Naik Bus ke Aceh? Ini Rute Menarik yang Bisa Disinggahi

Aceh yang berada di ujung utara Pulau Sumatera ini memiliki keunikannya sendiri. Bagi para pemdik asal Aceh dan akan kembali ke kampug jalanan, pastinya memerlukan waktu yang cukup lama bila menggunakan bus yakni 4-5 hari.

Namun meski begitu, lelahnya perjalanan tersebut dibayar lunas saat melewati berbagai kota di Pulau Sumatera yang memiliki daya tariknya masing-masing. Bukan hanya alamnya, tetapi juga kuliner khas daerah tersebut. Penasaran rute menariknya mana saja?

1. Jakarta – Merak (Banten)
Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Pelabuhan Merak di Banten. Sebelum menyeberang ke Sumatra, pemudik bisa menikmati kuliner khas Banten seperti Sate Bandeng dan Serabi Banten.

2. Merak – Bakauheni (Lampung)
Setelah menyeberangi Selat Sunda dengan kapal feri, pemudik tiba di Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Salah satu ikon yang bisa dikunjungi adalah Menara Siger, simbol kebanggaan masyarakat Lampung dengan pemandangan laut yang indah.

3. Bakauheni – Bandar Lampung
Dalam perjalanan menuju Bandar Lampung, pemudik dapat singgah untuk menikmati kopi khas Lampung yang terkenal akan cita rasanya yang kuat.

4. Bandar Lampung – Palembang (Sumatra Selatan)
Jalur lintas timur Sumatra membawa pemudik ke Kota Palembang, di mana mereka dapat beristirahat sejenak sambil menikmati keindahan Jembatan Ampera dan mencicipi pempek legendaris.

5. Palembang – Jambi
Perjalanan berlanjut ke Jambi dengan pemandangan hutan dan sungai yang menyejukkan mata. Salah satu tempat yang bisa dikunjungi adalah Candi Muaro Jambi, situs bersejarah yang kaya akan budaya Melayu.

6. Jambi – Pekanbaru (Riau)
Pekanbaru menawarkan pengalaman unik dengan hamparan perkebunan sawit dan karet. Pemudik bisa menikmati kuliner khas seperti Mie Sagu sebelum melanjutkan perjalanan.

7. Pekanbaru – Medan (Sumatra Utara)
Memasuki wilayah Sumatra Utara, perjalanan semakin menarik dengan perbukitan dan lembah yang indah. Danau Toba menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi untuk menikmati pemandangan alam yang luar biasa.

8. Medan – Banda Aceh
Perjalanan akhir menuju Banda Aceh melewati jalur pesisir barat Sumatra yang menawarkan pemandangan pantai yang eksotis. Sesampainya di Banda Aceh, pemudik dapat mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman serta menikmati kuliner khas seperti Mie Aceh dan Kopi Gayo.

Dengan jalur yang penuh dengan keindahan alam dan budaya, perjalanan mudik ke Aceh tidak hanya menjadi perjalanan pulang, tetapi juga petualangan yang menyenangkan. Para pemudik diharapkan tetap menjaga keselamatan dan menikmati pengalaman unik selama perjalanan mereka.

Bus Lintas Medan – Aceh, “Naik Haji Bagi Para Penggemar Bus”

 

Infrastruktur Jalan Berkembang, Masyarakat Papua Bisa PIlih Bus Jadi Alternatif Perjalanan

Papua, dengan lanskap alamnya yang penuh tantangan, sering kali lebih mengandalkan transportasi udara dan laut untuk mobilitas masyarakat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, moda transportasi darat, termasuk bus, mulai berkembang seiring dengan pembangunan infrastruktur jalan yang terus dilakukan pemerintah.

Keberadaan bus di Papua kini menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat untuk bepergian dari satu kota ke kota lain dengan biaya lebih terjangkau. Sayangnya, daerah Papua memiliki tantangan yang cukup besar untuk transportasi darat.

Pasalnya, Papua memiliki medan yang sangat beragam, mulai dari pegunungan tinggi, hutan lebat, hingga rawa-rawa yang luas. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi pengoperasian bus antarkota dan antarprovinsi.

Meski begitu, upaya pembangunan jalan Trans Papua yang menghubungkan berbagai wilayah terus digenjot agar akses transportasi semakin terbuka. Salah satu jalur yang sudah mulai ramai digunakan adalah jalur Merauke – Timika – Nabire yang menjadi bagian dari Trans Papua.

Di jalur ini, bus dan travel mulai beroperasi secara reguler, meskipun masih menghadapi kendala seperti kondisi jalan yang belum sepenuhnya mulus dan cuaca ekstrem yang bisa menghambat perjalanan. Memiliki banyak tantangan, tetapi bagi masyarakat yang ingin lebih hemat biaya, perjalanan menggunakan bus bisa menjadi pilihan.

Beberapa layanan bus dan travel di Papua menawarkan rute-rute strategis dengan tarif yang lebih terjangkau dibandingkan harga tiket pesawat yang sering kali mahal. Meski durasi perjalanan lebih lama, banyak penumpang yang memilih bus karena lebih ekonomis dan bisa menikmati pemandangan alam Papua yang luar biasa.

Perjalanan darat dengan bus atau travel di Tanah Papua, memiliki masa depan yang cukup signifikan. Sebab, infrastuktur jalan sudah semakin berkembang dan harapan untuk transportasi darat yang lebih baik di Papua semakin besar.

Ini karena emerintah terus berupaya meningkatkan konektivitas antarwilayah, yang diharapkan akan mendorong lebih banyak operator bus untuk membuka layanan di berbagai kota. Selain itu, masyarakat berharap pemerintah dan pihak swasta dapat menghadirkan armada bus yang lebih nyaman dan aman, sehingga perjalanan darat di Papua menjadi lebih efisien dan bisa menjadi pilihan utama bagi banyak orang.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan, kehadiran bus di Papua merupakan langkah maju dalam membangun konektivitas dan membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk beraktivitas dengan lebih mudah. Dengan dukungan infrastruktur yang semakin baik, transportasi darat di Papua berpotensi menjadi lebih andal dan merata di masa depan.

Profile Pilatus Porter PC-6, Pesawat Susi Air Buatan Swiss yang Kecelakaan di Papua

Jalur Kenangan Banjar-Pangandaran dengan Sejuta Panorama Eksotis dan Bersejarah

Jalur kereta api Banjar-Cijulang mulai dibangun pada 1911. Pemerintah Hindia Belanda melihat pembangunan jalur ini sebagai pembuka isolasi daerah sekaligus langkah awal mengembangkan kawasan Pangandaran yang terkenal subur. Potensi ekonomi Pangandaran memang cukup besar. Salah satu hasil bumi yang menjadi andalannya adalah padi. Jalur ini membentang sekitar 82 kilometer, termasuk dalam Wilayah Aset II Bandung.

Keunikan jalur ini terletak pada jumlah jembatan dan terowongan yang melintasinya. Terdapat empat terowongan, di antaranya Terowongan Batulawang (281,5 meter), Terowongan Hendrik (105 meter), Terowongan Juliana (147,70 meter), dan yang paling mengesankan, Terowongan Sumber atau dulu dikenal dengan nama Terowongan Wilhelmina (1.116,10 meter).

Selain keempat terowongan yang memiliki nama-nama unik, ada pula jembatan yang membentang pada jalur tersebut yakni Jembatan Cikacepit dengan panjang 290 meter dan Jembatan Ciputrapinggan dengan panjang 34 meter yang sempat roboh pada tahun 1950 akibat banjir bandang dari luapan Sungai Ciputrapinggan.

Jembatan Cikacepit yang dijadikan aset cagar budaya PT KAI dengan rangka jembatan yang masih kokoh. (Foto: Dok. Istimewa)

Jembatan dan terowongan KA tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan menjadi daya tarik wisata edukasi. Dari total jarak 82,16 kilometer, 72 kilometer adalah lintasan datar, sementara sekitar 10 kilometer adalah menembus pegunungan. Informasi berbagai sumber mengatakan bahwa total jembatan yang dibangun ada 54 unit dengan panjang total 1.520 meter.

Tapi yang kini dijadikan cagar budaya adalah tiga jembatan terpanjang. Masing-masing jembatan Cikacepit atau Cipamotan sepanjang 310 meter dengan kedalaman 38 meter, kedua jembatan Cipambokongan sepanjang 299 meter dengan kedalaman 40 meter, dan ketiga jembatan Cikabuyutan panjang 176 meter dengan kedalaman 34 meter.

Sempat kabar yang menggembirakan dari informasi akan kembali dibuka pada jalur Banjar-Cijulang ini, sempat ada upaya reaktivasi pada tahun 1997 dan wacana yang digaungkan kembali pada tahun 2018 oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, namun hingga kini, jalur ini masih terkatung-katung dalam sejarah.

Rencananya reaktivasi dilakukan setelah jalur kereta api Cibatu–Cikajang direaktivasi karena lahan yang masih memungkinkan dibandingkan Rancaekek–Tanjungsari dan Cikudapateuh–Ciwidey. Hingga saat ini sepanjang jalur dari Banjar sampai ke Cijulang, saat ini memang sudah banyak yang diduduki warga, bahkan dengan bangunan permanen. Sehingga wacana reaktivasi jalur KA tersebut belum ada titik terang untuk direaktivasi kembali.

Inilah “Hendrik”, Terowongan Kereta Terpendek di Indonesia

Kisah Stasiun Cilegon, Selain Penumpang Juga Sibuk dengan Langsiran Gerbong Era PJKA

Stasiun Cilegon (CLG) adalah stasiun kereta api kelas II yang terletak di Jombang Wetan, Jombang, Cilegon. Stasiun yang terletak pada ketinggian +14 meter ini termasuk dalam pengelolaan KAI Commuter dan letaknya berdekatan dengan Masjid Agung Cilegon Nurul Ikhlas.

Saat ini, Stasiun Cilegon hanya memiliki lima jalur. Di mana 2 dari 5 jalur tersebut merupakan jalur sepur lurus. Sedangkan jalur 1 dan 3 hanya digunakan sebagai tempat menyimpan rangkaian gerbong datar. Untuk jalur 4 dan 5 sendiri, jalur ini hanya digunakan sebagai tempat menyimpan bekas gerbong-gerbong dan barang tua.

Bagian emplasemen Stasiun Cilegon (Foto: Dok. KAI Commuter)

Dari segi sejarah, Stasiun Cilegon dibuka oleh Staatsspoorwegen (SS) sebagai kelanjutan jalur dari Stasiun Rangkasbitung menuju Serang pada 1 Juli 1900, yang kemudian dilanjutkan kembali hingga ke dekat Pelabuhan Anyer Kidul pada 1 Desember 1900 (termasuk membuka Stasiun Tjilegon).

Pada 1 Desember 1914, dibuat sebuah jalur percabangan di Stasiun Krenceng yang mengarah ke daerah Merak untuk mengakomodasi Pelabuhan Merak yang lebih dekat untuk menyeberang ke Lampung. Pada era Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) hingga era Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka), emplasemen Stasiun Cilegon digunakan untuk tempat menyimpan sekaligus juga tempat langsiran gerbong-gerbong barang angkutan baja coil yang menuju ke percabangan jalur pabrik PT Krakatau Wajatama, anak perusahaan dari PT Krakatau Steel.

Sibuknya Stasiun Cilegon kala itu membuat beberapa seri lokomotif yang digunakan sebagai langsir gerbong-gerbong tersebut, seperti lokomotif BB 300, C 300, D 301, dan juga sebuah lokomotif langsir buatan pabrik Nippon Yusoki (Nichiyu). Setelah masa dinasnya berakhir, lokomotif langsir berukuran kecil ini di preservasi dan dijadikan sebuah monumen di area taman PT Krakatau Wajatama. Diperkirakan pada ada awal era 2000-an, aktivitas langsiran gerbong-gerbong KA angkutan baja coil ini pun akhirnya berhenti, dan layanan KA yang menuju ke percabangan jalur PT Krakatau Wajatama akhirnya ditutup.

Bekas gerbong tua seri YYW (kanan), GW (kiri belakang), dan YR (kiri depan) berada di jalur 4 dan 5 Stasiun Cilegon (Foto: Dok. Istimewa)

Saat ini Stasiun Cilegon menjadi pusat keramaian masyarakat yang akan menggunakan kereta api khususnya KA Lokal yang menghubungkan ke berbagai daerah di wilayah Banten, seperti Merak, Serang dan Rangkasbitung.

Tak hanya itu per tanggal 25 Maret, Stasiun Cilegon merupakan stasiun pemberhentian terakhir sementara untuk KA Commuter Line Merak pada angkutan Lebaran 2025. Pemberhentian terakhir sementara di stasiun ini untuk menghindari penumpukan penumpang di Stasiun Merak. Kemudian bagi penumpang yang akan melanjutkan sampai ke Stasiun Merak dan menyeberang ke Pulau Sumatera, pihak dari KAI sudah menyediakan shuttle gratis untuk memperlancar jalannya arus mudik.

Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Ini 5 Faktor Tarif Bus Melonjak Saat Mendekati Lebaran

Menjadi tradisi tahunan, mudik Lebaran sangat dinanti para perantau diberbagai kota. Bahkan sejak awal puasa sudah banyak yang membeli tiket mudik demi berburu tiket murah ke kampung halaman.

Tapi bila mendekati Lebaran, tiket pun tarifnya berangsung naik. Ini kemudian jadi keluhan penumpang yang hendak membeli tiket bus. Penasaran kenapa bisa melonjak tarif bus saat mendekati Lebaran?

Berikut dirangkum KabarPenumpang.com alasan Utama di balik fenomena tarif tiket bus melonjak mendekati Lebaran.

1. Permintaan Tinggi, Harga Melonjak
Prinsip ekonomi sederhana berlaku di sini. Saat permintaan meningkat drastis, harga pun naik. Menjelang mudik, jumlah calon penumpang melonjak berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa. Operator bus melihat ini sebagai peluang untuk menyesuaikan tarif sesuai dengan tingginya permintaan.

2. Biaya Operasional Meningkat
Kenaikan harga tiket juga dipengaruhi oleh lonjakan biaya operasional. Beberapa faktor yang menyebabkan peningkatan ini antara lain, BBM lebih mahal, karena saat musim mudik, harga bahan bakar cenderung naik atau penggunaan bahan bakar meningkat karena kemacetan parah.

Biaya tol dan retribusi bagi penggunaan jalur tol yang lebih sering serta adanya biaya tambahan di terminal dan perhentian tertentu juga memengaruhi harga tiket. Perawatan kendaraan demi keamanan dan kenyamanan penumpang, perusahaan bus melakukan perawatan ekstra pada armada mereka menjelang mudik.

3. Tarif Resmi dan Kebijakan Pemerintah
Pemerintah sering kali menetapkan tarif batas atas dan bawah untuk tiket bus selama musim mudik. Meskipun begitu, operator tetap memiliki ruang untuk menaikkan harga dalam batas yang ditentukan. Selain itu, adanya kebijakan tambahan seperti kenaikan tarif retribusi terminal juga berdampak pada harga tiket.

4. Sistem Tiket Musiman
Beberapa perusahaan bus menerapkan sistem tarif musiman, di mana harga tiket menyesuaikan waktu keberangkatan. Misalnya, semakin dekat dengan puncak arus mudik, harga tiket cenderung lebih mahal dibandingkan hari-hari biasa.

5. Faktor Spekulasi dan Calo
Tidak bisa dimungkiri, adanya peran spekulan dan calo juga mempengaruhi kenaikan harga tiket. Tiket yang sudah dipesan lebih awal sering kali dijual kembali dengan harga lebih tinggi, terutama jika tiket resmi mulai sulit didapatkan.

Ini Delapan Tips Berburu Tiket Bus untuk Mudik Lebaran

Hari Ini 34 Tahun Lalu, Pembajakan Singapore Airlines Flight 117 – Salah Satu Operasi Anti Terorisme Tercepat dan Paling Efektif

Hari ini 34 tahun lalu, bertepatan dengan 26 Maret 1991, adalah momen bersejarah bagi dunia penerbangan Singapura, yakni untuk pertama kalinya maskapai Singapore Airlines mengalami drama pembajakan. Insiden pembajakan tersebut menimpa Singapore Airlines Flight SQ117 dengan pesawat Airbus A310.

Adalah sebuah pesawat Airbus A310-300 milik Singapore Airlines dibajak oleh empat teroris asal Pakistan dari kelompok Pakistan Peoples’ Party (PPP – kelompok oposisi terhadap pemerintah Pakistan saat itu). Saat itu, SQ117 berangkat dari Kuala Lumpur (Malaysia) menuju Singapura, dengan 123 penumpang dan 11 awak kabin.

Pesawat dibajak sekitar pukul 21:15, ketika sedang dalam perjalanan menuju Bandara Changi, Singapura. Empat pria bersenjata yang mengaku sebagai anggota PPP mengambil alih pesawat dan memaksa pilot untuk mendarat di Changi. Mereka mengklaim menuntut pembebasan mantan Perdana Menteri Pakistan, Benazir Bhutto, yang saat itu berada dalam tahanan di Pakistan.

Keempat pembajak membawa pisau lipat dan bahan peledak. Mereka memaksa pilot Captain Stanley Lim untuk mendarat di Bandara Changi pada pukul 22:25 waktu setempat. Setelah pesawat mendarat, mereka menyampaikan tuntutan mereka kepada otoritas Singapura. Para pembajak mengancam akan membunuh penumpang jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

40 Tahun Lalu, Pembajakan Pesawat DC-9 “Woyla” Garuda Indonesia Jadi yang Pertama dalam Sejarah

Di hari berikunya, Pemerintah Singapura memutuskan untuk melakukan operasi militer karena tidak mau bernegosiasi dengan teroris. Pasukan khusus SAF (Singapore Armed Forces Commandos) melancarkan serangan kilat. Mereka meledakkan pintu pesawat, masuk ke dalam kabin, dan menembak mati keempat pembajak dalam waktu 30 detik.

Tidak ada penumpang atau awak kabin yang tewas, tetapi beberapa mengalami luka ringan akibat operasi penyelamatan.

SQ117 menjadi satu-satunya insiden pembajakan dalam sejarah Singapore Airlines. Operasi penyelamatan berhasil dilakukan tanpa korban jiwa dari sandera, menjadikannya salah satu operasi anti-terorisme tercepat dan paling efektif dalam sejarah penerbangan.

Pemerintah Singapura dalam hal ini mengambil kebijakan keras terhadap segala bentuk terorisme dan pembajakan di wilayahnya. Sejak saat itu, protokol keamanan penerbangan diperketat untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Inikah Lokasi Pesawat Bersejarah DC-9 “Woyla” PK-GNJ Garuda Indonesia Berada Saat Ini?

Fiks! Perjalanan MOTIS, Batavia dan Java Priority Mulai Dijalankan Hari Ini

Jadwal perjalanan tambahan kereta api untuk angkutan Lebaran 2025 pun dilakukan hari ini, Rabu (26/3). Kereta api tambahan berikutnya yakni, KA Motis (Angkutan Motor Gratis), KA Batavia, dan KA Java Priority. Untuk KA Motis pun perjalanannya dibagi dua, yaitu KA Motis Utara dengan rute Pasar Senen – Semarang Tawang pp dan KA Motis Tengah dengan rute Pasar Senen – Lempuyangan via Purwokerto pp.

Namun sayangnya, angkutan KA Motis Selatan rute Pasar Senen – Madiun via Bandung tidak lagi dijalankan seperti jadwal beberapa tahun lalu, belum diketahui informasi lanjutnya mengenai hal tersebut.

Untuk ketersediaan tiket KA yang disebutkan, khususnya keberangkatan per hari ini, sayanngnya dengan cepat tiket sudah terjual habis. Tapi untuk ketersediaan KA Motis, bisa dibeli pada H-1 hanya untuk pembelian secara online diaplikasi maupun pembelian secara langsung di stasiun.

Seperti diketahui rangkaian KA Motis terdiri dari kelas ekonomi (106 tempat duduk per kereta) dengan dirangkaikan kereta angkutan bagasi yang berisi motor penumpang KA itu sendiri. Karena pendaftaran KA Motis masih berlanjut, dengan tentu penumpang bisa mendapatkan tiket KA secara gratis maksimal 2 orang dewasa dan 1 orang usia dibawah 3 tahun. Namun, untuk penumpang yang ingin menggunakan KA Motis tanpa pendaftaran kendaraan bermotor, masih bisa membeli tiket dengan harga mulai dari Rp37.000 sampai dengan Rp59.000. Harga tersebut berlaku untuk KA Motis Utara maupun KA Motis Tengah.

Sementara untuk KA Batavia masih dengan rute Gambir – Solo Balapan pp di hargai mulai dari Rp285.000 hingga Rp380.000 untuk kelas ekonomi dan untuk kelas eksekutif mulai dari Rp415.000 hingga Rp550.000. Dan yang terakhir KA Java Priority yang merupakan rangkaian KA Kelas Wisata dengan rute Gambir – Yogyakarta pp dihargai mulai dari Rp499.000 hingga Rp799.000. Untuk jadwal perjalanan dan pemesanan tiket, bisa dilihat melalui aplikasi online di Access by KAI.

Jangan lupa, sebelum melakukan pembayaran diharapkan untuk melihat kembali nama, nomor identitas, jadwal keberangkatan, dan tujuannya agar saat melakukan boarding di stasiun, sudah sesuai dengan yang tertera di tiket.

‘Terjebak’ di Pelabuhan Saat Mudik? Lakukan Tips ini Agar Mudik Lebih Aman & Berkah

Jelang Hari Raya Idul Fitri 2025, sejumlah pemudik tampak mulai bertolak ke kampung halaman. Mereka mulai memenuhi sarana transportasi, salah satunya pelabuhan, untuk bisa sampai ke tujuang masing-masing. Antrean kendaraan hingga penumpukan calon penumpang diprediksi akan terus meningkat hingga puncak arus mudik yang diprediksi akan jatuh pada tanggal 27 Maret 2025 mendatang. Bukan tidak mungkin jika akan ada banyak calon penumpang yang terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam mereka di pelabuhan.

Baca Juga: Mudik Naik Ferry Tapi Tidak Ingin Terlalu Mengantri? Datang di Rentang Jam Ini!

KabarPenumpang.com mengutip dari laman cnnindonesia.com (24/3), tampak antrean kendaraan di Pelabuhan Gilimanuk mulai mengular, menandakan puncak arus mudik akan segera tiba. Menurut laman tersebut, antrean kendaraan tersebut membutuhkan waktu hingga 6 jam untuk bisa masuk ke dalam kapal dan menyeberang.

Di lain sisi, penumpukan kendaraan juga terpantau di Pelabuhan Merak pada Jumat (21/3) kemarin. Opsi untuk mudik lebih awal sebenarnya sudah dianjurkan sejak awal Ramadhan mengingat sejumlah perusahaan menerapkan kebijakan Work From Anywhere (WFA), jadi para pemudik bisa bertolak ke kampung halaman lebih awal dan bekerja dari sana.

Kepadatan pemudik di Pelabuhan Gilimanuk. Sumber:cnnindonesia.con

Nah, bagi Anda yang kini sedang atau baru akan mudik ke kampung halaman masing-masing, berikut KabarPenumpang.com berikan beberapa tips yang dapat Anda lakukan saat tengah terjebak di arus mudik, terlebih jika Anda sedang menunggu giliran menyeberang di pelabuhan.

Istirahat

NgeHits.net

Tidak bisa dipungkiri, mudik merupakan aktivitas yang melelahkan tapi juga menyenangkan. Jika Anda ‘terperangkap’ di pelabuhan, ada baiknya Anda gunakan waktu menunggu giliran menyeberang dengan beristirahat. Selain dapat memulihkan energi yang sudah terkuras di perjalanan sebelumnya, beristirahat juga akan meningkatkan fokus Anda selama berkendara setelah menyeberang, dengan harapan Anda akan selamat sampai di kampung halaman.

Beribadah

Ilustrasi sholat di kapal. Sumber: tempo.co

Walaupun menempuh perjalanan jauh, ibadah tetap tidak boleh ditinggalkan! Gunakan waktu senggang Anda dengan mendirikan sholat (baik wajib ataupun sunnah), mengaji, berdzikir hingga mendengarkan murottal. Selain dapat menambah pahala, beribadah juga dapat menenteramkan hati, lho! Jadi, jangan ditinggalkan ibadahnya, ya!

Memantau Informasi

Ilustrasi. Sumber: istimewa

Saat menunggu penyeberangan, Anda juga disarankan untuk memantau kondisi rute yang akan Anda lalui. Jika terpantau mulai padat, segera ambil keputusan untuk mencari rute alternatif agar waktu Anda tidak terbuang sia-sia. Anda bisa memanfaatkan siaran radio lokal, media sosial hingga aplikasi Google Maps untuk mengumpulkan informasi.

Makan

Ilustrasi. Sumber: istimewa

Jika Anda yang kebetulan sedang tidak berpuasa karena sedang berhalangan (bagi wanita) atau musafir, ada baiknya Anda untik terus mengisi perut agar terhindar dari perut kembung, mual hingga meriang. Tapi ingat, hindari makanan di tempat umum guna menghormati calon penumpang lain yang sedang berpuasa, ya!

Berlayar Saat Berpuasa? Tidak Perlu Khawatir! Simak Tips Berikut Agar Puasa Tetap Lancar

PLTD Apung: Saksi Bisu Dahsyatnya Tsunami Aceh yang Kini Menjadi Ikon Wisata

PLTD Apung adalah sebuah kapal pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) milik Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Kapal dengan bobot 2.600 ton ini terseret gelombang tsunami sejauh 5 kilometer dari lokasi aslinya di Pelabuhan Ulee Lheue hingga ke tengah Kota Banda Aceh, tepatnya di Desa Punge Blang Cut.

Baca Juga: Singkil, Surga di Selatan Aceh dengan Pesona Alam yang Menakjubkan

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, PLTD Apung kini telah bertransformasi menjadi salah satu ikon wisata di Banda Aceh yang menarik banyak wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Kapal ini menjadi pengingat akan dahsyatnya bencana tsunami sekaligus simbol kekuatan dan ketahanan masyarakat Aceh dalam menghadapi musibah.

Sebelum menjadi saksi bisu tsunami, PLTD Apung merupakan kapal yang berfungsi sebagai pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan energi di Banda Aceh dan sekitarnya. Kapal ini dibangun pada tahun 1997 dan mulai beroperasi pada tahun 2002.

Dengan panjang 63 meter dan luas sekitar 1.900 meter persegi, PLTD Apung memiliki kapasitas pembangkit listrik sebesar 10,5 megawatt. Kapal ini menjadi salah satu sumber energi penting bagi masyarakat Aceh pada masa itu.

‘Perjalanan’ PLTD Apung Saat Tsunami
Pada 26 Desember 2004, gelombang tsunami yang dipicu oleh gempa bumi dahsyat di Samudra Hindia menerjang pesisir Aceh. Gelombang setinggi 9 meter tersebut menyeret PLTD Apung dari Pelabuhan Ulee Lheue hingga ke tengah kota, menabrak dan merusak bangunan-bangunan di sekitarnya.

Peristiwa ini menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan gelombang tsunami. PLTD Apung yang berbobot ribuan ton pun tak mampu menahan terjangan air bah tersebut.

Setelah tsunami, PLTD Apung tidak lagi berfungsi sebagai pembangkit listrik. Kapal ini kemudian dijadikan monumen dan objek wisata untuk mengenang peristiwa tsunami sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat tentang mitigasi bencana.

Pemerintah Kota Banda Aceh telah melakukan penataan kawasan di sekitar PLTD Apung menjadi tempat wisata yang nyaman dan edukatif. Pengunjung dapat melihat langsung kondisi kapal setelah diterjang tsunami, serta mempelajari informasi tentang bencana tsunami melalui berbagai media edukasi yang tersedia.

Selain itu, di sekitar kawasan PLTD Apung juga terdapat museum mini yang berisi foto-foto dan artefak-artefak yang berkaitan dengan tsunami Aceh. Museum ini memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang peristiwa tragis tersebut.

Bagian dalam dari Museum PLTD Apung. Sumber: istimewa

Daya Tarik PLTD Apung
* Saksi bisu dahsyatnya tsunami: PLTD Apung menjadi pengingat akan kekuatan alam yang dahsyat dan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

* Objek wisata edukatif: Pengunjung dapat belajar tentang mitigasi bencana dan sejarah tsunami Aceh melalui berbagai informasi yang disajikan.

* Ikon Kota Banda Aceh: PLTD Apung telah menjadi salah satu landmark Kota Banda Aceh yang menarik banyak wisatawan.

* Tempat yang Instagramable: Dengan bentuknya yang unik dan latar belakang sejarahnya yang kuat, PLTD Apung menjadi tempat yang menarik untuk berfoto.

PLTD Apung bukan hanya sekadar objek wisata, tetapi juga simbol kekuatan dan ketahanan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana. Kapal ini menjadi pengingat bahwa meskipun bencana dapat menghancurkan, semangat dan harapan akan selalu ada untuk membangun kembali.

Garuda Indonesia Sajikan Menu Baru Khas Aceh dan Sumatera Utara

Badan SAR Selandia Baru Pesan Empat Helikopter Airbus H145 untuk Layanan Medis Darurat

Badan Pencarian dan Pertolongan Selandia Baru (Search and Rescue Services/SRSL) telah memesan empat helikopter Airbus H145 untuk mendukung operasi layanan medis darurat (emergency medical services/EMS).

Helikopter canggih ini akan memperkuat armada milik SRSL yang kini terdiri dari pesawat H145 dan BK117, sehingga semakin meningkatkan kemampuannya dalam melayani masyarakat di seluruh negeri.

“Di Airbus, kami bangga dapat mendukung upaya penyelamatan nyawa di Selandia Baru. Layanan Medis Darurat dengan Helikopter (Helicopter Emergency Medical Services/HEMS) berperan penting di negara ini, mengingat medan yang menantang dan banyaknya komunitas terpencil yang sulit dijangkau. Integrasi helikopter H145 ke dalam operasi SRSL mencerminkan visi bersama kami dalam memanfaatkan solusi helikopter canggih untuk meningkatkan kemampuan merespon berbagai kejadian, sekaligus meningkatkan standar keselamatan,” ujar Christian Venzal, Managing Director of Airbus Helicopters in Australia and New Zealand.

Helikopter H145 dikenal karena keandalan, fleksibilitas, dan teknologi canggih, menjadikannya pemimpin pasar untuk misi HEMS. Helikopter ini ditenagai oleh dua mesin Safran Arriel 2E dan dilengkapi kabin luas serta rangkaian avionik Helionix yang canggih, sehingga sangat ideal untuk menghadapi kondisi medan yang menantang dan misi darurat yang membutuhkan waktu respons cepat di kawasan Australasia. Selain itu, helikopter ini memiliki emisi CO₂ terendah dibandingkan pesaingnya.

“Helikopter H145 mengusung teknologi terbaru, termasuk desain kokpit canggih dengan human machine interface (HMI) modern, sistem avionik Helionix, serta rotor ekor anti-torsi Fenestron. Avionik Helionix Airbus, yang terhubung ke wACS, menawarkan keunggulan dalam perlindungan batas penerbangan (flight envelope), bantuan pilot, serta efisiensi dalam transfer data. Dengan meningkatkan kesadaran situasional, sistem ini memberikan tingkat keselamatan penerbangan yang belum pernah ada sebelumnya. Helionix juga memenuhi standar avionik internasional terbaru dengan sistem peringatan dan pemantauan otomatis yang inovatif.”

Saat ini, terdapat sekitar 1.740 helikopter Keluarga H145 yang beroperasi di seluruh dunia, mencatatkan lebih dari delapan juta jam terbang. Secara global, hampir 600 helikopter H145 telah digunakan untuk misi layanan medis darurat.

Airbus Tampilkan Helikopter Ringan Kelas Tiga Ton Bermesin Ganda H140