Dinilai Kurang Efisien, Akankah Airbus A380 Berjaya 20 Tahun Mendatang?

Sumber: helicecluster.com

Terbang non-stop antar benua nampaknya sudah menjadi hal yang biasa di dunia aviasi belakangan ini. Pertimbangan demi pertimbangan terus dipikirkan matang-matang oleh para penyedia jasa layanan transportasi udara – termasuk produsen pesawat, salah satu poin yang muncul di urutan paling atas adalah soal efisiensi. Ketika sekira lebih dari satu dasawarsa yang lalu Airbus A380 digadang-gadang menjadi salah satu armada yang mampu melakukan penerbangan jarak jauh non-stop, lalu apa kabarnya sekarang?

Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

Perkembangan di sektor aviasi global merupakan suatu hal yang sangat dinamis. Jika dulu hanya ada beberapa armada berbadan super besar (salah satunya adalah Airbus A380) yang mampu mengudara ribuan kilometer non-stop, namun kini sudah banyak pesawat kembangan berbadan sedang yang mampu melakoni tugas layaknya Airbus A380. Akankah ini menjadi akhir dari kedigdayaan armada berjuluk superjumbo jet?

Tentu ini semua bersinggungan dengan poin efisiensi seperti yang sudah disebutkan di atas. Seperti yang kita ketahui bersama, Airbus A380 merupakan pesawat dengan four-engine yang memiliki radius operasi hingga 15.100km dan mampu menangkut hingga 850 penumpang dengan konfigurasi satu kelas.

Dengan daya angkut yang segitu besar, sudah bukan jadi rahasia lagi jika pihak maskapai harus memutar otak agar si superjumbo jet ini dapat mengudara dengan kapasitas penumpang penuh. Karena jika tidak, maka penerbangan tersebut akan menjadi tidak efisien atau bahkan lebih parahnya lagi pihak maskapai akan mengalami kerugian (penumpang sedikit, namun jumlah bahan bakar yang digunakan sama) – tidak menutupi biaya operasional.

Sementara itu, munculah armada twin engine seperti Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A350-900ULR (Ultra-Long Range) yang notabene memiliki ukuran body lebih kecil namun mampu mengemban tugas yang sama beratnya seperti Airbus A380. Diketahui, Airbus A350-900ULR ini mampu mengudara hingga 18.000km atau yang setara dengan 19 jam penerbangan non-stop.

Dari perbandingan di atas saja, sudah sedikit terlihat bahwa para pegiat bisnis perjalanan udara akan lebih memilih Airbus A350-900ULR sebagai armada yang melakoni penerbangan jarak jauh non-stop ketimbang Airbus A380 – karena faktor efisiensi tadi.

Namun sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman forbes.com, International Air Transport Association (IATA) memprediksi akan ada 7,8 miliar penumpang yang melakukan perjalanan udara pada tahun 2036 mendatang. Angka tersebut hampir setara dengan dua kali lipat penumpang yang mengudara pada tahun 2017 (empat miliar penumpang). Prediksi IATA tersebut mengacu pada rataan pertumbuhan penumpang sebesar 3,6 persen setiap tahunnya.

Baca Juga: Efisiensi Biaya Operasional Jadi Alasan Utama Anjloknya Permintaan Terhadap Airbus A380

“Sektor aviasi harus mempersiapkan pertumbuhan penumpang sebanyak dua kali lipat pada 20 tahun ke depan,” ujar CEO IATA, Alexandre de Juniac.

Melihat statistik data dari IATA tersebut, mungkin beberapa dari Anda sudah bisa menyimpulkan hipotesa sementara: Apakah Airbus A380 sengaja diproduksi untuk memenuhi tuntutan penerbangan dalam 20 tahun ke depan?