Dua Tahun Nganggur, Pesawat Terbesar di Dunia Stratolaunch Akhirnya Terbang Lagi

0
Sumber: newatlas.com

Stratolaunch, pesawat terbesar di dunia -jika diukur dari lebar sayap- akhirnya terbang kembali untuk kedua kalinya pada hari Kamis lalu, usai dua tahun nganggur atau pasca penerbangan perdana pada pertengahan April 2019 lalu.

Baca juga: Stratolaunch, Pesawat dengan Sayap Terlebar di Dunia Sukses Terbang Perdana

Dalam penerbangan kemarin, pesawat berjuluk The Roc yang dikembangkan oleh salah satu pendiri Microsoft, Paul Allen, ini fokus persiapan untuk mengubah arah bisnisnya, dari semula sebagai kendaraan peluncur roket pembawa satelit orbit rendah, menjadi kendaraan peluncur untuk reusable hypersonic flight research vehicles atau kendaraan penelitian penerbangan hipersonik.

Dilansir Simple Flying, pesawat dengan nama resmi Scaled Composites Model 351 Stratolaunch ini, diketahui menjalani uji terbang untuk kedua kalinya di Mojave Air and Space Port di California, Amerika Serikat (AS), pada pukul 7.30 waktu setempat.

Dari data RadarBox, Stratolaunch terbang selama tiga jam, berkeliling di sekitar langit Gurun Mojave, dengan dikawal pesawat pendamping, Cessna Citation, sebelum akhirnya mendarat kembali di tempat yang sama.

Setelahnya, belum ada informasi lanjutan apapun mengenai hasil penerbangan tiga jam kemarin, dalam rangka persiapan untuk mengubah arah bisnis Stratolaunch usai berpindah kepemilikan.

Sepeninggal Allen pada 2018 lalu, Cerberus Capital Management tercatat sebagai pemilik baru Stratolaunch. Ketika itu, mereka langsung melakukan evaluasi sehingga muncullah ide untuk membawa pesawat dengan enam mesin Pratt & Whitney PW4056 yang diambil dari dua Boeing 747 itu ke bisnis peluncuran kendaraan penelitian hipersonik, sebuah pesawat yang setidaknya bisa melesat hingga Mach 5 atau lima kali kecepatan suara.

Sejak ide awal pembuatan pesawat terbesar ini tercetus antara Allen dengan pendiri Scaled Composites Burt Rutan pada tahun 2011, sudah ada setidaknya satu perusahaan yang tertarik menggunakan Stratolaunch untuk meluncurkan satelitnya.

Disebutkan, Stratolaunch mengumumkan kemitraannya dengan manufaktur kedirgantaraan dan pertahanan Amerika, Orbital ATK untuk mengantarkan roket Pegasus-XL-nya ke orbit pada tahun 2016 silam. Adapun tujuan dibalik kerja sama tersebut adalah untuk memberikan fleksibilitas bagi pelanggan yang ingin meluncurkan satelit kecil.

Usai Stratolaunch sukses terbang perdana pada April dua tahun lalu, kerjasama itu belum juga terealisasi sampai penerbangan kedua sukses dilakukan. Belum ada kejelasan apakah kerjasama tersebut akan tetap direalisasikan atau tidak.

Baca juga: (Video) Pertama Kalinya, Pesawat Ulang-Alik Buran Meluncur dari ‘Punggung’ Replika Antonov An-225 Mriya

Pesawat Stratolaunch merupakan pesawat dengan lebar sayap terbesar di dunia mencapai 117 meter, mengalahkan The Rutan Model 76 Voyager -yang juga buatan Scaled Composites dan diakuisisi oleh Northrop Grumman- dengan bentang sayap mencapai 33 meter, serta Hughes H-4 Hercules mencapai 20 meter.

Pesawat ini memiliki dua fuselage atau badan yang terpisah. Masing-masing fuselage dilengkapi dengan enam roda pendaratan atau total 12 landing gear serta tiga mesin Boeing 747 atau total enam mesin. Pilot, kopilot, dan flight engineer berada di kokpit badan pesawat sebelah kanan. Sedangkan badan pesawat di sisi kiri tidak ditempati kru melainkan berfungsi sebagai ruang penyimpanan untuk peralatan khusus.

LEAVE A REPLY