawat El Al terbang dari Tel Aviv ke Abu Dhabi membawa delegasi AS dan Israel.

Disebutkan, delegasi AS dan Israel yang ada dalam penerbangan bersejarah El Al 971 bukanlah sembarang orang, mulai dari agen rahasia Amerika Serikat (AS) dan Mossad Israel, pejabat tinggi Israel mewakili Perdana Menteri Netanyahu, sampai mantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, yang secara resmi menjabat sebagai penasehat khusus Timur Tengah bagi pemerintah AS.

Dengan memuat tamu penting, ditambah tensi geopolitik di Timur Tengah yang tengah meningkat, di samping memang Israel itu sendiri mempunyai banyak musuh di Timur Tengah, wajar bila Boeing 737 El Al dilengkapi dengan sistem anti-rudal. Terlebih, kasus pesawat komersial dirudal sudah terjadi sejak lama. Umumnya, pesawat tersebut tidak dilengkapi dengan sistem pertahanan anti-rudal layaknya pesawat kenegaraan.

Sebelum Boeing 737 El Al, sudah ada pesawat penumpang pertama dari Rusia yang dilengkapi dengan sistem anti rudal, yakni Ilyushin Il-96-300. Pesawat tersebut dilengkapi dengan sistem pertahanan udara untuk melawan rudal anti pesawat portabel atau man-portable air defence systems (MANPADS). Hanya saja, pesawat tersebut tak digunakan oleh maskapai penerbangan komersial, melainkan untuk kebutuhan pesawat kenegaraan dan kebutuhan lainnya di luar komersial penumpang.

Usai penerbangan bersejarah Israel-UEA ditandai dengan pendaratan pesawat Boeing 737 El Al dengan nomor penerbangan 971 di Abu Dhabi, penerbangan lainnya direncanakan bakal segera terwujud.

CEO Israir Airlines, belum lama ini mengungkap bahwa pihaknya ingin segera memulai layanan berjadwal (reguler) ke UEA. Proses mewujudkan impian tersebut, saat ini, tengah ditempuh. Bila tak ada aral melintang, impian itu mungkin bukan hanya pepesan kosong belaka. Apalagi, Arab Saudi juga sudah mau membuka ruang udara mereka untuk penerbangan Israel-UEA.

Selama ini, Arab Saudi turut memainkan peran penting dalam penerbangan Israel-UEA. Bila mereka tak mau membuka ruang udara, maka, penerbangan Israel-UEA harus memutar jauh ke Utara ataupun Selatan.

Lagi pula, selain penerbangan bersejarah El Al sebagai maskapai pertama yang berhasil mendarat di UEA, sebelumnya, maskapai asal negeri kaya minyak tersebut, Etihad Airways, sudah lebih dahulu membuka jalan interaksi yang lebih tinggi antar kedua negara.

Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752

Maskapai itu merupakan maskapai pertama yang mengoperasikan pesawat UEA ke Israel. Kala itu, penerbangan dilakukan dalam rangka menyalurkan bantuan ke Palestina. Bahkan, pada saat itu, tepatnya di awal tahun ini, UEA sama sekali belum menjalin kesepakatan damai dengan Israel.

Jika sudah begitu, menarik ditunggu, akankah penerbangan reguler UEA-Israel terwujud dalam waktu dekat, seiring penerbangan bersejarah yang dicetak kedua negara?

Leave a Reply