Hari Ini, 81 Tahun Lalu, Heinkel He 178 Nazi Jerman Pelopori Era Penerbangan Turbojet di Dunia

0
Heinkel He 178 pesawat turbojet pertama di dunia. Foto: militaryfactory.com

Hari ini, 81 tahun lalu, Heinkel He 178 pesawat jet pertama di dunia berhasil terbang perdana. Pesawat dengan mesin dan kabin tunggal berkecepatan 700 kilometer per jam ini bukan hanya pelopor era penerbangan turbojet di dunia, tetapi juga disebut menjadi peletak dasar desain pesawat jenis baru setelahnya.

Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Dikutip dari militaryfactory.com, sebelum perang dunia kedua meletus, Jerman bisa dibilang jadi pelopor teknologi di berbagai sektor, darat, laut, dan udara. Untuk udara, pesawat tempur jet pertama di dunia besutan Jerman, Messerschmitt Me 262, mungkin masih jadi perdebatan mengingat Inggris juga mengklaim hal serupa lewat Gloster Meteor F8 karya ilmuan lokal ternama, Sir Frank Whittle.

Namun, untuk pesawat jet pertama di dunia, yang juga bersaing ketat di jagat domestik dengan Messerschmitt Me 262, tak ada satupun pengganggu hegemoni Heinkel He 178.

Embrio Heinkel He 178 dimulai pada tahun 1937. Ide Ernst Heinkel membuat pesawat dengan konsep propulsi turbojet pertama di dunia tak lepas dari jasa insinyur Dr. Hans Pabst von Ohain yang didapuk sebagai penanggung jawab pengembangan mesin turbojet dalam naungan Heinkel Flugzeugwerke yang sudah didirikan sejak 1922.

Meskipun ditentang rezim Nazi Hitler karena dianggap tak menguntungkan, meningat pengembangan dinilai butuh waktu dan investasi besar, tak sejalan dengan keinginan rezim yang fokus pada tensi politik menghadapi perang dunia II, namun, Heinkel dan Ohain terus maju. Kerja keras Ohain pun berhasil membuahkan mesin HeS 1 pada tahun 1937.

Heinkel tak tinggal diam dan berhasil mengembangkan mesin HeS 3 berbahan bakar diesel. Kala itu, inovasi pembuatan mesin turbojet memang belum menemui titik terang. Namun, mesin tersebut justru disambut baik rezim Nazi Hitler karena dinilai berpotensi membawa Jerman memenangi Perang Dunia II.

Belum puas dengan mesin HeS 3, pada tahun 1938, Heinkel melanjutkan pengembangan mesin terbojet. Berbekal konsep pesawat turbojet yang diusulkan pemerintah, prototipe Heinkel He 178 pun menjawab kebuntuan. Setelah melalui beberapa pengujian, 27 Agustus 1939 atau sepekan sebelum genderang Perang Dunia II ditabuh, Heinkel He 178 berhasil mengudara dan secara resmi memulai era penerbangan jet di langit Rostock, Jerman Utara.

Menariknya, pesawat berhasil melesat hingga 600 kilometer per jam, cukup cepat untuk ukuran kala itu. Sebetulnya, pesawat bisa lebih cepat dari pada itu, namun, Heinkel He 178 dibatasi hanya boleh di bawah 643 kilometer per jam karena desain aerodinamika pesawat masih belum sempurna.

Awalnya, penerbangan perdana tampak lancar-lancar saja sampai ketika seekor burung terhisap masuk ke dalam mesin dan mendadak mati saat pesawat masih di udara. Beruntung, pilot uji, Flugkapitan Erich Warsitz, berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat.

Dibanding pesawat-pesawat sekutu -seperti pesawat pengebom Hiroshima-Nagasaki Enola Gay– atau pesawat Jerman lainnya, desain Heinkel He 178 tergolong cukup unik, dengan menempatkan sayap nyaris diujung atas badan pesawat. Begitu juga posisi mesin yang terkubur jauh di dasar badan pesawat.

Baca juga: Boeing 377 Stratocruiser, Pesawat dengan Kabin Bertekanan Pertama di Dunia

Nasib pesawat dengan bentang sayap tujuh meter lebih, panjang tujuh meter, dan tinggi hampir dua meter ini, sebagaimana dikutip dari aviation-history.com, akhirnya harus kandas karena gempuran sekutu dalam Perang Dunia II. Dua prototipe Heinkel He 178 yang berhasil dibuat hancur berkeping pada tahun 1943 dan 1945. Hal itu pun menandai akhir dari sepak terjang pesawat dengan bobot kosong sebesar 3.565 lbs maksimum muatan mendekati 4.400 lbs ini di industri kedirgantara dunia.

Meskipun tak satupun replika yang tersisa, dokumentasi Heinkel He 178 dianggap lebih dari cukup untuk menandakan sumbahsih ide dan gagasan pesawat di kancah global.

Leave a Reply