Dua Terobosan Ini Bisa Pangkas Waktu Tempuh Penerbangan Jadi Setengahnya, Apa Saja?

0
Pesawat supersonik United Airlines buatan Boom Supersonik (Boom Technology). Bila tak ada aral melintang, akhir tahun 2021 atau awal tahun 2022 pesawat ini akan memulai uji terbang perdana. Foto: Boom Supersonik

Industri penerbangan jadi salah satu sektor transportasi yang paling cepat perubahannya. Setiap hari, selalu ada inovasi yang meliputi sektor ini. Baik itu berupa konsep dan gagasan, prototipe atau uji kelayakan, sampai inovasi nyata yang merubah cara manusia bepergian.

Baca juga: Tepat Janji, Prototipe Pesawat Supersonik Boom XB-1 Resmi Dipamerkan, 2021 Mulai Melesat

Belum lama ini, konglomerat asal Inggris yang juga pemilik maskapai Virgin Atlantic, Sir Richard Branson, berhasil mewujudkan ambisinya, menyediakan wisata antariksa sederhana yang bisa dijangkau siapapun yang memiliki uang, melalui proyek Virgin Galactic.

Seolah tak ingin kalah, orang terkaya di dunia, Jeff Bezos, melalui perusahaan wisata antariksanya, Blue Origin, juga berhasil menyusul Richard Branson, terbang ke luar angkasa di ketinggian sekitar 100 km, sebagian bagian dari penerbangan penumpang perdana Blue Origin berwisata ke luar angkasa.

Kendati demikian, baik proyek wisata ke luar angkasa Virgin Galactic maupun Blue Origin, sudah pasti tak akan berdampak banyak pada penerbangan komersial.

Sebab, itu bersifat komunal atau keinginan orang-orang yang tertarik untuk menjajal sensasi gravitasi 0 dan melayang di udara selama beberapa menit sambil melihat pemandangan luar angkasa. Tentu tak semua orang mau dan mampu membayar tarif selangit dari perjalanan wisata ke luar angkasa ini.

Tetapi, sebagaimana disebutkan di awal, industri penerbangan sangat cepat menyajikan perubahan. Selain Virgin Galactic dan Blue Origin, banyak perusahaan yang sedang atau sudah menawarkan konsep dan gagasan untuk mengubah cara penumpang atau masyarakat bepergian. Siapa saja?

Dilansir investorplace.com, Matthew McCall, former analis Wall Street, pusat bursa perdagangan saham dan bursa perdagangan lainnya di New York, Amerika Serikat (AS), belum lama ini menuangkan analisanya terkait industri penerbangan.

Dalam pengamatannya, pandemi Covid-19 memang membuat industri penerbangan hancur-hancuran. Ia juga tak yakin pasar penerbangan penumpang maupun private jet akan kembali pulih ke level seperti sebelum virus Corona mewabah.

Meski begitu, beberapa perusahaan tak berhenti berinovasi menciptakan masa depan perjalanan penumpang yang berbeda. Perusahaan pertama yang dimaksud adalah Jet Token, penyedia jasa private air travel asal AS.

Melalui aplikasi yang dikembangkan perusahaan, penumpang dimungkinkan memesan penerbangan komersial maupun private atau gabungan dari keduanya hanya dengan beberapa sentuhan di ponsel. Ini membuat perubahan pada penumpang berpergian di era penerbangan ultra-modern, membuatnya jadi lebih murah, cepat, dan tentu saja nyaman.

Perusahaan kedua yang dimaksud adalah United Airlines dalam kolaborasinya dengan Boom Supersonic. Salah satu maskapai terbesar di dunia asal AS tersebut belum lama ini mengumumkan pembelian 15 unit pesawat supersonik buatan Boom Supersonic seharga US$3 miliar atau sekitar Rp43 triliun (kurs 14.552) atau US$200 juta (Rp3 triliun) harga per unitnya.

Lewat penerbangan supersonik, United Airlines bisa memangkas penerbangan trans-atlantik dari New York ke London dan sebaliknya menjadi hanya 3,5 jam, dua kali lebih cepat dari pesawat komersial yang ada saat ini dikisaran 6,5 jam.

Baca juga: Di Dubai Airshow 2017, Boom Technology Siap Goda Emirates dan Qatar Airways

Tak hanya itu, penerbangan supersonik dari kolaborasi United Airlines dan Boom Supersonic ini juga menawarkan harga tiket jauh lebih murah dari Concorde, pesawat supersonik yang pertama kali terbang secara komersial pada 1976 dan berakhir pada 2003 silam.

United Airlines berencana hanya memasang tarif penerbangan supersonik sebesar US$2.500 atau Rp36 juta (kurs 14.552), 80 persen lebih murah atau berbanding jauh dengan penerbangan supersonik Concorde seharga US$12.000 atau sekitar Rp174 juta (kurs 14.552) per sekali terbang. Ini diyakini bisa mengubah cara penumpang bepergian di masa mendatang.