Bukan Toko Serba Ada, Tapi Stasiun di Jepang ini Memenuhi Semua Kebutuhan Anda!

Menyandang predikat sebagai Negara Adikuasa, nampaknya Amerika Serikat selalu ingin menjadi yang terdepan dalam semua aspek, tidak terkecuali dari segi infrastruktur transportasinya. Namun untuk urusan stasiun kereta api yang satu ini, mungkin Negeri Paman Sam harus gigit jari karena salah satu kompetitor terberatnya, Jepang, disinyalir memiliki stasiun kereta paling megah di dunia. Dapatkah Anda bayangkan sebuah stasiun kereta yang memiliki 15 lantai? Hampir mirip seperti pusat perbelanjaan yang bersanding dengan apartemen di Jakarta, ya!

Baca Juga: Beragam Alasan Mengapa Orang Jepang Fanatik Pada Sosok Kereta

Ya, seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, Nagoya Station JR Gate Tower disebut-sebut sebagai stasiun paling keren, paling megah, dan paling menawan di dunia. Bayangkan saja, Anda bisa makan malam di rooftop stasiun 15 lantai ini dan tetap terkoneksi dengan jaringan kereta api Jepang tanpa harus keluar dari lingkungan gedung.

Tidak hanya fancy dinner yang dapat Anda jajal, gerai kopi terkemuka Starbucks di sini pun digalang-galang sebagai yang paling keren di dunia. Bagaimana tidak, Anda dapat dengan santai menikmati segelas kopi sambil melihat pemandangan kota Nagoya. Dijamin ini akan menjadi salah satu pengalaman ngopi yang tidak akan pernah Anda lupakan.

Lengkap. Mungkin satu kata sederhana tersebut mewakili keseluruhan dari Nagoya Station JR Gate Tower. Mulai dari cafe, beer house, pusat perbelanjaan, hotel, hingga sentra cemilan bawah tanah semuanya ada di gedung ini. Mungkin awal pengadaan dari stasiun serba ada ini dilatarbelakangi oleh kebanyakan stasiun transit yang ada di Jepang hanyalah berbentuk stasiun saja – kurang lengkap. Bisa saja orang-orang Amerika melewatkan ide brilian yang satu ini, dimana operator jaringan kereta api harus bisa membuat penumpangnya merasakan kenyamananyang maksimal.

Tapi tetap saja, berbicara soal jaringan perkeretaapian di Amerika Serikat memang tidak sebanding dengan di Jepang sana. Ketika Jepang menjadikan kereta api sebagai tulang punggung dan primadona di sektor transportasinya, maka Amerika tidak.

Baca Juga: 5 Stasiun Tersibuk di Dunia, Semua Ada Di Jepang!

“Ini (Nagoya Station JR Gate Tower) menciptakan peluang komersial – Dimana lokasi ini memiliki potensi dihampiri oleh banyak orang yang sangat besar. Tapi saya juga berpikir itu akan mengubah karakter perjalanan dan tata kota,” ungkap Norman Garrick, profesor teknik sipil dan lingkungan di Connecticut University.

Jangan lupa memanjakan diri di Nagoya Station JR Gate Tower semisal Anda tengah berada di Negeri Matahari Terbit ya!

Enel Raksasa Energi Italia, Rencanakan Pemasangan Baterai 10 MW di Jaringan Kereta Rusia

Raksasa energi Italia Enel baru-baru ini merencanakan memasang baterai dengan kekuatan 10 megawatt di jaringan kereta api Rusia. Pemasangan baterai ini gunanya untuk membantu kereta bergerak lebih cepat di sepanjang jaringan kereta.

Baca juga: Nanyang University Punya Bus Kampus Elektrik? Unpad dan UI Juga Punya Tapi…

CEO dan General manajer Enel, Frencesco Starace pada bulan lalu menandatangani kesepakatan terkait proyek tersebut dengan direktur utama kereta api Rusia Belozerov Oleg Valentinovich.

“Kami akan bekerja sama terutama untuk pengembangan sistem penyimpanan energi inovatif yang akan dipasang di seluruh jaringan kereta api negara tersebut. Ini merupakan pertamakalinya teknologi jenis baterai digunkana di sektor perkeretaapian,” ujar keterangan tertulis dari Enel yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman greentechmedia.com (13/6/2018).

Proyek baterai ini sendiri akan disampaikan melalui divisi lanjutan Enel, Enel X dan RusEnergoSbytserta pemasok jaringan listrik kereta api yang dimiliki Enel dan ESN grup dan perusahaan energi milik direktur kereta api RUsia Grigory Berezkin. Starace mengatakan, proyek tersebut akan dilakukan diversifikasi dalam portofolio penyimpanan Enel yang akan memberi solusi dan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik pelanggan dan pasar.

Sayangnya, pada proyek ini, tidak ada informasi lain dan komentar yang diberikan oleh pihak Enel. Mereka juga menolak memberikan informasi lebih lanjut.

Namun, proyek yang menggunakan baterai lithium-ion tersebut dari kabar yang beredar akan dicoba dengan tes selama tiga bulan di laboratorium RZhD pada akhir tahun ini. Tes ini nantinya akan menggunakan baterai tunggal yang aman dan sistem dengan perangkat lunak Enel X untuk memantau permintaan energi tertentu di jaringan kereta api yakni sepanjang 27 ribu mil atau sepanjang 43.452 km yang di aliri listrik di Rusia.

Nantinya sistem akan beralih ke baterai ketika daya yang diambil dari kereta melebihi kapasitas pasokan listrik. Hal ini untuk membantu menjaga layanan tetap berjalan bahkan selama periode puncak dan dengan frekuensi layanan kereta api yang lebih tinggi.

Baca juga: Wujudkan Mimpi, Pemilik Resor di Australia Hadirkan Kereta Bertenaga Sel Surya

Setelah dikonfirmasi pemasangan baterai tersebut, pihak Enel mengatakan, akan memasangnya di dekat rel kereta bukan di kereta apinya. Tujuannya adalah untuk menangkap dan menyimpan daya pengereman regeneratif meski perangkat lunak kontrol telah di kembangkan dalam Enel X.

Namun, tidak diketahui secara jelas apakah sistem ini akan berdasar dari yang didapat Enel dalam beberapa tahun. Pihak Enel sendiri sampai saat ini belum mengungkapkan perangkat lunak untuk jaringan kereta api Rusia tersebut akan dari satu atau kombinasi hasil akuisisi atau dari sumber berbeda yang sepenuhnya.

Alipay, Platform Pembayaran Bagi Pelancong Cina Pertama di Jepang

Jepang, negara maju yang menjadi salah satu tujuan wisata pelancong dunia, baik dari Eropa hingga kawasan Asia sendiri. Salah satunya adalah pelancong asal Cina, yang menyumbang 25,6 persen pengunjung asing pada 2017 lalu ke Jepang.

Baca juga: Tap Ponsel Pintar, Satu Detik Masuk Stasiun Tanpa Antri Tiket

Dengan jumlah pelancong Cina yang datang ke Jepang cukup banyak, maka sistem monorail Okinawa dibuat mudah oleh Urban Monorail Inc. Dimana perusahaan ini melakukan uji coba pembayaran ongkos kereta dengan platform berbasis kode Quick Respons (QR) yang dibuat oleh Alipay yang merupakan anak perusahaan China’s Alibaba Group.

KabarPenumpang.com melansir dari laman japantimes.co.jp (21/6/2018), Hadirnya platform Alipay dengan kode QR nantinya bisa memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pelancong asal Cina. Percobaan dilakukan pada Jumat (20/6/2018) di Yui Rail Okinawa yang dimana penumpang saat melalui gerbang hanya menunjukkan kode QR tersebut pada layar ponsel mereka.

Sehingga para pelancong Cina akan dimudahkan tanpa harus lagi membeli tiket kertas. Hadirnya Alipay sendiri merupakan kerjasama Alibaba affiliate Ant Financial Japan dan empat perusahaan lainnya untuk membuat Okinawa Urban ini menjadi sistem gerbang kereta api Jepang pertama yang menggunakan sistem pembayaran elektronik dari luar negeri.

“Monorail yang menghubungkan Bandara Naha di Okinawa dengan pusat kota saat ini sudah memiliki sistem gerbang yang bisa membaca kode QR. Ini yang membuat uji coba lebih mudah dilakukan,” ujar juru bicara Orix Corp yang akan menjadi operator Alipay di Jepang.

Seorang pejabat Ant Financial Jepang mengatakan, percobaan ini sendiri hanya akan menargetkan pada pelancong Cina. Diketahui, hingga kini lebih dari 50 ribu toko di Jepang sudah menggunakan Alipay yang menerima pembayaran mobile dengan keterkaitan rekening Bank di Cina.

Baca juga: Tingkatkan Keselamatan, Jepang Luncurkan Pemindai QR Code di Peron Kereta Bawah Tanah

“Akun Alipay pelancong Cina yang menggunakan kereta api Okinawa hanya ada satu persen,” ujar Penanggung Jawab Proyek Urban Monororail di Okinawa, Masaki Oshiro.

Oshiro menambahkan, ada baiknya untuk kedepan, Jepang  memiliki berbagai metode pembayaran seperti Alipay. Sebab ini bisa memudahkan pelancong dan tidak harus memaksa mereka untuk menukar mata uang tunai dan membeli tiket.

Survei: Pelancong Bisnis Lebih Betah Berada di Bandara Ketimbang Stasiun!

Hadirnya wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, membawa keuntungan tersendiri pada sebuah negara. Sebagai salah satu gerbang masuknya para wisatawan tersebut, wajar adanya jika bandara, stasiun, hingga pelabuhan berlomba-lomba untuk memperindah infrastukturnya.Tujuannya hanya satu, yaitu untuk meninggalkan impresi yang berkesan pada siapapun yang menginjakkan kaki di sana. Namun, apakah itu semua berjalan sesuai dengan rencana? Belum tentu, karena semua itu kembali terhadap penilaian masing-masing pelancong.

Baca Juga: Bandara Kuala Lumpur Hadirkan “MYairports” untuk Mudahkan Penumpang

Sebagai seorang pelancong, terutama yang datang ke sebuah negara dengan menggunakan visa wisata, padahal tujuan sampingannya adalah untuk ‘berbisnis’, tentu mereka punya standar keamanan yang sedikit lebih tinggi ketimbang pelancong backpacker. Maka tidak heran jika sebuah survei yang dilakukan oleh CWT Solutions Group (konsultan perjalanan bisnis), menunjukkan bahwa para pelancong tersebut merasa lebih aman ketika berada di sebuah bandara, ketimbang stasiun kereta.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman eturbonews.com (28/6/2018), sebanyak 50 persen dari sejumlah pelancong bisnis yang wawancara mengaku khawatir ketika mereka berada di stasiun kereta api atau stasiun kereta bawah tanah. Angka tersebut merupakan yang tertinggi ketimbang beberapa opsi perjalanan lainnya, seperti berjalan kaki (42 persen), bus (39 persen), dan taksi (36 persen).

Namun beberapa tempat seperti bandara dan hotel muncul di deretan belakang tempat yang dikhawatirkan oleh para pelancong bisnis. Survei tersebut pun mengerucutkan bahwa pelancong bisnis yang berdomisili di Amerika Serikat paling khawatir ketika harus berada di jaringan kereta bawah tanah atau stasiun kereta, sedangkan para pelancong bisnis asal Kanada menunjukkan angka yang sebaliknya.

“Travel manager harus memfokuskan program tentang apa yang ditakuti oleh para pelancong bisnis tersebut. Apakah itu dari segi keamanan, atau yang lainnya,” ungkap Christophe Renard, Wakil Presiden CWT Solutions Group. “Kehadiran sejumlah instruksi yang jelas untuk keluar dari bandara (exit sign) dapat berpengaruh besar terhadap impresi seorang pelancong bisnis,” tandasnya.

Baca Juga: Terungkap! Banyak Belokan Ke Kiri, Buat Calon Penumpang Lebih Banyak Belanja di Bandara

Selain soal adanya instrumen tambahan seperti exit sign tersebut, mungkin soal keamanan merupakan aspek utama yang melatarbelakangi ketakutan para pelancong bisnis untuk berlama-lama di stasiun bawah tanah atau stasiun biasa. Ya, nilai keamanan merupakan aspek terpenting yang tidak boleh dikesampingkan oleh para operator infrastruktur transportasi. Karena sebagus apapun hiasan yang dipajang di dalamnya, namun apabila tidak aman, ya wajar saja kalau pelancong jadi kurang betah berlama-lama di sana.

Salah Input Koordinat Runway, Pilot AirAsia Nyaris Celakakan Ratusan Penumpang

Selain mengemban tugas untuk menerbangkan penumpang hingga sampai di tujuan dengan selamat dan sesuai prosedur, tugas lain yang juga bersandar di bahu seorang pilot adalah memastikan keseluruhan aspek pra-penerbangan sudah sesuai dengan pengarahan sebelumnya. Lalu bagaimana jika sang pilot salah menginput salah satu persiapan pra-penerbangan? Inilah yang terjadi pada maskapai AirAsia penerbangan dari Perth ke Denpasar, Bali.

Baca Juga: Dianggap Seronok, Soal Kostum Pramugari AirAsia Diadukan Ke Pejabat Malaysia

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman perthnow.com.au (29/6/2018), seorang pilot asal Indonesia dikabarkan salah memasukkan koordinat landasan ke dalam komputer pesawat. Akibatnya, pesawat berbelok arah secara mendadak tidak lama setelah take off. Kejadian ini sendiri terjadi pada tanggal 24 November 2017 silam, namun pihak Australia Transport Safety Bureau (ATSB) baru merilis penyebab insiden tersebut terjadi tadi pagi.

Kejadian ini bermula ketika sang pilot mendaftarkan PK-AZE yang dioperasikan oleh AirAsia Indonesia sebagai penerbangan bernomor QZ535, dengan rute Perth menuju Denpasar. Ketika melakukan persiapan pra-penerbangan, sang pilot memasukkan rencana penerbangan ke dalam Flight Management Guidance Computer (FMGC). “Sang pilot percaya bahwa akan lepas landas dari runway 3,” tulis laporan yang dirilis ATSB.

Namun pilot yang berkebangsaan Indonesia tersebut mendengar dari Automatic Terminal Information Service (ATIS) bahwa sebenarnya runway yang harus digunakan adalah runway 21 – landasan yang sama, namun dengan arah yang berbeda. Akhirnya sang pilot memasukkan runway 21 sebagai landasan untuk take off, dan sialnya itu merupakan arah yang salah.

Ketika pesawat baru saja take off dari runway 21, pesawat lalu berbelok arah di ketinggian 260mdpl, ketinggian yang belum aman untuk melakukan sebuah manuver. Kendati begitu, pesawat bisa kembali ke jalurnya dan melanjutkan penerbangan menuju Pulau Dewata.

Baca Juga: Urat Malu Putus, Penumpang AirAsia Ini Kekeh Pindah Ke Bangku Premium

Dapat Anda bayangkan betapa bahayanya keteledoran semacam itu, dimana rute penerbangan yang sudah ditentukan dan diatur sebelumnya, tidak menutup kemungkinan terjadi tabrakan semisal ada pesawat yang berada di lintasan QZ535 yang salah tersebut.

Karena dianggap telah menyalahi aturan yang berlaku, maka sejumlah otoritas penerbangan tengah melakukan investigasi lebih lanjut terhadap perkembangan kasus yang nyaris merenggut ratusan nyawa penumpang tersebut.

FlixBus – Model Bisnis Bus Baru Asal Jerman, Mahakarya Tiga Entrepreneur Muda

Semisal di Indonesia ada Damri yang menjadi salah satu tulang punggung penyedia jasa layanan transportasi bus, maka Negeri Bavaria Jerman punya FlixBus. Perusahaan ini sendiri meluncurkan layanan perdananya pada tahun 2013, mengikuti deregulasi pasar bus Jeman. Sama halnya seperti penyedia jasa layanan bus di belahan negara lain, tujuan hadirnya FlixBus adalah untuk disandingkan dengan sarana tranportasi lain di Jeman, seperti layanan ride-sharing dan Deutsche Bahn.

Baca Juga: 10 Halte Bus Ini Jelas Tidak Biasa

Diprakarsai oleh Daniel Krauss, Jochen Engert, André Schwämmlein, FlixBus lalu berkembang menjadi model bisnis yang unik – sebuah startup, layanan online, dan bisnis di sektor transportasi. Selayaknya Uber, FlixBus pun lama kelamaan berkembang menjadi sebuah perusahaan besar yang punya pasarnya tersendiri. Tidak hanya di Jerman, layanan FlixBus pun dewasa ini mulai berkembang di negara-negara Eropa lainnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman total-croatia-news.com, layanan FlixBus yang bisa dibilang menjadi salah satu inovasi jasa transportasi bus berbasis online pun menjadi primadona baru di Kroasia pada awal kemunculannya di sekitar tahun 2016 silam. Perkembangannya yang cukup signifikan lalu menjaring ratusan perusahaan kecil untuk turut berbaur ke dalam perusahaan yang berbasis di Berlin ini.

Layanan Flixbus sendiri bekerja sama dengan sejumlah perusahaan bus regional dari seluruh Eropa. Mitra lokal bertanggung jawab atas rute pengoperasian sehari-hari, sementara Flixbus bertanggung jawab atas otorisasi resmi yang diperlukan untuk mengoperasikan jaringan jarak jauh. Flixbus menangani perencanaan jaringan, pemasaran, penetapan harga, manajemen mutu, dan layanan pelanggan. Model bisnis seperti ini memungkinkan perusahaan untuk berkembang dengan cepat. Di sisi lain, kualitas bus tergantung pada armada yang tersedia di setiap sub kontraktor.

Baca Juga: Volvo Rilis Dua Model Bus Terbaru Untuk Wisata dan Perjalanan Jarak Jauh

Dengan beredarnya bus ini di Jerman dan Kroasia, sudah barang tentu mereka membuka koneksi baru dengan menghubungkan sejumlah kota di Benua Biru. Tidak hanya di Eropa, pada tanggal 15 Mei 2018 kemarin, FlixBus baru saja mengembangkan sayap bisnisnya hingga ke Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dengan menjadikan Los Angeles sebagai hub utamanya, rencananya perusahaan ini akan menghubungkan beberapa kota penting di sana, seperti Las Vegas, San Diego, Tucson, dan Phoenix.

Di Kroasia sendiri, salah satu negara dengan penyebaran Flixbus terbesar, layanan ini telah mengkoneksikan lebih dari 20 kota di Ktoasia dengan sekitar 40 kota lain di Eropa, termasuk Slovenia, Austria, Italia, Jerman, dan Swiss.

Pengendara Sepeda Dilempar Kesemak-Semak oleh Penumpang Mobil

Bersepeda merupakan salah satu olahraga yang paling menyenangkan. Sebab sembari berolahraga, menghirup udara segar saat pagi hari dengan bersepeda adalah hal yang paling baik.

Baca juga: Lima Poin ini Siap Ubah Persepsi dan Jadikan Anda Seorang Komuter Sepeda!

Tapi apa jadinya, jika saat sedang bersepeda untuk berolahraga di jalan besar dan sudah berada di lajurnya, kemudian diganggu pengemudi kendaraan lainnya bahkan membuat cedera atau yang lebih parah lagi meninggal? Baru-baru ini dilansir KabarPenumpang.com dari laman somersetlive.co.uk (28/6/2018), seorang pria pengendara sepeda di dorong penumpang mobil yang mendahuluinya hingga terpental ke semak-semak.

Dari video yang tersebar, di dalam mobil tersebut setidaknya ada tiga orang di dalam mobil dan mendorong pengendara sepeda tersebut di jalanan umum. Video tersebut diambil oleh penumpang yang dududk dibagian belakang mobil dan pelaku pendorong terlihat berdiri dan bersandar di jendela mobil.

Kemudian, pria pelaku pendorongan menarik pengendara sepeda dan melemparkannya ke rerumputan pas di pinggir jalan yang mereka laluinya. Dalam video, pengendara sepeda terpental dan terguling ke semak-semak.

Sayangnya tidak diketahui bagaimana kondisi pengendara sepeda tersebut. Video yang diposting di grup Facebook dengan caption Idiot Drivers Exposed ini telah dilihat sebanyak 280 ribu kali saat pertama kali diunggah pada 27 Juni 2018 kemarin.

Banyak warganet yang mengomentari kejadian tersebut, salah seorangnya adalah Shjeel Ahmed yang mengatakan, pengendara sepeda itu mungkin telah meninggal atau mengalami cedera berat.

“Dia dilemparkan dari sepeda seperti itu dengan kecepatan goes yang cukup tinggi,” tulis Ahmed.

Lain lagi dengan Jennifer Ann Bracegirdle yang melihat hal tersebut dan mengatakan sangat tidak baik perlakuan penumpang mobil.

Baca juga: Israel Railways Hadirkan Sepeda di Stasiun untuk Mudahkan Akses Penumpang

“Pengendara ini bisa terluka parah bahkan meninggal. Dia jelas pengendara sepeda yang benar karena menggoes dengan cepat dan berada di pinggir jalan bahkan tidak mengganggu lalu lintas lainnya. Kekerasan yang dilakukan ini tanpa berpikir dan ini sama seperti melempar seseorang kedepan bus,” tulisnya.

“Jika Anda pernah menerima sesuatu yang begitu jahat seperti ini, itu menakutkan dan tidak sedikit lucu. Orang tolol ini harus dituntut dengan percobaan pembunuhan! Tindakannya di sini adalah nekat untuk membahayakan hidup dengan niat,” tulis Mark A Leavesley.

Duuh.. Mobil Golf Pendukung Disabilitas dan Orang Tua ‘Nyungsep’ ke Rel Kereta

Beragam fasilitas pendukung yang disediakan oleh penyedia layanan kereta api di berbagai negara semata-mata ditujukan untuk meningkatkan pengalaman penumpang dan memanjakan mobilitas mereka. Seperti di India, tepatnya di Stasiun Dadar, operator kereta menyewakan mobil golf yang biasa digunakan oleh orang-orang tua atau penyandang disabilitas. Namun apa jadinya jika fasilitas pendukung seperti ini malah menimbulkan masalah baru bagi stasiun terkait?

Baca Juga: Stasiun Kereta ‘Rasa Bandara Internasional’ Siap Hadir di India

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (26/6/2018), alih-alih mengangkut penyandang disabilitas atau orang tua, mobil listrik bertenaga baterai ini malah tergelincir di salah satu peron Stasiun Dadar. Untungnya, mobil tersebut tengah tidak melakukan operasi, sehingga tidak ada korban jiwa dalam insiden ini. Anant Sudrik yang berperan sebagai pengemudi mobil nahas ini pun hanya menderita luka ringan.

Sumber: indiatimes.com

Kepada media setempat, Anant mengaku kehilangan kemudi ketika dirinya tengah tergesa-gesa di salah satu peron selepas mengantarkan salah seorang tua ke dalam kereta. “Kejadian ini sendiri terjadi pada pukul 14.30 waktu setempat, mobil golf jatuh ke rel yang berdekatan dengan peron 7, yang khusus untuk melayani perjalanan jarak jauh eksklusif,” terang salah satu pejabat di Central Railway.

“Kendati tidak ada kerusakan pada infrastuktur (rel), namun pengemudi tersebut dianggap lalai dan akan dikenai denda sebesar Rs5.000 (sekitar Rp1.000.000),” tandas narasumber yang enggan membongkar identitasnya tersebut. Tidak hanya menjadi seseorang yang berada di balik insiden ini, Anant pun dinilai lalai karena telah memasuki zona yang bukan menjadi daerah operasinya.

Baca Juga: Lukisan Dinding Ramaikan 100 Stasiun di India

“Mobil golf sebenarnya tidak diperbolehkan masuk ke peron 5 dan 6, karena itu terlalu berresiko,” ujar sang narasumber. Seharusnya, ia menambahkan, para penyandang disabilitas atau orang tua bisa menggunakan layanan kursi roda yang disediakan oleh pihak stasiun jika hendak masuk ke peron 5 dan 6.

Tuduhan kelalaian Anant semakin diperparah ketika dikaitkan dengan kecepatan maksimal dari si mobil golf sendiri yang hanya mencapai kecepatan kurang dari 10km/jam. Tidak heran jika banyak pihak yang lalu mempertanyakan faktor keselamatan dari fasilitas penunjang stasiun tersebut. Duh, ada-ada saja, ya!

Books On a Bus, Perpustakaan Mobile yang Sambangi Daerah Berpenghasilan Minim

Nampaknya kalimat “Buku Adalah Jendela Dunia” tidak akan lekang oleh waktu, kendati perkembangan jaman sudah membawa banyak kemudahan bagi siapa saja yang hendak mencari informasi. Kuatnya jargon tersebut sampai-sampai mendorong sejumlah kreatif untuk memberdayakan moda transportasi sebagai perpustakaan berjalan. Semisal di Indonesia ada Kereta Pustaka, maka lain halnya dengan yang ada di Negeri Paman Sam.

Baca Juga: Kereta Pustaka Indonesia – Cerdaskan Bangsa di Usianya yang Senja

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman dnj.com (1/6/2018), sekolah bernama Murfreesboro City School meluncurkan bus yang dialihfungsikan menjadi sebuah perpustakaan berjalan bernama Books On a Bus (BOB) pada Kamis (31/5/2018) kemarin. Sebelumnya, bus dengan kapasitas 86 penumpang ini dioperasikan sebagai moda untuk mengangkut anak-anak sekolah pada tahun 2017 yang lalu.

Sumber: dnj.com

Bermodalkan dana sebesar US$40.000 atau yang setara dengan Rp565,6 juta, salah satu direksi dari Murfreesboro City School Linda Gilbert lalu mentransformasikan bus ini menjadi sebuah perpustakaan keliling dalam jangka waktu dua setengah bulan saja.

Mengusung visi untuk menjangkau para pembaca, BOB lalu tidak hanya diam saja di satu titik dan menunggu para peminat baca datang menghampirinya, melainkan bus ini terus melakukan mobilitas setiap harinya dan melakukan sejumlah pemberhentian. Diketahui bus perpustakaan ini melakukan pemberhentian 15 kali dalam seminggu di komplek-komplek dan apartemen di beberapa kota dengan penghasilan warganya yang bisa dibilang rendah.

Sekitar 1000 buku dipamerkan dalam bus ini, mulai dari buku untuk anak berusia dua tahun hingga kelas 6 SD dapat ditemukan di sini. Uniknya, para pengunjung tidak hanya dapat membacanya ditempat, melainkan dapat membawanya pulang.

Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!

Pihak penyedia layanan mengatakan bahwa musim panas merupakan waktu yang krusial bagi para pelajar, terutama bagi mereka yang tidak mengambil program pendidikan semasa waktu liburan panjang tersebut. Sebuah studi menunjukkan bahwa libur musim panas merupakan celah bagi setiap pelajar untuk menurunkan kebiasaan ‘bersentuhan’ dengan dunia akademis, dan hal tersebutlah yang coba diberantas oleh bus perpustakaan BOB ini. Inspiratif ya!

Operator Kereta SJ Lakukan Uji Coba Augmented Reality di Stasiun Stockholm Central

Ketika teknologi dunia perkeretaapian semakin canggih, Swedia juga tak mau kalah untuk mengembangka fitur pada basis sistem transportasinya tersebut. Baru-baru ini, di Stockholm, Swedia, dihadirkan Augmented Reality (AR) untuk menavigasi penumpang saat berada di stasiun tersibuknya yakni Stockholm Central.

Baca juga: Mudahkan Calon Penumpang, Bandara Gatwick Adopsi Augmented Reality

KabarPenumpang.com merangkum dari laman railway-technology.com (27/6/2018), bahwa inisiatif baru ini dihadirkan dalam bentuk JS Labs oleh operator kereta penumpang Statens Järnvägar (SJ) yang mana kereta apinya melayani Stockholm Central. Ini merupakan aplikasi interaktif yang menggunakan AR untuk membantu penumpang menavigasi menuju platform keberangkatan mereka.

Penumpang nantinya hanya mengunduh aplikasi dan memindai kode QR kemudian memasukkan tujuan platform yang diinginkan. Selanjutnya penumpang membuka kamera pada ponsel cerdas mereka dan melalui kamera tersebut akan menunjukkan sejumlah petunjuk digital untuk membimbing penumpang sampai tujuan serta tambahan kunci sepanjang jalan.

Fitur AR sendiri kini masih dalam tahap uji coba dan kemungkinan peluncurannya pada musim gugur ini. SJ sendiri berharap fitur AR mampu membuktikannya kepada penumpang dan pengembang bahwa teknologi ini bisa membantu.

Apalagi pada musim panas di Stockholm, akan ada pemeliharaan ekstensif di rute alternatif stasiun Stockholm Central. Direktur pengembangan bisnis dan transformasi digital aplikasi Claes Lidholtz mengatakan, teknologi AR ini merupakan strategi perusahaan untuk menarik umpan balik dari para penumpang untuk meningkatkan layanan utama.

“SJ Labs sendiri merupakan sebuah konsep dimana kami mencoba mengembangkan layanan baru untuk pelanggan kami, bersama dengan pelanggan kami, dan kami cenderung beralih dari ide untuk diluncurkan dalam waktu delapan minggu,” jelas Lindholtz.

Dia mengatakan, ini adalah bagian penting dari penilitian konstan pihaknya dalam menemukan cara dan inovatif untuk memudahkan pelanggan melakukan perjalanan dengan kereta api dan melibatkan dalam proses pengembangan. Lindholtz menambahkan pemilihan Stockholm Central dalam uji coba fitur AR ini sendiri dikarenakan sebagai tujuan wisata terbesar di Swedia dan stasiun kereta api tersibuk di seluruh Skandinavia yang menyambut 200 ribu penumpang setiap harinya.

Baca juga: Sukses Curi Hati Penyandang Disabilitas, Swiss Federal Railways Rajai Perkeretaapian di Eropa!

“Fitur tersebut nantinya akan diluncurkan secara permanen, jika pelanggan menganggap ini adalah layanan yang baik dan benar-benar membantu mereka serta hasil pengujian juga memutuskan hal tersebut. Sebab kami berada diantaranya dan pada musim gugur ini pelanggan akan tahu apakah akan diluncurkan atau tidaknya fitur AR dari SJ Labs,” jelasnya.