Pintu Darurat Douglas MD-83 Lepas, Masih “Untung” Kejadian Saat Mendarat!

Pintu maupun jendela darurat sejatinya dibuat untuk berjaga-jaga jika terjadi kondisi terburuk dalam sebuah penerbangan. Tetapi, apa jadinya jika pintu atau jendela darurat ini terlepas saat mendarat? Baru-baru ini, sebuah pintu darurat lepas dan untungnya itu terjadi saat mendarat di bandara.

Baca juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara

KabarPenumpang.com melansir dari cnn.com (12/2/2018), insiden lepasnya pintu pesawat Douglas MD-83 ini terjadi pada penerbangan maskapai Dana Airline dari Lagos menuju Abuja di Nigeria pada Rabu (7/2/2018) kemarin. Peristiwa lepasnya pintu darurat pesawat ini menjadi viral di media sosial setelah seorang penumpang yang juga dokter bernama Ola Orekunrin memposting di Twitter miliknya.

Ola mentweet pintu darurat pesawat yang ditumpanginya lepas ketika mendarat di Abuja pukul 06.48 waktu setempat. Dia menambahkan, pintu tersebut terlihat tidak stabil selama penerbangan.

Tweet Ola juga di dukung oleh penumpang lain yakni Igah Dagogo yang juga dalam penerbangan sama. Dia mengatakan, pintu darurat tersebut memang tidak terpasang dengan benar sebelum lepas landas dari Lagos.

Pintu darurat pesawat Dana Airlines Lepas (CNN)

“Saya berjarak dekat dari pintu keluar darurat, jadi saya bisa melihat kalau pegangan pintunya tidak rapat. Saat itu pesawat sedang melakukan proses taxi di landasan sebelum tiba-tiba pintu darurat terlepas dan hampir mengenai penumpang,” ujar Dagogo.

Dia mengatakan, lepasnya pintu tersebut kemungkinan karena angin dan penumpang yang lain melihat serta mengabadikan peristiwa tersebut. Dagogo menambahkan, dirinya tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika pintu tersebut lepas saat pesawat tengah mengudara.

Adanya peristiwa lepasnya pintu darurat, pihak maskapai Dana Airlines mengeluarkan pernyataan resmi terkait hal tersebut. Tak hanya itu, pihak maskapai juga langsung melakukan pengecekan.

“Pengecekan menyeluruh telah dilakukan oleh teknisi kami dan tim Nigerian Civil Aviation Authority (NCAA) ketika pesawat mendarat di Abuja. Tidak ada masalah yang dilaporkan dan juga terkait ancaman keselamatan penumpang,” ujar pernyataan tersebut.

Uniknya, Dagogo bersama enam orang penumpang lainnya yang menyaksikan kejadian tersebut kembali terbang dengan Dana Airlines dari Abuja menuju Lagos pada malam harinya. “Kami bertujuh terbang kembali ke Lagos dengan penerbangan malam. Saya mengambil penerbangan sesuai waktu saya. Hanya Tuhanlah yang menentukan nasib saya,” ujar Dagogo.

Baca juga: Pintu Kabin Terbuka Saat Mengudara, Mengerikan Tapi Bukan Akhir Dari Segalanya

Perihal pintu darurat yang lepas, sebenarnya sangat berbahaya dimana kabin akan menyebabkan dekompresi dan akan kehilangan oksigen. Apalagi jika pintu darurat terbuka dan ada penumpang yang duduk didekatnya pasti akan terlempar keluar pesawat.

Selai itu suhu dalam kabin juga akan turun ke level terendah dan hal terparahnya adalah pesawat akan pecah. Biasanya saat dekompresi masker oksigen akan keluar secara otomatis dari atas penumpang.

Pengalaman Penumpang Jadi Penentu Pertumbuhan Layanan Kereta Cepat

Kemajuan teknologi yang melesat pesat belakangan ini membawa dampak positif bagi para konsumennya, tidak terkecuali di sektor transportasi. Kehadiran kereta cepat yang semakin menjamur di berbagai belahan dunia membuka kemungkinan persaingan antar moda, yaitu pesawat dan kereta cepat. Dengan estimasi perjalanan yang tidak jauh berbeda, namun perjalanan dengan menggunakan kereta cepat, para penumpang tidak perlu merogoh kocek sedalam perjalanan udara.

Baca Juga: Fenomena Kereta Tabrak Burung Jadi Dampak Ekologi Kehadiran Bullet Train?

Hipotesa inilah yang akhirnya membuat para peneliti beranggapan bahwa di masa yang akan datang perjalanan darat dengan menggunakan kereta akan meruntuhkan kedigdayaan dunia dirgantara, terutama pada segmen penerbangan jarak pendek. Anomali runtuhnya kejayaan sektor udara ini mulai terlihat manakala banyak maskapai yang berbondong-bondong menyediakan rute penerbangan bertarif rendah (LCC). Beragam promosi dan peningkatan pelayanan juga terus diakselerasi oleh para pegiat perjalanan udara demi meraih hati konsumen.

Tapi jangan salah, hadirnya sang kuda hitam, kereta cepat, bukan tanpa beban. Para penyedia layanan ini mesti memikirkan bagaimana cara untuk memastikan para calon penumpang untuk memilih layanan ini. Banyaknya pengembangan dan perbaikan yang dilakukan di ceruk teknologi hingga opersional seolah menganaktirikan pengalaman penumpang, dimana poin ini memegang peranan yang sangat penting dalam kemajuan industri kereta cepat.

Adalah Paul Priestman, ketua PriestmanGoode yang bergerak di bidang desain produk, lingkungan, transportasi, dan penerbangan mengatakan bahwa pihaknya pernah berperan sebagai katalisator perubahan wajah perjalanan udara global dengan ide tempat duduk datarnya. Menurut Paul, perubahan tempat duduk pada maskapai British Airways dan Virgin Atlantic inilah yang akhirnya menjadi faktor pendorong utama peningkatan pengalaman perjalanan penumpang.

Walaupun dari segi ini kereta cepat tidak perlu unggul sepenuhnya dari pesawat, namun Paul menggarisbawahi bahwa saingan utama kereta cepat di sini adalah penerbangan jarak pendek. Ia mencontohkan kesuksesan Eurostar yang berhasil memangkas waktu perjalanan dari dan menuju bandara. Dirinya beranggapan, bukan tidak mungkin kereta cepat mampu mengambil pasar penerbangan jarak pendek.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman globalrailwayreview.com (6/2/2018), pesaing lain yang berpotensi menghambat laju perkembangan kereta cepat adalah kendaraan pribadi. Namun Paul beranggapan bahwa kereta cepat menawarkan kenyamanan dan potensi para penumpang untuk memaksimalkan produktifitas mereka. Para pengguna jasa kereta cepat bisa tetap melanjutkan pekerjaan mereka dengan menggunakan laptop dan koneksi internet yang tersedia di jaringan kereta cepat. Lagi, di sini Paul menegaskan bahwa pengalaman perjalanan penumpang dapat serta merta meningkat jika pihak penyedia jasa pun memperhatikan kenyamanan dan aksesibilitas penumpang.

Baca Juga: Ini Dia Kendala Utama Pembangunan Jalur Kereta Elizabeth

Menurut Paul, kehadiran bangku yang empuk, meja lipat, konektifitas internet yang cepat, hingga berbagai pelayanan menjadi tolak ukur pengalaman perjalanan penumpang yang tidak boleh dinomorduakan, karena kelangsungan nafas bisnis transportasi bergantung pada penumpang itu sendiri.

Antisipasi Tindakan Negatif, Kota Cambridge Pasang CCTV di Taksi Online

Sudah banyak pemberitaan yang menyebutkan tentang aksi kekerasan yang terjadi di taksi hingga moda transportasi berbasis online. Dukungan berbagai platform sosial media membuat pemberitaan semacam ini cepat menyebar, bahkan sampai ke dewan direksi perusahaan terkait. Maka dari itu, sebagian golongan menyarankan untuk melakukan instalasi kamera pengawas di dalam moda-moda yang memungkinkan kejadian seperti ini terulang.

Baca Juga: Penumpang Ngamuk, Sopir Taksi Online Diludahi

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cambridge-news.co.uk (26/1/2018), sebuah distrik di Inggris bernama South Cambridgeshire memberlakukan kebijakan baru berbentuk perizinan terhadap penggunaan CCTV di dalam angkutan umum. Kebijakan ini akan berlaku di semua taksi bertanda khusus dan kendaraan pribadi yang beralih fungsi menjadi moda transportasi berbasis online.

Kebijakan baru ini ditujukan untuk melindungi para pengemudi dan penumpang dari ancaman kekerasan yang mungkin dilakukan oleh salah satu di antara dua pihak tersebut, karena CCTV yang terpasang di kendaraan tersebut akan merekam setiap perjalanan mereka dan bisa menjadi bukti otentik jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di dalamnya.

Tidak hanya sebatas kekerasan, tapi juga pelecehan seksual di taksi dan moda transportasi berbasis online yang beberapa kali pernah menjadi topik perbincangan hangat juga dapat diantisipasi dengan adanya kebijakan mengenai pemasangan kamera pengawas ini.

Sebelumnya, perjalanan Uber di Cambridge tidaklah semulus di kota-kota lain di Inggris. Pasalnya, perusahaan ride sharing yang didirikan oleh Travis Kalanick dan Garrett Camp ini sempat menerima kecaman dari taksi lokal dan warga Cambridge yang mempertanyakan soal keamanan publik ketika mereka mengendarai armada Uber.

Tidak hanya itu, pihak berwenang di London dan York juga mengecam armada perusahaan yang berbasis di San Francisco, California, Amerika Serikat ini untuk beroperasi lebih lama lagi di daerah Cambridge dengan beragam alasannya. Namun, Sub-komite perizinan taksi Cambridge City Council memenangkan Uber dan memberikan ijin kepada perusahaan ini untuk tetap beroperasi di daerah tersebut hingga jangka waktu lima tahun ke depan.

Baca Juga: Tidak Pinjamkan Charger, Wanita Ini Ancam Pengemudi Uber

Berkaitan dengan hal tersebut, Uber pun dituntut untuk mengikuti himbauan soal pemasangan CCTV di setiap armadanya. Namun pemasangan CCTV ini masih sebatas himbauan dan panitia dewan perizinan telah merekomendasikan agar panduannya tersebut disetujui. Sementara itu rapat akbar dengan semua pemangku kepentingan akan diadakan pada 22 Februari mendatang, untuk memutuskan apakah peraturan baru ini bisa diterapkan atau tidak.

Seandainya peraturan tentang pemasangan CCTV ini disetujui, maka semua penyedia jasa layanan transportasi terkait akan diberikan waktu hingga bulan April 2020 mendatang untuk segera melengkapi kendaraannya dengan kamera pengawas ini.

Setelah Rp16 Triliun dari Google, GoJek Kembali Dapat Kucuran Rp2 Triliun dari PT Astra Internasional

Kabar mengejutkan datang dari salah satu startup Indonesia yang berkecimpung di dunia transportasi berbasis aplikasi, Gojek. Setelah pada pertengahan Januari 2018 kemarin Gojek mendapat sokongan dana dari mesin pencarian nomor wahid seantero jagad, Google, kini pionir ride sharing di Indonesia tersebut mendapat kucuran dana segar (lagi) dari PT Astra International. Walaupun jumlahnya tidak se-fantastis Google, namun Astra yakin investasinya di Gojek tersebut tidak akan berujung sia-sia.

Baca Juga: Google Gelontorkan Dana Fantastis Ke Gojek, Rp16 Triliun!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Presiden Direktur Astra International, Prijono Sugiarto mengatakan pihaknya melakukan penanaman modal senilai USD$150 juta atau yang setara dengan Rp2 triliun untuk perusahaan penyedia layanan on-demand berbasis aplikasi terbesar Indonesia itu. “Ini investai terbesar kami di dalam bidang digitalisasi sebesar 150 juta dolar AS,” ungkap Prijono, dikutip dari laman republika.com (12/2/2018).

Tentu saja, suntikan dana yang dilakukan oleh Astra menambah panjang berbagai perusahaan raksasa yang menjaminkan sahamnya di Gojek. “Kenapa Astra mau kolaborasi dengan Gojek, ini ada historinya. Melihat kegigihan tinggi untuk memajukan Gojek dan paling penting akan mengubah dunia,” tambahnya dikutip dari sumber lain.

Meski sudah blak-blakan dengan nilai yang disalurkan untuk Gojek, namun Prijono masih enggan berkomentar mengenai berapa presentase saham yang ia tanamnkan. Lebih lanjut, Ia menegaskan bahwa dana segar tersebut bersumber dari internal cash PT Astra Internasional.

Mantan Sales Engineering Manager di Daimler-Benz Indonesia ini juga menilai, bahwasanya investasi yang Astra tanamkan di Gojek dipercaya mampu mempercepat perkembangan digitalisasi juga di tubuh Astra International itu sendiri.

Sebagai salah satu strategi bisnis yang ditempuh, Prijono percaya bahwa investasi tersebut sangat menarik untuk dilakukan, walaupun hasilnya tidak dapat dinikmati secara instan. “Gojek baru tujuh tahun. Tidak ada juga investasi sekejap. Yang penting kami percaya ini menjadi investasi jangka panjang dan memberi nilai tambah bagi kedua belah pihak,” tutur Prijono.

Baca Juga: Soal Keputusan MA, Menhub Perjuangkan Nasib Taksi Online dalam 3 Bulan

Di sisi lain, CEO dan founder Gojek, Nadiem Makarim mengatakan bahwa kucuran dana segar yang baru saja pihaknya terima dari Astra Internasional Tbk. ini merupakan salah satu investasi terbesar yang pernah diterima. “Ada beberapa fakta menarik investasi ini, pertama ini menjadi investasi terbesar sepanjang sejarah. Ini merupakan hal yang membanggakan pemain besar berpartisipasi dalam ekosistem digital di Indonesia,” jelas Nadiem, dikutip dari laman cnnindonesia.com (12/2/2018).

Sementara itu, sempat beredar kabar soal pihak Grup Djarum yang turut menanamkan saham di Gojek beberapa waktu yang lalu. Namun pemberitaan itu tidaklah benar adanya. Chief Marketing Officer GDP Venture, Danny Oei Wirianto menuturkan rumor yang beredar itu merupakan kesalahpahaman. “Belum deal. Kami masih ngobrol, masih ketemuan doang, belum tahu pastinya,” tukas Danny, dikutip dari sumber terpisah.

Akhir Maret 2018, Bus Damri Bandara Soekarno-Hatta Mulai Uji Coba Pembayaran Tiket Cashless

Saban ingin ke Bandara Soekarno-Hatta naik bus, maka yang terlintas pertama di benak kebanyakan orang adalah nama Damri. Bus Damri tak pelak begitu identik sebagai angkutan bus dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Alhasil meski sudah ada layanan JA Connexion yang dilayani bus Damri dan non Damri, penumpang pun tak sedikit yang tetap beranggapan bahwa Ia sedang naik Damri. Dan berusaha untuk meningkatkan service level, Perum Damri dalam waktu dekat direncanakan akan meluncurkan layanan e-ticketing.

Baca juga: Mulai 10 Februari 2018, Damri JA Connexion Buka Rute Kemang Pratama Ke Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma

“Penyediaan layanan e-ticketing merupakan langkah awal bagi Damri untuk menuju sistem cashless dan digital,” ujar SN Milatia Moemin, Direktur Utama Perum Damri kepada KabarPenumpang.com di kantornya siang ini (12/2/2018). Milatia menambahkan, proyek perdana untuk tiket cashless ini akan dimulai untuk trayek bus Damri Bandara Soekarno-Hatta pada akhir Maret 2018. Menurut informasi, untuk tahap pertama sistem cashless bakal menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture) untuk transaksi dengan kartu debet multi bank.

Milatia yang mulai menjabat sebagai direktur utama Perum Damri pada awal Desember 2017 menjelaskan, bahwa Damri akan memulai serangkaian transformasi, cashless pada bus bandara adalah salah satunya, berikutnya Damri akan melakukan pembenahan pada sistem maintenance dan suku cadang bus. “Diharapkan dengan berbagai perbaikan dan peningkatan layanan, revenue Damri juga akan turut meningkat,” kata Milatia.

Bila uji coba tiket cashless pada bus bandara berhasil, tak menutup kemungkinan selanjutnya Damri menghadirkan mobile ticketing dan penjualan e-ticketing dengan menggandeng sektor retail. Kedepan bus Damri ke bandara juga akan menerima pembayaran lewat e-money. Sebagai informasi, Damri sejak satu bulan lalu justru sudah menghadirkan sistem pembayaran cashless via kertu debet untuk angkutan bus di Bandara Juanda, Surabaya.

Baca juga: Internet of Things Tunjang Transportasi Berbasis Bus

Bagi Perum Damri, layanan bus bandara merupakan tulang punggung pendapatan, hampir 50 persen revenue BUMN ini didapat dari layanan bus trayek bandara. Dengan kontribusi Damri dalam JA Connexion, maka perusahaan dengan nama panjang Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia ini ditargetkan mampu meningkatkan revenue hingga 10 persen setiap tahunnya. (Haryo Adjie)

Setengah Mobil Setengah Pesawat, AeroMobil 4.0 Siap Mengudara di 2020

Jika Anda pernah bermain video game yang menampilkan mobil terbang, nampaknya hal ini akan dapat dinikmati dalam waktu dekat. Pasalnya sebuah manufaktur asal Slovakia diketahui tengah  memberikan sentuhan akhir pada mobil yang tidak hanya mampu berjalan di darat, melainkan dapat pula mengudara. Jika tidak meleset dari agenda, kendaraan dua alam ini akan mulai dikomersialkan pada tahun 2020 mendatang.

Baca Juga: Baidu Uji Coba Mobil Otonom Berbasis Android Apollo

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, adalah AeroMobil 4.0, mobil terbang mahakarya manufaktur AeroMobil ini telah dipamerkan di hadapan publik pada ajang Paris AirShow yang diadakan pada bulan Juni 2017 silam. Penggabungan fungsionalitas mobil dan pesawat dalam satu platform fleksibel seperti ini, menjadikan AeroMobil 4.0 sebagai pusat perhatian pengunjung acara yang diadakan di Bandara Paris-Le Bourget tersebut.

Jika sedang berfungsi sebagai mobil, MaeroMobil 4.0 mampu melaju hingga kecepatan 160 km/jam, sedangkan ketika bertransformasi menjadi pesawat, kendaraan futuristik ini mampu melesat hingga kecepatan 360 km/jam. Moda yang memiliki panjang 5,9m, lebar 2,2m, dan tinggi 1,5m ini mampu mengangkut 960kg berat maksimum ketika take off. Kelebihan lain dari AeroMobil 4.0 ini adalah pemasanagan teknologi dan sistem turbocharging versi terbaru, yang memungkinkan kendaraan ini mendapatkan tenaga dan ketinggian tambahan.

AeroMobil 4.0 dibangun dengan menggunakan teknik konstruksi monocoque, sedangkan permukaan ekor menggabungkan kontrol penerbangan dan geometri suspensi belakang. Kendaraan futuristik ini memperoleh sertifikasi Eropa di bawah kelas EWVTA / M1 dan sertifikasi AS di bawah kelas 49 CFR 571, untuk memastikan kendaraan ini layak terbang.

AeroMobil 4.0 menggunakan kaca depan yang cukup unik untuk kelas mobil, karena bentuknya yang menyerupai kaca kokpit pada pesawat komersil. Tampilan digital terpadu yang tersedia pada bagian kokpit akan menghadirkan informasi operasional dari moda gabungan darat-udara ini. Mobil terbang ini didukung oleh sistem propulsi hibrida-listrik yang mengintegrasikan mesin turbocharged empat silinder turbocharged dan dua motor listrik. Hal ini didukung oleh sistem penggerak roda depan listrik khusus, yang menghasilkan tenaga maksimal 110bhp.

Baca Juga: Saingi Dubai, Singapura Akan Hadirkan Taksi Udara

Lalu bagaimana dengan sayapnya? Lebar sayap 8m yang membentang akan ditempatkan pada bagian belakang AeroMobil 4.0 ketika kendaraan ini berada di jalanan, sehingga para pengguna jalan lain tidak perlu khawatir akan eksistensi sayap yang mengganggu perjalanan mereka.

Nah, bagi Anda yang berminat untuk memiliki AeroMobil 4.0 ini, siap-siap untuk melubangi dompet Anda, karena harga yang dipatok berkisar US$1,6 juta atau yang setara dengan Rp21,8 miliar!

Tapi, satu pertanyaan muncul ketika kesiapan peluncuran moda ini semakin matang. Kira-kira, jenis SIM apa yang akan digunakan oleh pengemudi AeroMobil 4.0? Apakah para pengemudi harus selalu membawa serta sertifikat penerbangan mereka selama berkendara?

Tragedi di Bangkok, Ketika Selfie di Rel Kereta Kembali Merenggut Nyawa

Berselfie atau berswafoto semakin hari semakin ngetren di kalangan anak muda saat ini. Namun terkadang anak muda masa kini tak lagi berpikir logis dengan tempat mereka berselfie ria seperti di tempat-tempat ekstrem. Bahkan sering kali saat berselfie di tempat ekstrem membuat mereka sendiri kehilangan nyawa. Salah satu tempat yang seringkali memakan korban yakni selfie di rel kereta api.

Baca juga: Duh! Orang-orang ini Tewas Karena Selfie di Rel Kereta

KabarPenumpang.com baru-baru ini melansir dari laman vanguardngr.com (9/2/2018), dimana seorang perempuan tewas dan seorang pria kritis tersambar kereta ketika sedang berselfie di rel kereta di Bangkok, Thailand.

Insiden tersebut, diketahui terjadi pada Kamis (8/2/2018), di stasiun Samsen. Seorang saksi mata yang juga teman kedua korban, Amornthep Tipnongwaeng mengatakan, awalnya dia dan keempat temannya tersebut minum-minum dekat rel kereta pukul 04.00 pagi waktu setempat.

Dia mengatakan, dua diantaranya yakni Walailak Sukama dan Amnaj Nawantib yang tengah mabuk berjalan menuju arah rel. Keduanya bermaksud akan berselfie di atas rel, na’as mereka berdua tidak tahu kereta datang dari belakang dan tersambar.

Akibatnya Walailak Sukama tewas di tempat karena terseret kereta sedangkan Amnaj Nawantib terpental dan mengalami luka parah. “Saat ini, mereka sudah dibawa menuju Rumah Sakit Vajira,” ujar Kapten Polisi Wisanusak Sueb In dalam keterangan resmi.

Sueb In mengatakan, saat ini polisi tengah menggelar investigasi untuk menentukan penyebab kejadian. Pejabat perkeretaapian Thailand mengatakan, kelompok tersebut sering nongkrong dan minum bir di dekat rel.

“Perbedaannya adalah saat ini mereka juga mementingkan diri sendiri. Kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka telah mendapat pelajaran sekarang, namun tetap harus dilihat apakah mereka akan kembali ke masa depan,” ujar juru bicara perkeretaapian Thailand.

Baca juga: Miris! Selfie Berujung Maut Pada Moda Transportasi

Tak hanya kejadian ini, dilaporkan pada 24 Januari 2018 seorang pria bernama Shiva asal Hyderabad terluka parah setelah tersambar kereta sembari mengabadaikan aksinya dalam sebuah video. Kemudian adapula lima remaja tertabrak kereta di dua tempat berbeda di India yakni Karnataka dan New Delhi.

Selain itu Desember tahun 2017 lalu, seorang remaja perempuan tewas tersermpet kerea api saat berselfie ria bersama tiga teman lainya. Beberapa waktu lalu juga, KabarPenumpang.com merangkum ada lima kejadian tewasnya anak muda karena berselfie ria di jalur kereta api.

Singapore AirShow 2018: Resmi Tampilkan Konfigurasi, Boeing 737 Max 10 Siap Mengangkasa di 2020

Belum sempat turun euforia para netizen karena peluncuran prototipe Boeing 737 MAX 7 pada awal Februari kemarin, kini perusahaan multinasional yang bermarkas di Illinois, Chicago, Amerika Serikat ini kembali telah memproklamirkan kembali seri terbarunya di perhetalan Singapore AirShow 2018, yakni Boeing 737 Max 10.

Baca Juga: Boeing 737 MAX 7, Pecahkan Rekor Internal Penjualan Pesawat Tercepat Sepanjang Sejarah!

Walaupun rancangan desain Boeing 737 Max 10 telah dirilis pada bulan Juni 2017 silam dalam pagelaran Paris AirShow, namun baru di Singapore AirShow 2018 konfigurasi pesawat ini diumumkan resmi ke publik. Boeing 737 MAX 10 dipercaya mampu mengangkut jumlah penumpang yang sama dengan  kompetitornya, Airbus A320neo. “Dengan pesawat ini, kami bisa mengangkut penumpang dengan jumlah yang sama dengan A320neo dan terbang sedikit lebih jauh,” ungkap VP-Marketing Boeing Commercial, Randy Tinseth.

Pesawat yang memiliki panjang 66 inchi melebihi MAX 9 ini rencananya akan memulai layanannya pada tahun 2020 mendatang. Kendati masih dua tahun lagi memasuki masa layanan, namun Boeing 737 MAX 10 sudah mulai kebanjiran pesanan. Pesawat yang mampu mengangkut penumpang hingga 230 penumpang ini memang menjadi yang terpanjang di kelas MAX yaitu 43,8m, namun jarak tempuhnya tidak melebihi adik-adiknya di kelas MAX. “Kami memang tidak memiliki bangku sebanyak Airbus A321,” ungkap Randy.

Seperti model Boeing 737 MAX lainnya, MAX 10 menggabungkan teknologi terkini CFM International LEAP-1B engine, sayap teknologi Advanced, Boeing Sky Interior, display dek penerbangan besar, dan perbaikan lainnya untuk memberikan efisiensi, keandalan dan kenyamanan penumpang dalam pasar single-aisle ini.

Baca Juga: Lion Air Pesan 50 Unit Boeing 737 MAX 10 Senilai US$6,24 Miliar

Nah, salah satu maskapai Indonesia juga ternyata sudah ada yang memesan Boeing 737 MAX 10 lho! Adalah Lion Air yang melakukan pemesanan sebanyak 50 unit dengan nilai transaksi mencapai US$6,24 miliar atau yang setara dengan Rp 85,1 triliun.

“Lion Air Group menjadi maskapai pengguna pertama di dunia yang mengoperasikan 737 MAX 8 dan merupakan pemesan pertama dari Boeing 737 MAX 9. Dengan komitmen untuk pemesanan 50 unit 737 MAX 10, kami kembali menjadi yang terdepan dalam hal ini, serta membantu meluncurkan versi terbaru dari generasi Boeing 737”, Ujar Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait.

“Boeing merasa terhormat bahwa pesawat 737 terus memainkan peran integral dalam armada dan strategi pertumbuhan Lion Air Group,” tandas Presiden Boeing Commercial Airplanes & CEO Kevin McAllister.

Versi Terbaru SMRConnect, Mampu Informasikan Kepadatan Penumpang di Jalur MRT Singapura

Singapore Mass Rapid Transit (SMRT) belum lama ini memperbarui aplikasi mobile untuk smartphone dengan fitur yang bisa memperkirakan jumlah penumpang kereta sebelum calon penumpang masuk ke dalamnya. Aplikasi yang  disebut SMRTConnect versi terbaru ini resmi diluncurkan pada Senin (5/2/2018) dengan berbagai kode warna yang menggambarkan tingkat kepadatan berbeda-beda di stasiun-stasiun sepanjang jalur Utara-Selatan, Timur-Barat dan jalur Lingkaran.

Baca juga: Layanan MRT di Bandara Changi Ditutup! Apa Penyebabnya?

KabarPenumpang.com melansir dari todayonline.com (5/2/2018), bahwa ikon berwarna hijau menunjukkan layanan kereta normal, bila menunjukkan warna kuning penumpang harus menunggu dua kereta sebelum bisa naik. Jika indikator menunjukkan warna merah, mengindikasi ada empat atau lebih kereta api, sedangkan warna hitam yang ditandai dengan silang berarti sedang tidak ada layanan kereta.

Indikator ini sendiri didasarkan dari penilaian orang banyak yang dilakukan kru di stasiun selama jam sibuk dan setelahnya. Nantinya, pihak operator juga berencana memanfaatkan analisis data dan video untuk mengukur kerumuman penumpang di stasiun MRT, mengumpulkan informasi dari gerbang loket, serta akses WiFi untuk memberi pembaruan lebih cepat pada layanan kereta.

Adanya hal ini, merupakan tujuan pihak operator untuk melakukan perbaikan hingga akhir tahun ini. Tak hanya itu, operator SMRT juga mengatakan, pembaruan yang diluncurkan tahun 2012 lalu sudah membuat aplikasi tersebut diunduh sebanyak 500 ribu kali.

Pembaruan yang dilakukan saat itu dianggap sebagai umpan balik pengguna terkait kedatangan kereta yang tidak tepat waktu dan waktu tunggu yang tidak sesuai terutama jika ada penundaan. Sedangkan pada pembaruan yang terdapat pada aplikasi saat ini, penumpang juga akan dimudahkan untuk melihat waktu kedatangan kereta secara real time di stasiun maupun halte bus.

Dengan pembaruan tersebut, informasi yang sebelumnya hanya menunjukkan bus SMRT kini bertambah dengan SBS Transit, Transit Tower dan Go-Ahead Singapore. Terkait dengan pembaruan aplikasi ini, presiden SMRT Desmon Kuek mengaku bahwa operator tidak selalu mendapatkan hal yang benar.

“Orang-orang terganggu saat kami tidak memperingatkan mereka sebelumnya tentang layanan kereta yang lebih lambat karena pembatasan kecepatan yang harus kami berikan untuk alasan keamanan saat kami memperbaiki jalur tertentu,” ujarnya.

Kuek mengatakan, ketakutan terbesar diantara penumpang adalah ketika mereka tidak mendapatkan informasi yang akurat tentang kedatangan kereta dan waktu tunggu.

“Operator memahami frustasi para penumpang dan kita akan memperbaikinya,” jelas Kuek. Dia berharap, aplikasi yang baru saja ditingkatkan versinya bisa membantu menyelesaikannya dengan pembaruan layanan yang lebih tepat. Pembaruan aplikasi ini sudah tersedia baik di Android maupun iOS dengan tampilan 180 derajat stasiun MRT sehingga penumpang bisa mendapatkan yang terbaik.

Selain itu, operator SMRT baru-baru ini juga meluncurkan teknologi terbaru untuk stasiun termasuk panel empat sisi di dekat pintu masuk stasiun. Ini memungkinkan penumpang mendapat informasi terkait tiket hingga meminta petunjuk ke bangunan terdekat melalui display digital di Pusat Layanan Penumpang.

“Inisiatif ini dilakukan di Stasiun MRT Tanjong Pagar, Somerset dan Bugis. Rencana sedang dilakukan untuk meluncurkan display digital ke 15 stasiun lain dengan lalu lintas manusia yang tinggi di sepanjang garis Utara-Selatan dan Timur-Barat pada bulan April,” ujar Kuek.

Pada pertengahan tahun ini, operator juga akan memperkenalkan slip perjalanan elektronik di semua pemberhentian MRT untuk penumpang yang membutuhkan bukti perjalanan selama gangguan layanan kereta. Hal ini meniadakan kebutuhan untuk mengantri di stasiun untuk mendapatkan slip cetak.

Pada bulan November tahun lalu, Otoritas Transportasi Darat mengatakan bahwa mereka sedang menyelidiki bagaimana operator mengatur pengumuman tentang penundaan layanan, setelah orang-orang yang marah menyuarakan ketidaksenangan pada media sosial bahwa operator kereta api SMRT dan SBS Transit tidak segera atau konsisten dalam memperingatkan para penumpang untuk melakukan gangguan.

Baca juga: Sering ‘Ngaret,’ Minat Warga Singapura Gunakan MRT Terus Menurun

Operator kereta api diharuskan memberi tahu penumpang penundaan lebih dari 10 menit pada jam sibuk dan 15 menit selama periode off-peak melalui pengumuman reguler di stasiun dan kereta api. Jika penundaan memburuk, informasi harus disebarkan melalui media sosial dan media arus utama.

PT Angkasa Pura I Lakukan Topping Off Terminal Apung Bandara Ahmad Yani

PT Angkasa Pura I melakukan penutupan atap (topping off) terminal baru Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang pada Minggu (11/2) yang disaksikan oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Terminal baru Bandara Ahmad Yani Semarang ini direncanakan mulai beroperasi (minimum requirements) pada Mei 2018. Pengoperasian terminal baru bandara ini menjawab masalah lack of capacity yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir.

Baca juga: Atasi Dampak Pembangunan Bandara Baru Yogyakarta, Angkasa Pura I Buka Help Desk Bagi Warga

“Topping off ini merupakan komitmen kami kepada penguna jasa bandara serta masyarakat Jawa Tengah umumnya serta Semarang dan sekitarnya pada khususnya untuk meningkatkan layanan kebandarudaraan dengan mengutamakan kenyamanan tanpa mengenyampingkan aspek keselamatan dan keamanan. Topping off ini juga merupakan bentuk kontribusi kami terhadap pengembangan perekonomian daerah, khususnya Semarang dan sekitarnya,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi.

Pengoperasian terminal baru dan pengembangan bandara senilai Rp2,07 triliun ini merupakan solusi atas masalah lack of capacity yang telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Kapasitas Bandara Ahmad Yani eksisting hanya mampu menampung 800 ribu penumpang per tahun, namun realisasinya pada 2017 sudah melayani 4,4 juta penumpang.

“Dengan kapasitas terminal baru yang dapat menampung hingga 6 juta penumpang per tahun dan desain yang mengadopsi konsep eco-green airport, maka calon penumpang pesawat udara dapat lebih leluasa dan nyaman berada di terminal baru. Potensi pertumbuhan penumpang sebesar 10 persen tiap tahunnya juga dapat diakomodir oleh keberadaan terminal dan infrastruktur baru Bandara Ahmad Yani,” kata Faik Fahmi.

Terminal baru Bandara Ahmad Yani memiliki luas area 58.652 meter persegi, hampir sembilan kali lebih besar dibanding luasan terminal eksisting yang hanya seluas 6.708 meter persegi. Luasan apron baru mencapai 72.522 meter persegi yang dapat menampung 13 pesawat narrow body atau konfigurasi 10 pesawat narrow body dan 2 pesawat wide body kargo.

Terminal baru ini dibangun dengan model terapung (Floating Airport), yang pertama di Indonesia dengan mengusung Konsep Eco-Green Airport. Disebut sebagai floating airport karena terminal baru Bandara Ahmad Yani dibangun di atas lahan lunak dan sebagian besar berair dengan menggunakan tiang pancang dan metode prefabricated vertical drain (PVD) untuk memadatkan lahan lunak tersebut. PVD sendiri merupakan sistem drainase buatan yang dipasang di dalam lapisan tanah lunak.

Desain terminal baru Bandara Ahmad Yani mengadopsi konsep eco-airport dimana bandara direncanakan, dikembangkan, dan dioperasikan dengan tujuan menciptakan sarana dan pra-sarana perhubungan yang ramah lingkungan serta berkontribusi positif kepada lingkungan hidup. Terminal baru Bandara Ahmad Yani ditargetkan beroperasi dengan syarat minimum (minimum requirements) pada Mei 2018 sehingga sudah dapat melayani penumpang pada masa mudik dan libur Lebaran Juni mendatang.

Baca juga: Aviation Security PT Angkasa Pura I Kini Tampil dengan Seragam Baru

Syarat minimum tersebut antara lain terminal penumpang, gedung parkir satu lantai, terminal kargo, masjid, gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK). Sedangkan pengoperasian penuh Bandara Ahmad Yani ditargetkan dapat dilakukan pada awal 2019.