Dikira Tewas Kecelakaan Pesawat, Pilot Brasil Selamat Usai 38 Hari Terjebak di Hutan Amazon

0
Antônio Sena, (tengah, kemeja hitam) bersama Maria Jorge dos Santos Tavares, kedua putranya dan pemburu kacang lainnya yang ia temui setelah lebih dari sebulan bertahan hidup di Hutan Amazon. Foto: Antônio Sena

Hidup di Hutan Amazon yang penuh dengan misteri, mungkin tidak pernah terbayang seumur hidup Antonio Sena, sampai momen mengerikan itu benar-benar menghampiri hidupnya. Pilot asal Brasil berusia 36 tahun itu belum lama ini dikabarkan terjebak sejak 28 Januari lalu di hutan tropis paling luas di dunia tersebut selama 38 hari, sebelum akhirnya diselamatkan warga setempat.

Baca juga: Menipu Kematian, Begini Kisah Horror Penumpang Selamat dari Dua Kecelakaan Pesawat Terburuk

Dilansir The New York Times, kronologi pilot Antonio Sena terjebak selama 38 hari di Hutan Amazon bermula saat pesawat yang diterbangkannya, Cessna 210, melintasi langit hutan tersebut. Namu sial, pesawat mengalami kerusakan mesin saat di ketinggian 3 ribu kaki. Pesawat akhirnya mendarat darurat, menabrak pepohonan, sebelum akhirnya terbakar.

Meski terjadi benturan sangat keras, beruntung, Antonio Sena berhasil selamat. Tak hanya itu, ia juga sempat mengambil beberapa barang berharga dari dalam pesawat untuk hidup di tengah hutan, seperti pisau saku, senter, beberapa korek api, dan ponsel.

Setelah pesawat terbakar hebat, ia berpikir bahwa petugas akan menemukannya. Selain itu, sebelum pesawat menghantam pepohonan, Sena juga sempat memberi koordinat terakhir melalui radio berharap ada yang mendengar, mencatat, dan menyelamatkannya. Sayang, itu hanya isapan jempol belaka. Beberapa hari berlalu, tak ada satupun tanda-tanda tim penyelamat mencarinya. Hanya ada pesawat yang berlalu lalang.

Begitu juga dengan kantor yang menugaskannya untuk terbang ke area penambangan ilegal di Hutan Amazon, tepatnya di cagar alam Maicuru. Mereka juga tak ada tanda-tanda mencarinya atau mencari pesawat yang membawa solar untuk para untuk para penambang di sana.

Setiap kali ada pesawat melintas, ia pun melambai-lambaikan tangannya dan berteriak sekuat tenaga, mirip seperti balita atau remaja yang berteriak “pesawat…. minta uang”. Merasa sia-sia, ia pun mulai berjalan sejauh 60 mil menuju Paru River dengan petunjuk dari Google Maps di ponselnya yang baterainya sudah hampir habis.

Berjalan 60 mil di jalan tol atau di jalan arteri mungkin terasa biasa saja, namun, tidak demikian untuk di Hutan Amazon, rumah bagi banyak binatang buas dan mematikan, seperti jaguar, anaconda, ular berbusa, serangga beracun, dan lain sebagainya. Lagi pula, ia hanya berjalan menyusuri hutan di pagi menuju matahari di timur.

Begitu matahari mulai meninggi, ia berhenti dan menyiapkan tempat bermukim sementara. Baik ketika berjalan maupun bermukim di hutan, ia tak pernah mendekat ke rawa, sungai, ataupun danau, mengingat binatang buas banyak berada di sana.

Baca juga: Terlambat 2 Menit, Penumpang Ini Selamat dari Kecelakaan Maut Ethiopian Airlines ET302

Selama berminggu-minggu, ia bertahan hidup dengan memakan buah-buahan yang aman dan mengandung air. Sebetulnya, banyak jenis buah yang tak diketahuinya aman atau tidak. Namun, ia belajar dari binatang, salah satunya monyet. Ketika ia melihat binatang itu memakan buah tertentu, seperti breu, ia berasumsi buah itu aman dan Sena turut memakannya.

Empat minggu lebih berada di hutan, mendengar suara binatang dan pesawat sesekali melintas, tiba-tiba ia mendengar suara gergaji mesin. Antonio Sena pun akhirnya tak sendirian lagi, usai bertemu dengan penduduk setempat yang tengah mencari kacang Amazon. Setelah itu, ia menghubungi keluarga melalui radio dan dijemput menggunakan helikopter.

Leave a Reply