Empat Faktor Eksternal Penyebab Kecelakaan Pesawat Saat Take Off dan Landing

0
Ilustrasi bird strike. Foto: Istimewa

Pesawat jadi moda transportasi paling aman di dunia. Data terkait ini pun mudah didapat. Meski begitu, pesawat rawan mengalami kecelakaan, terutama saat take off ataupun landing; tiga menit pertama dan delapan menit terakhir penerbangan (critical eleven) atau biasa juga disebut Plus Three Minus Eight.

Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

Critical eleven atau 11 menit paling krusial dalam penerbangan sudah pasti disebabkan oleh dua faktor, teknis dan non teknis atau eksternal. Terkait faktor eksternal, setidaknya ada empat penyebab paling umum terjadinya kecelakaan pesawat saat take off ataupun landing. Apa saja? Dihimpun dari berbagai sumber, berikut ulasan empat faktor eksternal penyebab kecelakaan pesawat di periode critical eleven.

1. Bird strike

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Begitu juga menjelang landing.

Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Meski begitu, berbagai cara sudah ditempuh pengelola bandara di seluruh dunia. Seperti mengerahkan robot pemotong rumput (mengingat rumput tinggi di sekitar runway bisa jadi sarang burung), drone atau The Robird Drone, dan lain sebagainya.

2. Hujan lebat, bersalju, dan berpasir

Menurut ICAO, genangan air tertinggi adalah empat milimeter dan tidak boleh lebih dari 25 persen di area runway yang tergenang. Lebih dari itu, keselamatan penerbangan akan sangat dipertaruhkan.

Celakanya, saat hujan lebat, genangan di runway kerap melebihi ambang batas aman di atas. Karenanya, tak heran jika kecelakaan pesawat di periode critical eleven atau saat take off maupun landing sering terjadi. Biasanya berupa overrun, baik itu keluar runway sampai keluar dari perimeter bandara.

Tak hanya hujan lebat dan menyebabkan genangan, salju dan pasir di runway juga kerap menjadi penyebab kecelakaan saat lepas landas maupun turun landas.

Meski begitu, ini sebetulnya bisa disiasati dengan teknik pendaratan hard landing atau pendaratan keras, bertujuan untuk menghindari hilangnya gesekan antara ban dengan permukaan runway.

3. FOD (Foreign Object Damage)

Jika dilihat dari dekat, permukaan runway biasanya dipenuhi dengan FOD (Foreign Object Damage) berupa partikel pasir, debu, atau sisa karet ban pesawat yang terkelupas, tertinggal di runway selama bertahun-tahun dan mengendap di sana. Bila tak ada penanganan serius, FOD ini memungkinkan pesawat mengalami selip ban.

4. Crosswind

Crosswind juga sering menjadi penyebab kecelakaan pada pesawat menjelang landing ataupun saat lepas landas.

Sebetulnya, dalam kondisi angin kencang, secara prinsip, pilot masih bisa melakukan soft landing dan mendarat dengan aman. Tetapi, saat berada di ketinggian sekitar 50 kaki atau sekitar 15 meter, tiba-tiba angin kencang membuat landing approach angle meleset sekaligus sudut pendaratan pesawat menjadi miring.

Baca juga: Dinilai Krusial Selamatkan Penerbangan, Berikut Empat Penyebab Hard Landing

Kacaunya lagi, tekanan angin di sekitar runway juga cukup tinggi, bisa karena cuaca terlalu terik dan menyebabkan udara banyak terkumpul di runway akibat pemuaian, sehingga membuat pesawat mengambang selama beberapa saat.

Padahal, pesawat sudah harus melakukan landing di zona touchdown, bila tidak, pesawat terancam overrun atau keluar runway. Nah, pada posisi ini, pilot bisa mensiasatinya dengan divert atau balked landing dan kembali mengudara, go around, sambil menunggu crosswind mereda.