Pangkas Human Error, Nanyang University Gandeng Volvo Hadirkan Bus Otonom

Ada banyak cara yang dapat ditempuh dalam rangka meminimalisir kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh human error, salah satunya adalah mengembangkan teknologi bus nirawak. Walaupun solusi ini masih terhitung baru di dunia transportasi, namun banyak kalangan yang tengah berlomba untuk mencuri hati konsumen seraya membuktikan bahwa produknyalah yang paling baik.

Baca Juga: Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018

Begitu pula yang terjadi di negara tetangga kita, Singapura, dimana negara ini tengah bersiap untuk mengoperasikan bus nirawak, sebagai bentuk peningkatan layanan dan antisipasi kecelakaan yang dilatarbelakangi oleh faktor human error.

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (11/1/2018), Nanyang Technological University (NTU) akan mulai menerjunkan bus nirawak yang akan mengambil peran sebagai moda transportasi umum dan akan diuji coba para awal 2019 di sirkuit uji di NTU. Otoritas tersebut mempercayai produk yang dikeluarkan oleh salah satu raksasa otomotif, Volvo.

Kedua belah pihak menandatangani sebuah kesepakatan pada hari Kamis (11/1/2018) untuk menguji dua buah bus listrik otonom berkapasitas 40 penumpang di NTU’s Centre of Excellence untuk Pengujian dan Penelitian Kendaraan Otonom. Sirkuit uji ini akan mereplikasi kondisi jalan di Singapura, lengkap dengan skema lalu lintas umum, infrastruktur jalan dan peraturan lalu lintas. Tidak hanya itu, sirkuit ini juga dilengkapi simulator hujan dan zona banjir untuk menguji kemampuan navigasi kendaraan di bawah kondisi iklim tropis.

Uji coba bus otonom ini juga akan didukung oleh operator transportasi SMRT, yang akan terlibat dalam menentukan kelaikan jalan bus bus tanpa pengemudi. Nantinya, salah satu bus akan menjalani tes di depot bus yang dikelola oleh SMRT, untuk menilai kemampuan kendaraan tersebut untuk secara otonom menavigasi kendaraan di vehicle washing bays dan parkir dengan aman di area pengisian. Jika uji coba tersebut berhasil, pihak SMRT mengatakan akan menjalin kerja sama dengan Volvo, serupa dengan yang dilakukan oleh pihak NTU.

Layaknya kendaraan otonom lain, bus sepanjang 12m ini dilengkapi dengan sistem laser pendeteksi rintangan serta sistem navigasi terpadu yang mencakup kemudi otomatis, penggantian gigi dan kemampuan mereduksi kecepatan. Menurut Volvo, bus otonom ini akan menghemat energi sebesar 80 persen ketimbang bus diesel dengan ukuran yang sama. Meski akan lebih mahal untuk membeli bus listrik otonom, namun Volvo meyakini bahwa biaya operasionalnya akan jauh lebih rendah.

Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi

“Kami akan memanfaatkan pengalaman kami yang luas dalam mengoperasikan dan memelihara bus untuk mendukung pengerahan kendaraan otonom di masa yang akan datang,” ungkap CEO SMRT, Desmond Kuek.

“Penggunaan bus otonom diharapkan bisa diterjunkan dalam skala yang lebih besar di bawah rencana induk transportasi darat di masa depan. Kendaraan semacam ini akan memungkinkan penempatan tenaga kerja yang optimal, memungkinkan bus dikerahkan di jalan untuk layanan yang aman, tepat waktu dan efisien, siang dan malam, di semua cuaca dan kondisi lalu lintas,” imbuhnya.

Diketahui, NTU dan Volvo juga akan bekerja sama dengan perusahaan teknologi ABB untuk mengembangkan solusi pengisian daya untuk kendaraan listrik.

Tahan Pintu Kereta Cepat, Guru Wanita Ini Diganjar Skorsing

Nasib apes menimpa seorang guru, pasalnya Ia mendapat skorsing dari pekerjaannya karena perbuatan yang cukup unik. Persisnya seorang guru di Cina Timur diskors dari sekolah tempatnya mengajar saat sebuah video dirinya memblokir pintu kereta tersebar secara luas di media sosial.

Baca juga: Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam

KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (10/1/2018), bahwa saat itu dirinya melakukan penahanan agar pintu tidak tertutup dan suaminya bisa naik kereta yang sama dengan dirinya serta anak mereka. Wanita tersebut merupakan guru sekolah dasar yang bernama Luo Haili dan saat itu sedang bepergian bersama anak dan suaminya.

Diketahui, satu keluarga tersebut terlambat melakukan perjalanan dengan kereta berekecepatan tinggi dari Hefei di Provinsi Anhui menuju Guangzhou. Keterlambatan tersebut dikarenakan mereka awalnya pergi ke stasiun yang salah.

Dalam video berdurasi kurang lebih satu menit tersebut, Luo dan putrinya sudah berada di kereta yang hendak berangkat itu. Namun, karena suaminya ditahan diloket tiket, maka Luo menahan pintu kereta dengan tubuhnya agar pintu tidak tertutup.

Karena menahan pintu kereta, Luo ditarik oleh petugas stasiun dan ada satu cuplikan dimana Luo ditarik dan jatuh ke peron tapi bangkit kembali dan menuju ke pintu sebelum pintu tersebut ditutup. “Suami saya ada di pintu masuk tiket, saya akan pindah saat dia datang,” ujar Luo saat berada di stand off.

Perjuangan Luo untuk melawan petugas berlangsung selama lima menit dan akhirnya dia, suami dan anak perempuannya tidak dapat naik kereta tersebut. Viralnya video ini membuat para warganet bertanya-tanya bagaimana keputusan para petugas stasiun atas gangguan tersebut.

“Saya merasa kasihan pada putrinya. Pasti sangat memalukan bagi dirinya saat menyaksikan ibunya melakukan hal itu,” ujar salah seorang pengguna internet.

Baca juga: Tuai Pro dan Kontra, Thailand Setujui Proyek Pembangunan Kereta Cepat dengan Cina

Atas kejadian ini, Luo diskors dari pekerjaannya sambil menunggu penyelidikan oleh biro pendidikan setempat. Karena menghalangi pengoperasian layanan kereta cepat di Cina, Luo bisa di denda hingga 2000 Yuan atau sebesar US$307.

Tangkal Masuknya Penumpang Mabuk, Inggris Perketat Peredaran Alkohol di Bandara

Bar di bandara tentu identik dengan minuman beralkohol. Pun sebenarnya minum alkohol tidak dilarang di bandara, hanya saja karena kerap memicu masalah di kabin, peredaran minuman beralkohol untuk calon penumpang akan dibatasi untuk mencegah masuknya penumpang dalam kondisi mabuk ke dalam kabin pesawat.

Baca juga: (Lagi) Penumpang Mabuk Berhasil Paksa Pilot Untuk Mendarat Darurat

KabarPenumpang.com melansir dari laman express.co.uk (8/1/2018), bahwa minuman beralkohol bisa saja dilarang sebelum terbang dan bar yang menjual alkohol bisa membatasinya. Home Office, otoritas yang mengatur keamanan di Inggris bahkan mempertimbangkan perpanjangan UU Perizinan 2003 untuk memasukkan bar dan pub ke dalam terminal bandara.

“Maskapai percaya bahwa pembebasan bandara dari Undang-undang Perizinan harus dilepas sehingga sementara penumpang masih dapat menikmati minuman untuk memulai liburan mereka, gerai bandara akan dikenai persyaratan perizinan yang sama seperti bar, pub dan gerai lainnya yang menjual alkohol di kota-kota dan kota, dan juga di darat di bandara,” ujar salah seorang juru bicara maskapai Inggris.

Diketahui insiden penumpang mabuk yang membuat masalah bagi maskapai dan penumpang lainnya tercatat cukup banyak di tahun 2017. Penumpang mabuk yang diamankan dalam penerbangan meningkat 50 persen dari tahun sebelumnya.

Banyak video dan berita dalam beberapa tahun terakhir yang menunjukkan penumpang dikeluarkan dari penerbangan setelah berulah pada awak kabin dan mengancam penumpang lain. Salah satu yang belum lama terjadi adalah seorang penumpang Ryanair yang ditahan karena perilaku kurang menyenangkan dalam pesawat saat dirinya dalam keadaan mabuk.

Home office mengatakan, penumpang mabuk yang diamankan pihak keamanan tersebut akan dikenakan sanksi berupa denda atau hukuman penjara selama dua tahun. Terkait masalah minuman alkohol penumpang di bandara, Ryanair mendukungnya dan mengatakan untuk penumpang mereka diadakan pembatasan yakni dua gelas.

“Ini adalah masalah yang sekarang harus ditangani bandara. Kami meminta perubahan signifikan untuk melarang penjualan alkohol di bandara, terutama dengan penerbangan pagi dan saat penerbangan terlambat,” ujar Kenny Jacobs dari Ryanair.

Bukan hanya penundaan penerbangan dan gangguan yang menimbulkan kekhawatiran, sebab banyak awak kabin juga melaporkan adanya peningkatan kasus penyerangan dari penumpang mabuk. Satu dari lima awak kabin dari anggota serikat Unite mengaku telah mengalami penganiayaan fisik dari penumpang. Mantan pramugari Ally Murphy mengatakan, “mereka menyentuh payudara Anda atau mereka menyentuh pantat atau kaki Anda”.

Baca juga: Kerap Dilecehkan, Awak Kabin Beberkan Kelakuan Penumpang Mabuk

Dia berhenti tahun lalu setelah 14 tahun di industri ini. Sebuah survei mengungkapkan bahwa orang Inggris minum sebanyak 15 unit alkohol dalam satu penerbangan, melipat gandakan batas mingguan yang disarankan.

Dipengaruhi Inggris dan Jepang, Indonesia Anut Mazhab Setir Kemudi di Kanan

Di belantara Eropa, setir kemudi pada kendaraan bermotor lebih banyak ada di kiri, sementara lain hal di Indonesia yang mengadopsi setir kemudi di kanan. Indonesia tentu tak sendiri, di kawasan regional, seperti Singapura, Malaysia dan Australia juga mengadopsi setir kemudi di kanan. Mungkin sebagian dari Anda masih ada yang mempertanyakan mazhab yang diambil Indonesia merujuk kemana?

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa gaya berkendara warga negara Indonesia dipengaruhi oleh dua faktor, yakni mayoritas mobil yang ada di pasaran adalah buatan Jepang dengan kemudi mobil di sebelah kanan, ini lantaran mobil merek Eropa kurang laku akibat harga yang jauh lebih mahal dan perawatan lebih kompleks.

Persisinya Indonesia adalah penganut left driving countries atau sistem lalu lintas dimana warga negaranya menggunakan lajur kiri untuk berkendara serta kemudi mobil berada di kanan. Posisi Indonesia yang berada di antara negara-negara persemakmuran seperti Australia, Selandia Baru, Singapura dan Malaysia yang berkiblat pada Inggris turut memberi andil masuknya Indonesia sebagai left driving countries. Selain itu, sejarah penjajahan juga menjadi faktor lainnya yang menjadi cikal bakal Indonesia menganut konsep left driving.

Baca juga: Flash Mobile, Marka Lalu Lintas Untuk Pengemudi Yang Mencoba Berponsel di Jalan Raya

Seperti diketahui, Indonesia pernah di jajah oleh Inggris dimana saat itu dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Raffles mengeluarkan kebijakan transportasi dengan mengubah sistem mengemudi di Hindia Belanda dari sebelah kanan menjadi sebelah kiri. Ini diperkuat ketika Jepang menduduki Indonesia karena mereka juga memiliki sistem yang sama di negaranya.
Sejarah Letak Kemudi di Sebelah Kanan
Sistem right driving countries merupakan kebalikan dari left driving countries dimana jalan kendaraan menggunakan lajur kanan dan kemudi mobil berada di sebelah kiri. Negara yang menganut right driving countries adalah Amerika, Cina dan mayoritas negara Eropa kecuali Inggris.

Perbedaan ini ternyata dipengaruhi oleh sejarah pada zaman kerajaan. Dulu semasa perang, Ksatria di Kerajaan Inggris memiliki kebiasaan menggunakan kereta perang. Saat berperang, mereka beradu pedang dengan musuhnya yang berada di sebelah kanan. Ini karena biasanya orang menggenggam pedang menggunakan tangan kanan. Kemudian kebiasaan tersebut mulai digunakan pada kemudi mobil, yang letaknya di sebelah kanan.

Sejarah Letak Kemudi di Sebelah Kiri
Sedangkan di akhir tahun 1700-an, kusir di Perancis dan Amerika Serikat mengangkut hasil pertanian menggunakan sado besar yang ditarik oleh beberapa pasang kuda. Sado tersebut tidak memiliki kursi pegemudi. Kusir yang mengendalikan sado duduk di bagian belakang, di sebelah kiri kuda. Tujuannya adalah agar tangannya tetap bisa digunakan untuk bebas mencambuk kuda.

Baca juga: Waymo Pastikan Penumpang Mobil Otonom Aman Dengan Teknologi Ini

Secara otomatis, kusir yang duduk di sebelah kiri sado menginginkan orang lain untuk lewat di sisi kirinya juga. Agar kusir tersebut bisa memantau bagian bawah jalan untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang celaka terkena roda sadonya. Itu sebabnya mobil dan kendaraan lainnya di sana sampai sekarang tetap berada di sisi kanan jalan, dengan setir yang otomatis berada di sebelah kiri. Hingga kini dari data yang ada hanya 75 negara yang menganut left driving dan 125 negara menganut right driving

Sejarah Stasiun Padang, Bangkit dari Kebutuhan Transportasi Batu Bara

Jejak kolonial Belanda di Pulau Sumatera tak kalah kuat dari yang ada di Pulau Jawa, pun pada sektor perkeretaapian, Sumatera punya segudang cerita tentang kereta, seperti jalur kereta api di Sumatera Barat yang identik sebagai pengusung layanan transportasi batu bara.

Baca juga: Beroperasi Q1 2018, Kereta Bandara Minangkabau Adopsi Kereta Rel Diesel Listrik

Sumatera Barat, tepatnya di ibukota provinsinya yakni Padang, memiliki jalur kereta api dan stasiun yang bernama Padang atau biasa juga disebut dengan stasiun Simpang Haru. Ini lantaran Stasiun Padang atau Simpang Haru sendiri terletak di Jalan Stasiun No.1, Simpang Haru, Kecamatan Padang Timur, Padang, Sumatera Barat. Berada di ketinggian 8 meter dari permukaan laut dan masuk dalam Divisi Regional II Sumatera Barat.

Pembangunan stasiun ini sejalan dengan pembangunan kereta api dari kota Padang sampai Sawahlunto yang dimulai pada 6 Juli 1889 silam. Pembangunan ini juga berfungsi untuk memperlancar angkutan batu bara dari Sawahlunto ke pelabuhan Emmahaven atau sekarang disebut Teluk Bayur.

Stasiun Padang atau Simpang Haru

Diketahui pembangunan jalur kereta api ini dimulai dari jalur Pulau Aie di Muaro Padang menuju Padang Panjang. Kemudian diteruskan ke jalur Padang Panjang menuju Bukit Tinggi dan selesai tahun 1891, bersamaan dengan resmi dibukanya stasiun Padang.

Kemudian diteruskan dari Padang Panjang hingga Solok lalu jalur Solok menuju Muaro Kalaban dan Padang serta Teluk Bayur yang juga selesai di tahun 1892. Selain itu, dengan adanya stasiun ini juga berfungsi sebagai induk sekaligus pusat yang menjangkau dan membawahi seluruh stasiun di Sumatera Barat dikarenakan merupakan salah satu stasiun besar di kota Padang.

Baca juga: Mak Itam, Lokomotif Uap Legendaris Yang Jadi Ikon Wisata Sawahlunto

Stasiun ini setelah tidak lagi mengoperasikan pengiriman batu bara, kini melayani perjalanan penumpang kereta api Sibinuang sebanyak empat kali PP dan kereta wisata Dang Tuanku yang menuju ke Pariaman. Sempat mati jalur kereta api dari stasiun Padang menuju Pulau Aie, saat ini kembali diaktifkan untuk angkutan kereta api tujuan Bandara Internasional Minangkabau.

Diketahui kereta bandara yang akan melalui stasiun Padang akan datang pada Februari 2018 sebanyak satu train set dan dua lainnya menyusul pada Maret 2018 mendatang.

Bangku “Jemuran Handuk” di Stasiun Komuter, Tak Ramah Bagi Lansia dan Kaum Difabel

Jumlah penumpang kereta komuter yang melonjak pesat membawa imbas pada kapasitas peron di stasiun. Dan saat peron di stasiun tak lagi ‘sanggup’ menampung pergerakan jumlah penumpang, maka pengelola stasiun harus menyiapkan jurus untuk mengatasi persoalan di peron, khususnya pada penumpukan penumpang di jam-jam sibuk.

Baca juga: Hindari Berebut Masuk KRL, PT KCJ Buat Garis Batas Antrean di Stasiun

Berbeda dengan stasiun untuk keberangkapan kereta jarak jauh yang alur masuk penumpang ke dalam stasiun dapat diatur oleh petugas keamanan, maka stasiun untuk kereta komuter (KRL) Jabodetabek berbeda. Tak ada pembatasan arus penumpang masuk ke suatu stasiun. Sebagai konsekuensi suasana peron kadang begitu penuh sesak di sepanjang stasiun Jabodetabek. Melihat kondisi di atas, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengambil langkah untuk mengganti bangku/kursi konvensional dengan jenis baru yang revolusioner.

Maka bermunculankah bangku model “jemuran handuk,” bangku ala Jepang ini hadir di stasiun yang berada di Jakarta seperti Manggarai, Gondangdia dan beberapa stasiun lainnya yang tersebar di wilayah Jabodetabek. Disebut bangku jemuran handuk dikarenakan memang bentuknya yang mirip dengan jemuran handuk. Bisa dikatakan ini bukanlah bangku yang benar-benar untuk duduk, hanya untuk menempelkan atau menyandarkan bokong sembari menunggu kereta yang datang.

Meski desainnya revolusioner, namun sayangnya sisi ergonomis bangku ini ikut dikorbankan, adanya bangku jemuran handuk ini dirasakan tidak nyaman oleh para pengguna komuter. Malahan sudah dibuat petisi oleh pengguna kereta komuter. Dalam petisi ini sudah banyak keluhan karena bangku untuk duduk hilang dan diganti “tempat besandar tersebut.”

Bukannya semakin nyaman, justru penumpang tidak menikmati untuk menunggu kereta. Dalam petisi tersebut, digantinya fungsi bangku kereta terkesan mubazir dan tidak tepat guna jika dibandingkan dengan perjalanan kereta api saat ini yang tidak selalu ontime.

Seperti di Stasiun Manggarai sebagai stasiun transit akan mengurangi space penumpang jika ada kursi untuk duduk. Tak hanya itu, keberadaan bangku yang seperti jemuran handuk bahkan bisa disebut tidak bersahabat untuk penumpang, terlebih bagi penumpang lansia, disabilitas dan membawa bayi/balita.

Atas petisi ini, Direktur Utama PT KCI, M Nuruh Fadhila memahami keluhan tersebut. Menurutnya, hanya ada sedikit penumpang mengeluh. “Sudah sering kita dengar keluhan tentang itu. Filosofinya begini, menurut saya ini kan teman-teman bukan tidak mewakili ya, tapi persentasenya kecil penumpang yang mengeluh,” ujar Fadhil yang dikutip KabarPenumpang.com, Kamis (12/1/2018).

Fadhil mengatakan bahwa yang dilakukan pihaknya dengan mengubah kursi peron untuk langkah antisipasi 2-3 tahun kedepan. “Di saat penumpang kami betul-betul sudah banyak. Saya kasih ilustrasi begini, setiap tahun di stasiun yang bertambah itu apa? Kan dua yang tambah, perjalanan kereta dan penumpang. Peron nggak bertambah luas dan panjang. Nah ini yang kami manage, ini yang kami antisipasi,” terang dia.

Fadhil juga menyampaikan, dari Depok perjalanan setiap lima menit sekali. Dan itu mewakili 70 persen penumpang. Di mana dari 12 rangkaian gerbong mengangkut 2.500-3.000 penumpang.

Baca juga: PT KCI Hadirkan Mesin Penyelaras Tarif dan Penetapan Saldo Minimun Baru untuk Kartu Multi Trip

“Nah kita menyederhanakan dengan menggeser kursi, kita melakukan riset sebetulnya apa yang paling pantas kursi itu? Ya sandar. Karena pemahaman kami, dengan melihat juga di luar negeri, orang itu tidak duduk di peron, untuk layanan komuter. Bahkan di Jepang itu nggak ada di peron itu kursi. Lalu ada lagi nih nanti yang nanya, di Jepang kan kereta tepat waktu, loh iya saya juga tau. Nah sekarang saya tanya ini mau saling tunggu apa kami siapkan saat ini? Apa mau tunggu 4 tahun lagi baru saya beresin kursi itu? Supaya keretanya tepat dulu setelah Stasiun Manggarai selesai jadi keretanya bisa tepat lalu saya beresin kursinya. Padahal sebelum Stasiun Manggarai jadi penumpang naik terus volumenya, jadi mana yang saya tunggu? Saya nggak mau nunggu. Jadi mending saya beresin kursinya dulu,” tegas dia.

Terdengar Membosankan, Acara TV Seputar Kereta Ini Serap Ribuan Penonton!

Apa sih tujuan Anda menonton acara televisi? Tentu beragam alasan dapat Anda utarakan ketika mendapat pertanyaan seperti itu, seperti mencari berita terbaru yang terjadi belakangan ini, menghibur diri, hingga menemani Anda tidur. Begitu pula dengan pertanyaan “Apa program TV yang paling Anda tidak suka?”, beragam kemungkinan jawaban dapat Anda lontarkan. Mulai dari siaran berita, sinetron, hingga film kartun. Walapun banyak orang yang tidak suka terhadap acara TV tersebut, tapi tidak menutup kemungkinan rating acara tersebut tinggi.

Baca Juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office

Kira-kira penggambaran tersebut senada dengan apa yang terjadi dengan salah satu acara televisi di saluran SBS, jaringan televisi nasional di Australia yang berdiri sejak 24 Oktober 1980. Dalam jaringan televisi tersebut, terdapat sebuah acara yang bernama The Ghan: the Australian’s Greatest Train Journey.

Sesuai dengan namanya, acara ini menampilkan perjalanan kereta penumpang paling ikonik di Australia, The Ghan pada saat melakukan perjalanan dari Adelaide menuju Darwin via Alice Springs, daerah gurun tandus di tengah-tengah kedua kota tersebut. Dokumentasi perjalanan dari ujung Utara (Darwin) ke ujung Selatan (Adelaide) Australia tersebut nampaknya begitu membosankan untuk disaksikan.

Dapat dibayangkan jarak 3027 kilometer yang membentang di antara dua kota tersebut didokumentasikan dan dipersingkat ke dalam sebuah acara berdurasi tiga jam, tanpa dialog, tanpa musik pengiring, dan tanpa jeda? Yang akan Anda saksikan hanyalah motion The Ghan yang sudah melewati tahap editing, lengkap dengan suara asli dari kereta tersebut. Tentu sebagian dari Anda akan memilih untuk mengganti channel dan menyaksikan acara lain.

Tapi jangan salah, sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (10/1/2018), penjabaran hipotesa di atas berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di lapangan. Sebanyak kurang lebih 400.000 pasang mata duduk manis di depan televisi mereka dan menyaksikan perjalanan kereta yang mengular selama 54 jam dari Adelaide menuju Darwin ini.

Sebuah lembaga pengukuran pemirsa televisi Australia, OzTAM menyebutkan bahwa acara The Ghan: the Australian’s Greatest Train Journey disaksikan oleh 436.000 penonton pada leg pertama, 406.000 penonton pada leg kedua, dan 392.000 penonton pada leg ketiga. Tingginya minat pemirsa yang menyaksikan acara tersebut tentunya ditunjang oleh berbagai  aspek, ada yang benar-benar suka atau hanya untuk ‘mendampingi’ waktu tidurnya.

Terlepas dari berbagai alasan pemirsa untuk menyaksikan acara ini, The Ghan: the Australian’s Greatest Train Journey berhasil ‘mencuri’ perhatian berbagai kalangan dari seluruh dunia. Secara tidak langsung, laporan jumlah penonton menurut OzTAM di atas mengindikasikan masyarakat yang haus akan pemberitaan ringan mengenai moda transportasi seperti kereta.

Baca Juga: KA Ekonomi Matarmaja, Kondang Berkat Jadi Latar Film “5 Cm”

Berbicara soal kereta, Indonesia juga pernah menyinggung layanan kereta jarak jauh melalui film 5cm, yaitu Kereta Mataramja. Dalam adegan film yang diperankan oleh deretan artis kondang Indonesia tersebut, nampak bagian dalam gerbong kereta lengkap dengan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Walaupun hanya berperan sebagai latar, namun keputusan sang sutradara untuk memasukkan adegan dalam kereta tersebut patut diacungi jempol, pasalnya dewasa ini sudah jarang film yang memasukkan unsur transportasi seperti kereta ke dalam salah satu adegannya.

Alangkah lebih baiknya lagi jika ada sutradara yang bersedia membuat film dokumenter seperti The Ghan: the Australian’s Greatest Train Journey bukan?

Malas Berolahraga Pasca Melahirkan? Elliptical Stroller Solusinya!

Siapa orang yang tidak senang punya momongan pasca pernikahan? Tentu ini merupakan salah satu mimpi dari setiap pasangan yang baru saja melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, proses pra dan pasca melahirkan di sini dapat memberikan perubahan pada aktivitas fisik si pengandung. Terkait persoalan di atas, sebuah kick starter menawarkan solusi yang diharapkan dapat mengentaskan masalah tersebut.

Baca Juga: Naik Pesawat Bawa Stroller, Simak Beberapa Tipsnya!

Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Pier Paolo Visconti menemukan inovasi bernama Elliptical Stroller, dimana seorang Ibu dapat menggunakan kereta bayi (stroller) sebagai sarana mereka untuk berolahraga pasca melahirkan. Sesuai dengan namanya, Elliptical Stroller dilengkapi dengan salah satu alat fitness yang bernama Elliptical Machine, yang tentu saja akan mebuat stroller ini berbeda dengan yang lainnya.

Ketika stroller biasa dioperasikan dengan cara berjalan dan mendorongnya,maka dengan menggunakan Elliptical Stroller, si pengguna akan berdiri di atas dudukan kaki, menekannya ke bawah secara bergantian, dan Elliptical Stroller akan bergerak maju sesuai dengan irama hentakan kaki. Semakin cepat hentakan kaki, maka semakin tinggi pula kecepatan yang dihasilkan.

Untuk sistem pengereman, Pier sudah mempertimbangkannya secara matang. Terdapat hand brake levers (tuas rem tangan) yang terpasang pada bagian pegangan stroller, dimana para pengguna dapat menggunakannya kapan pun diperlukan. Dengan alasan keselamatan para penggunanya, Pier lebih memilih untuk menggunakan rem cakram ganda ketimbang kolaborasi rem tromol dan cakram.

Pier sendiri mengatakan bahwa detraining effect yang dihasilkan pasca proses melahirkan mendorong para kaum Hawa untuk malas berolahraga dan menjadi kurang percaya diri untuk turut serta dalam olahraga yang bersifat kompetitif. Dikutip dari laman ellipticalstroller.com, latihan dengan Elliptical Stroller akan membantu mengembalikan kepercayaan diri dan dorongan untuk melakukan olahraga yang bersifat kompetitif.

“Kereta dorong revolusioner ini akan memungkinkan Anda untuk tetap menjaga kesehatan fisik tanpa mengurangi waktu penting dan intim dengan anak Anda,” tulis Pier dalam laman resmi Elliptical Stroller. Diketahui, Pier saat ini tengah berusaha untuk mencari mitra manufaktur yang dapat membantunya membawa produk Elliptical Stroller ke pasar.

Baca Juga: Swiss Freitag Ciptakan Tas Travel yang Bisa Dilipat!

Bagaimana, apakah Anda tertarik untuk memilikinya? Harga yang ditawarkan oleh Pier untuk satu keseluruhan Elliptical Stroller berkisar di angka $1.250 atau yang setara dengan Rp 16,8 juta. Jika harga tersebut melebihi budget Anda, Pier pun menawarkan instalasi Elliptical Machine-nya saja yang dibanderol dengan harga $150 atau yang setara dengan Rp2,1 juta.

Kokoh Layaknya Seekor Gajah, “Terowongan Gunung Gajah” Masih Eksis Dilintasi Kereta

Kabupaten Lahat penuh pesona dan bersejarah, memiliki hamparan situs megalitikum, air terjun hingga peninggalan bersejarah lainnya dari masa penjajahan dulu yang kini menjadi nuansa tersendiri di Kota tua ini. Tak hanya itu, Lahat sendiri menjadi salah satu kota sentral di dunia perkeretaapian untuk kawasan Sumatera Selatan.

Baca juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran

Di kota ini ada sesuatu yang unik dan berkaitan dengan jalur perkeretaapian, dimana ada sebuah terowongan yang nama belakangnya diambil dari nama seekor binatang yakni gajah. Nah, mendengar gajah, yang ada di benak pastinya terowongan ini besar dan kokoh seperti gajah.

KabarPenumpang.com yang merangkum dari berbagai sumber dan menemukan bahwa terowongan tersebut sebenarnya memiliki nama Willem Synja Tunnel, nama ini diambil dari arsitek pembuatnya yang berasal dari Belanda yakni Willem. Namun, karena terowongan ini berada di Kelurahan Gunung Gajah, sehingga masyarakat sudah melupakan nama aslinya dan lebih sering menyebut terowongan Gunung Gajah.

Terowongan yang dibangun tahun 1924 dan selesai satu tahun kemudian yakni 1925 kini menjadi terowongan tua di Kabupaten Lahat sendiri. Selain itu terowongan ini sempat ditutup dan dibuka lagi tahun 1952. Terowongan ini menjadi yang terpanjang kesepuluh di Indonesia dengan memiliki panjang 368 meter. Bangunannya memiliki nilai seni tersendiri dimana goresan keindahan arsitek Belanda berpadu dengan kekokohan bangunannya.

Tak hanya sebuah terowongan, di sana berdiri Balai Yasa atau disebut juga Bengkel Kereta Api yang dibangun pada 1931 dan hingga sekarang masih digunakan. Terowongan Gunung Gajah juga tak luput dari mitos yang berkembang dan meninggalkan aura mistis didalamnya. Hal ini dikarenakan banyak korban jiwa saat pengerjaan pembuatan terowongan dengan sistem kerja rodi di masa penjajahan Belanda.

Baca juga: Di Sawahlunto, Ternyata Juga Ada Museum Kereta Api

Walaupun dengan kemajuan teknologi transportasi, terowongan yang pernah tertutup longsor pada Januari 2016 lalu ini bukan berarti tak dapat digunakan lagi. Justru masih tetap eksis. Sebab menjadi terowongan dan satu-satunya jalur perlintasan kereta api yang masih digunakan untuk menghubungkan Kabupaten Empat Lawang di kota Tebing Tinggi dan Lubuk Linggau.

Tahu kan kenapa nama Gunung Gajah tak tergantikan untuk menjadi nama terowongan ini selain karena diambil dari nama di satu tempat?

Per 15 Januari 2018, Ryanair Berlakukan Kebijakan Baru Untuk Tas di Dalam Kabin

Ryanair sebagai maskapai low cost carrier (LCC) atau penerbangan dengan biaya rendah asal Irlandia, per 15 Januari 2018 mengeluarkan kebijakan baru untuk tas dalam kabin. Biasanya penumpang boleh membawa dua tas saat akan masuk dalam kabin, tetapi pada kebijakan baru ini hanya penumpang dengan boarding prioritas yang diperbolehkan membawa dua tas ke dalam kabin.

Baca juga: Alami Krisis Penerbang, Ryanair Undang Mantan Pilot Untuk Bergabung Kembali

Sedangkan untuk penumpang biasa hanya diperbolehkan membawa satu tas jinjing untuk masuk dalam kabin pesawat. KabarPenumpang.com mengabarkan dari laman mirror.co.uk (8/1/2018), bahwa penumpang dengan boarding prioritas adalah penumpang yang membayar ekstra £5 sampai £6 atau Rp90 ribu sampai Rp110 ribu untuk mendapatkan hak istimewa tersebut. Setelah itu penumpang yang memiliki boarding prioritas bisa membawa dua tas dengan ukuran normal (55cm x 40cm x 20cm) dan satu tas kecil (35cm x 20cm x 20cm ).

Ryanair juga menegaskan, bagi penumpang non prioritas dan memaksa tas kedua mereka untuk dibawa masuk kedalam kabin tidak akan diizinkan melakukan perjalanan dan tidak berhak menerima pengembalian biaya penerbangan. Aturan baru ini akan berlaku untuk semua penerbangan setelah 15 Januari.

Dengan adanya kebijakan baru ini, Ryanair juga meningkatkan berat tas yang akan masuk dalam kargo dari 15 kg menjadi 20 kg dan biaya check in tas standar akan dipotong dari £35 atau Rp636 ribu menjadi £25 atau Rp545 ribu. Kenny Jacobs dari Ryanair mengklaim bahwa kebijakan baru tersebut akan mengurangi penundaan keberangkatan pesawat.

“Kami berharap dengan membatasi pelanggan non-prioritas ke satu tas carry-on kecil. Tas wheelie mereka harus ditempatkan di dalam pegangan, tanpa dipungut biaya di ruang tunggu. Ini akan mempercepat naik pesawat terbang dan menghilangkan penundaan penerbangan karena tidak memiliki ruang kabin overhead yang memadai dengan penerbangan yang sibuk untuk menampung lebih dari 360 (182 pelanggan x 2 kantong) tas jinjing,” ujar Jacobs.

Baca juga: Terima Pesan Hoax, Eurofighter Typhoon Inggris Paksa Mendarat Ryanair

Awalnya, maskapai ini merencanakan untuk melaksanakan kebijakan tersebut pada bulan November 2017 lalu. Namun, karena Ryanair membatalkan 700 ribu pemesanan pada September dan mendapat teguran, sehingga memundurkan penetapan kebijakan tersebut di Januari.