Enam Pramugari Curhat Delapan Hal Soal Lika-Liku Kerja Saat Covid-19, Nomor Lima Bikin Naik Darah!

0
Ilustrasi rahasia pramugari. Foto: The Things

Industri penerbangan luluh lantak diterjang wabah Covid-19. Jutaan pekerja di sektor tersebut merana akibat gelombang PHK. Hal itu (PHK) mungkin bukan yang terbaik bagi mereka, namun, bila tidak dilakukan, akan ada lebih banyak gelombang PHK bersamaan dengan bangkrutnya perusahaan.

Baca juga: Awak Kabin American Airlines Meninggal di Pesawat, Gegara Corona?

Bagi yang tidak terkena PHK, khususnya pramugari, bukan berarti mereka bekerja dengan nyaman dan sejahtera. Sebagai contoh, belum lama ini, enam pramugari dari tiga maskapai besar di Amerika Serikat (AS) curhat kepada wartawan. Tentu saja dengan menyembunyikan identitas keenamnya atau mereka akan menghadapi konsekuensi terburuk. Dilansir Insider, berikut curhatan enam pramugari.

1. Diperlakukan seolah seperti pembuluh penyakit (sumber penyakit)

Banyak orang melihat profesi pramugari dari sisi glomouritasnya saja. Padahal dibalik itu, terutama saat pandemi corona seperti sekarang, mereka diperlakukan dengan tidak proporsional. Bahkan, salah satu dari enam pramugari menyebut mereka diperlakukan seperti pembuluh penyakit, dengan tindakan diskriminasi dari orang sekitar, teman kantor, teman main, bahkan keluarga. Kejadian tersebut mirip-mirip dengan perlakuan warga terhadap petugas medis.

2. Takut terdampar di kota-kota aneh

Dengan banyaknya pembatalan atau cancel flight di sana sini, pramugari (juga para petugas on board lainnya) sangat berisiko tertahan -bila tak ingin disebut telantar- di kota-kota aneh. Aneh dalam artian memiliki angka kasus corona yang tinggi. Tak ayal, sebelum berangkat, mereka selalu menyiapkan pakaian dalam jumlah banyak, serta tentu saja uang, berjaga-jaga bila tidak mendapatkan tunjangan.

3. Gaji tak dibayar

Dalam kondisi serba sulit, perusahaan melakukan langkah strategis, salah satunya PHK. Bila tak cukup, salah satu opsi lain yang diambil adalah menunda gaji karyawan. Pramugari salah satunya. Padahal, sebagai lini serang perusahaan, mereka bekerja bertahur nyawa.

4. Khawatir terpapar corona

Melakukan kontak langsung dengan banyak orang tentu menjadikan mereka (pramugari) rentan terpapar corona. Fakta membuktikan, sudah banyak kasus pramugari positif terpapar corona dan berujung kematian. Meskipun tetap memakai APD, tetap saja ta menghilangkan bahaya. Buktinya, petugas medis yang memakai APD lengkap, tetap banyak yang terpapar corona dan meninggal. Apalagi mereka, yang tidak memakai APD lengkap?

5. APD tak disediakan perusahaan

Sederet peraturan dikeluarkan perusahaan untuk memulihkan kepercayaan publik dalam menggunakan transportasi udara. Salah satunya pramugari dibekali dengan APD, seperti masker, face shield, sarung tangan, dan hand sanitizer; bahkan beberapa perusahaan melengkapinya dengan hazmat dan sepatu boots. Namun, dibalik itu, ternyata, mereka terkadang harus menyiapkannya sendiri tanpa bisa direimburs.

Association of Flight Attendants, salah satu serikat pramugari terbesar di dunia dengan membawahi sebanyak 50 ribu anggota (pramugari) dari 20 maskapai sudah menempuh beberapa langkah untuk mengurai masalah ini.

6. Tak dikarantina

Normalnya, sepulang bepergian dari zona merah, dalam dan luar negeri, mereka diharuskan untuk mengkarantina diri atau dikarantina oleh otoritas. Namun, karena satu dan lain hal, mereka justru dilarang untuk terlibat dalam proses tersebut oleh maskapai masing-masing. Kelonggaran dari pihak otoritas juga berperan dalam hal ini.

Baca juga: Dengan Dalih Risiko Tertular Covid-19! Qatar Airways Hapuskan Hak Layover Pramugari di Penerbangan Jarak Jauh

7. Masih banyak penumpang tak patuhi protokol kesehatan

Di tengah tingginya kasus corona di dunia, terutama di AS, pramugari masih saja dihadapi dengan banyaknya penumpang yang tak patuh dengan protokol Covid-19; bukan tak memakai masker -sebab mereka tentu saja tak bisa masuk bandara bila melakukannya- namun melepaskannya selama dalam penerbangan. Padahal itu terlarang. Banyak contoh lainnya dimana mereka melanggar protokol Covid-19.

8. Mengkomparasikan dengan peristiwa 9/11

Peristiwa 9/11 membuat seluruh tindak-tanduk masyarakat diliputi kecemasan. Semua orang tegang dalam menjalani aktivitas. Tak ada senyum dan interaksi. Mereka takut. Tentu semua warga AS tak ingin mengalaminya lagi. Faktanya, mereka mau tak mau harus menjalaninya lagi, termasuk pramugari.

Leave a Reply