Ikuti Jejak Air France-KLM, Muncul Gagasan Merger Singapore dan Malaysia Airlines

Tingkat kompetisi dalam bisnis penerbangan kian tajam, tekanan biaya operasional tak hanya bisa dijawab dengan adopsi armada pesawat modern semata. Lebih dari itu merger dijalankan agar beban biaya dapat ditekan, sementara pangsa pasar tetap dapat dijaga. Setelah dimulai di segmen maskapai swasta, maskapai plat merah kini mulai melakukan merger. Sebut saja apa yang dilakukan Air France – KLM Royal Dutch dan British Airways – Iberia (IAG). Dan bergeser ke Asia Tenggara, muncul gagasan untuk melakukan merger antara Singapore Airlines dan Malaysia Airlines.

Baca juga: Salip IAG dan Air France-KLM, Lufthansa Kini Jadi Maskapai Terbesar di Eropa

Dilansir dari theedgemarkets.com (13/5), gagasan tersebut diutarakan Mohshin Aziz, analis penerbangan regional Maybank Kim Eng Holdings Ltd. Menurut Mohshin, langkah merger diantara kedua maskapai dapat menghapuskan banyak biaya dan menjadikan keduanya lebih efisien. Dengan mengambil contoh yang dilakukan Air France-KLM, setelah merger kedua maskapai tetap beroperasi dengan brand masing-masing, hanya pengelolaan keduanya saat ini di tangan satu perusahaan.

Moshin punya argumen, maskapai Malaysia dan Singapura dahulu pernah bersatu dalam label Malaysia-Singapore Airlines (MSA). Persisnya MSA adalah maskapai kebanggaan kedua negara sebelum akhirnya bubar pada tahun 1972. “Jika Singapore Airlines dan Malaysia Airlines bergabung maka akan ada perbaikan dalam penjadwalkan terbang. Selain itu relokasi aset kedua maskapai dapat dioptimalkan,” ujar Moshin yang juga menjabat associate director di Maybank Kim Eng Securities.

Untuk bisa mewujudkan gagasan di atas, krisis identitas nasional harus dilupakan, ini menjadi isu krusial dalam merger antara dua flag carrier. Operator penerbangan harus mampu melepaskan dari ego dan mentalitas bahwa ‘saya terbang mewakili negara saya.”

Contoh dalam hal ini adalah merger antara KLM Royal Dutch Airlines dan Air France. Kedua maskapai nasional memperoleh ‘penghematan luar biasa’ dalam waktu tiga tahun setelah merger. “Mereka menggabungkan sistem, mereka memberhentikan orang, mereka menghapus tumpang tindih, dan mereka menghemat banyak uang. Semua hal ini dicapai hanya dalam waktu tiga tahun, ”jelas Mohshin.

Air France mengambil alih KLM yang bermasalah pada tahun 2004, tetapi kedua maskapai terus beroperasi sebagai entitas terpisah dan memastikan Bandara Paris Charles de Gaulle dan Bandara Amsterdam Schipol tetap sebagai hub penting bagi grup. Namun belum lama ini, Pemerintah Belanda merasa khawatir terhadap masa depan Bandara Schipol dan KLM. Kemudian ini mendorong Pemerintah Belanda meningkatkan kepemilikannya di perusahaan induk Air France-KLM menjadi 14 persen pada awal tahun ini. Bagi pihak Perancis, hal tersebut adalah langkah yang digambarkan sebagai “tidak ramah.”

Baca juga: Demi Efisiensi Grup, SilkAir Besar Kemungkinan Dilebur Ke Singapore Airlines

Kembali ke gagasan merger Singapore Airlines dan Malaysia Airlines, memang lebih mudah untuk dikatakan daripada dijalankan. “Ketika dia (PM Mahathir Mohamad) menjadi perdana menteri untuk pertama kalinya, Malaysia Airlines memiliki masalah. Saat ini, mereka masih memiliki masalah. Setelah bertahun-tahun, tidak ada perbedaan, ”kata Mohshin.

Namun yang jadi tantangan adalah bahwa setiap negara ingin memiliki maskapai nasional sendiri. Pemerintah adalah pemilik Malaysia Airlines, Singapore Airlines, Thai Airways, Vietnam Airlines, dan Garuda Indonesia, ”kata Mohshin.