Di Balik Prahara Boeing 737 MAX 8, Mampukah Airbus ‘Curi’ Ceruk Pasar?

Airbus A320neo milik Air New Zealand. Sumber: Newshub

Kerugian yang dialami oleh Boeing setelah dua kecelakaan armada 737 MAX 8 dalam kurun waktu lima bulan terakhir nyatanya tak langsung berbuah manis bagi rivalnya, Airbus. Raksasa luar angkasa Amerika Serikat senilai US$215 miliar itu mungkin telah menangguhkan pengiriman jet 737 MAX 8, dan yang secara teoritis seharusnya menguntungkan sang rival asal Eropa. Sayangnya, Airbus menghadapi problematika yang juga tidaklah mudah – yaitu pesanan yang menumpuk selama bertahun-tahun lamanya.

Baca Juga: Pasca Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8, Lion Air dan Garuda Indonesia Nyatakan Jadwal Penerbangan Tidak Terganggu

Sebagai dua pilar duopoli manufaktur pesawat global, kedua perusahaan ini seolah saling sikut untuk bisa mendominasi ceruk pasar. Sebut saja Airbus yang merilis A320neo – jetliner dengan kapasitas 200 bangku yang dilengkapi dengan dua mesin canggih yang mampu mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 15 persen. Seolah tidak mau kalah, Boeing pun akhirnya menggunakan mesin yang sama terhadap keluarga armada 737 mereka.

Sempat terjadi kepanikan di tubuh Airbus sendiri ketika mereka menyadari bahwa pesanan yang masuk ke Boeing untuk armada 737 mencapai angka 4.600 pesanan. Namun manufaktur asal Eropa tersebut bisa sedikit bernafas lega karena adanya insiden Ethiopian Airlines dan Lion Air yang menggunakan armada Boeing 737 MAX 8.

Aji mumpung, insiden jatuhnya Ethiopian Airlines dan Lion Air harus bisa dimanfaatkan oleh Airbus untuk mencuri pelanggan Boeing yang tengah berjibaku untuk mencari solusi dari sensor angle-of-attack yang digadang-gadang sebagai dalang dibalik jatuhnya armada 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh dua maskapai tersebut.

Baca  Juga: Kemenhub: Masa Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8 Bisa Diperpanjang

Benar saja, Airbus tidak menyia-nyiakan momen ini. Mengutip dari laman reuters.com (18/3/2019), nilai saham Airbus naik lebih dari lima persen terhitung sejak insiden jatuhnya maskapai Ethiopian Airlines. Pesanan untuk A320neo pun mulai menumpuk, dan Airbus harus mengerahkan kekuatan terbaik di lni produksinya untuk bisa menghasilkan 50 unit per bulan. Jika ditotal, ada 3.600 pesanan dari berbagai maskapai yang masuk ke buku pesanan Airbus. Itu berarti, Airbus membutuhkan waktu sekitar enam tahun untuk bisa merampungkan semua pesanan tersebut.

Jika sudah seperti ini, akankah Airbus dapat mencuri ceruk pasar tanpa harus ada insiden terlebih dahulu di masa yang akan datang?