2x Seminggu, Scoot Buka Penerbangan Langsung Singapura – Labuan Bajo

Rute penerbangan langsung yang menghubungkan Singapura dan Labuan Bajo (LBJ) di Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi dibuka dan mulai beroperasi melalui penerbangan perdana maskapai penerbangan Scoot pada Minggu, 21 Desember 2025.

Pembukaan rute internasional ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat konektivitas Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional di kancah global.

Selanjutnya, penerbangan rute Singapura–Labuan Bajo ini akan beroperasi dengan frekuensi dua kali seminggu menggunakan pesawat Embraer E190-E2. Sebagai satuan kerja di bawah Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memandang pembukaan rute ini sebagai momentum penting untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan pasar global lainnya yang terhubung melalui hub Singapura.

Bandara Changi Singapura sendiri dikenal luas sebagai salah satu hub penerbangan global utama dan gerbang penting kawasan Asia-Pasifik. Dengan konektivitas yang luas, Bandara Changi menjadi titik transit strategis bagi jutaan wisatawan internasional yang menuju berbagai destinasi dunia.

Hadirnya penerbangan langsung Singapura–Labuan Bajo membuka akses ke pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan potensi Labuan Bajo untuk menjangkau wisatawan global secara lebih efisien.

Pelabuhan Labuan Bajo Masuk Proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Siap-siap Jalur Cikarang Bakal Dilintasi KRL Baru, Begini Penjelasannya

Beroperasinya Kereta Rel Listrik (KRL) yang dibuat oleh anak bangsa yakni PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun menambah daftar perjalanan di lintas Jabodetabek. Ya, KRL CLI 225 saat ini sudah beroperasi di lintas Jakarta – Bogor pp. Sebanyak 2 trainset yang masing-masing 12 kereta ini melintasi rute tersebut pagi hingga malam.

Meski sudah mulai melayani penumpang limtas Bogor – Jakarta pp., namun KRL dari INKA ini masih terus diuji coba untuk trainset yang selanjutnya. Mengingat banyaknya masyarakat yang menggunakan KRL sebagai sarana transportasi yang terjangkau dan murah meriah. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 antusiasme masyarakat menggunakan KRL semakin meningkat.

Nah, beredar kabar dan informasi mengenai KRL dari INKA nantinya akan beroperasi di jalur Cikarang. Setelah dilakukan uji coba dan mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) tentu KRL INKA ini akan beroperasi di jalur Cikarang tersebut. Sejauh ini KRL baru dari negeri tirai bambu ini sudah wara wiri ke jalur KRL khususnya Bogor dan Cikarang.

Dalam hal ini Kereta Commuter Indonesia (KCI) bakal menargetkan dua trainset yang masih dalam proses sertifikasi akan beroperasi sebelum akhir 2025. Dengan begitu pengoperasian rangkaian baru ini dapat turut membantu pelayanan selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026.

Sementara itu terkait pengadaan 30 rangkaian kereta baru untuk memperkuat layanan KRL Commuter Line Jabodetabek yang dapat suntikan dana Rp5 triliun dari Presiden Prabowo Subianto, Karina masih belum bisa memberikan informasi apapun. Sebab saat ini rencana pengadaan sarana KRL baru itu masih dalam tahap kajian oleh PT KAI (Persero) selaku induk usaha.

Presiden Prabowo sebelumnya telah menyetujui permintaan PT KAI untuk menambah 30 rangkaian kereta baru dengan anggaran Rp5 triliun. Prabowo menargetkan pengadaan KRL baru ini dapat terealisasi maksimal dalam waktu 1 tahun.

Diketahui, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) telah memesan 12 trainset dari INKA dan telah datang sebanyak empat trainset. Dua trainset di antaranya telah beroperasi, dan dua trainset sisanya masih dalam proses sertifikasi. Dalam waktu dekat rencananya KCI akan menambah operasional dua trainset baru lagi untuk melayani penumpang KRL.

Usianya Lebih dari Satu Abad, Stasiun Karawang Masih Terlihat Megah dan Makin Eksis

Yuk Jelajahi Stasiun di Kabupaten Kediri, Ada yang Hanya Persilangan Saja

Jalur kereta api di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun memang menawarkan beragam bangunan stasiun yang unik. Banyak diantaranya merupakan stasiun peninggalan jaman era kolonial. Tak heran, stasiun ini dinobatkan sebagai cagar budaya PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI).

Ya, jalur di kawasan Kediri raya ini tak sekadar bangunan kecil yang kokoh berdiri hingga saat ini. Beberapa stasiun kecil yang berada di Kediri raya juga disinggahi kereta api lokal yakni Kereta Commuter Line Dhoho/Penataran dengan rute Surabaya – Kertosono maupun sebaliknya.

Namun dari beberapa stasiun tersebut tak semuanya disinggahi kereta lokal. Bahkan ada yang cuma berhenti menunggu persilangan kereta api dari arah berlawanan. Nah, kabatpenumpang akan merangkum stasiun mana saja yang masih di kawasan Kabupaten Kediri.

• Stasiun Kras
Stasiun kereta api kecil yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Berada di ketinggian +75 meter di atas permukaan laut, Stasiun Kras termasuk dalam wilayah Daop 7 Madiun dan menjadi stasiun paling selatan di Kabupaten Kediri.

Stasiun Kras terletak sekitar 200 meter dari Jalan Raya Kras, jalur utama yang menghubungkan Kediri dan Tulungagung. Lokasi strategis ini memudahkan akses warga sekitar yang ingin bepergian ke berbagai kota di Jawa Timur menggunakan layanan kereta api lokal.

• Stasiun Ngadiluwih
Stasiun kereta api kelas III yang terletak di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Berada di ketinggian +78 meter di atas permukaan laut, Stasiun Ngadiluwih menjadi bagian penting dalam jalur kereta api lintas selatan Jawa Timur dan berada di bawah pengelolaan Daop 7 Madiun.

Stasiun ini berjarak sekitar 230 meter dari Jalan Raya Kediri–Tulungagung, memudahkan akses kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Lokasinya sangat strategis bagi masyarakat di wilayah selatan Kediri yang ingin bepergian ke berbagai kota besar di Jawa Timur.

• Stasiun Kediri
Stasiun kereta api kelas I yang terletak di Jalan Stasiun No. 1, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Stasiun ini merupakan salah satu pusat transportasi penting di Jawa Timur, melayani berbagai rute kereta jarak jauh dan lokal.

Stasiun ini berada di pusat kota, sangat dekat dengan Alun-Alun Kota Kediri, pusat perbelanjaan, hotel, serta fasilitas umum lainnya. Lokasinya yang strategis menjadikan Stasiun Kediri sebagai pilihan utama bagi wisatawan dan warga lokal yang bepergian dengan kereta api.

• Stasiun Susuhan
Susuhan adalah stasiun kereta api kecil (kelas III) terletak pada ketinggian +60 meter di atas permukaan laut ini berada di Desa Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Meskipun kini sudah tidak lagi melayani naik-turun penumpang, Stasiun Susuhan tetap memainkan peran penting dalam kelancaran perjalanan kereta api lintas selatan Jawa Timur.

Lokasi Stasiun Susuhan sangat strategis, hanya beberapa ratus meter dari Jalan Raya Kediri–Kertosono, serta dekat dengan fasilitas umum seperti Polsek Gampengrejo dan Kantor Pos Gampengrejo. Hal ini membuat stasiun ini tetap vital, meskipun sudah tidak lagi menjadi titik naik-turun penumpang.

• Stasiun Minggiran
Berada pada ketinggian +56 meter di atas permukaan laut, stasiun ini termasuk dalam wilayah Daerah Operasi VII Madiun. Meskipun saat ini tidak melayani naik-turun penumpang, Stasiun Minggiran memiliki peran penting dalam operasional kereta api di lintas selatan Jawa Timur. Lokasinya berada sekitar 75 meter ke arah tenggara dari Jalan Raya Kertosono–Kediri, menjadikannya mudah diakses dari jalan utama.

Stasiun Tulungagung, Dahulu Pernah Dilengkapi Turn Table Lokomotif

Selain Jalurnya yang Tertua, Dua Stasiun di Jalur Sukabumi – Cianjur Ini Juga Saksi Sejarah Terkenal di Era Kolonial

Bagi yang gemar healing naik kereta api dengan rute yang relatif terjangkau, rasanya memang patut dicoba jalur kereta api yang satu ini. Ya, digadang-gadang sebagai jalur tertua dengan rute Jakarta – Bandung banyak sekali bangunan di sekitarnya yang mampu menarik perhatian penumpang kereta api saat melihatnya.

Misalnya bangunan stasiun yang saat ini dinobatkan sebagai cagar budaya dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang harus dilestarikan. Mengingat bangunan stasiun ini merupakan saksi bisu sejak era Kolonial Belanda.

Proyek pembangunan jalur kereta api ini dilakukan oleh perusahaan kereta api milik negara, Staatsspoorwegen (SS), yang memulai pembangunan jalur ini secara bertahap. Pembangunan ini terbagi menjadi tiga tahap:

1. Buitenzorg – Cicurug (27 kilometer): Jalur ini dibuka pada 5 Oktober 1881.

2. Cicurug – Sukabumi (31 kilometer): Tahap kedua dibuka pada 21 Maret 1882.

3. Sukabumi – Cianjur (39 kilometer): Jalur ini resmi dibuka pada 10 Mei 1883.

Pembukaan jalur Sukabumi – Cianjur bersamaan dengan diresmikannya Stasiun Cianjur yang mulai dibangun setahun sebelumnya. Jalur ini dikenal dengan medan yang menantang, karena harus melalui perbukitan dengan jalur yang berkelok-kelok.

Salah satu infrastruktur yang paling terkenal dari pembangunan jalur ini adalah Terowongan Lampegan. Terowongan ini memiliki panjang 686 meter dan selesai dibangun pada tahun 1882. Terowongan ini menjadi ikon tersendiri di wilayah tersebut karena merupakan salah satu terowongan kereta api tertua di Indonesia.

Nah, selain Terowongan Lampegan yang menjadi ikonik pembangunan infrastruktur sejak era Kolonial, tentunya ada stasiun yang menjadi paling terkenal di jamannya. Stasiun-stasiun ini adalah Cianjur dan Lampegan. Ternyata kedua stasiun ini dibangun pada tahun 1882 dan resmi dibuka untun umum bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Sukabumi – Cianjur pada tanggal 10 Mei 1883.

Kedua bangunan stasiun ini menampilkan nuansa Eropa yang kental. Untuk Stasiun Cianjur terlihat lebih besar karena berada di pusat Kota Cianjur yang berjarak 500 meter dari pendopo atau pusat pemerintahan. Mengusung bangunan gaya Eropa terlihat dari tiang besi, pintu yang besar, dan berbagai bentuk arsitektur lainnya.

Selain Stasiun Cianjur, ada pula Stasiun Lampegan. Stasiun ini terletak di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Stasiun ini memiliki peranan penting sebagai pusat pengiriman rempah-rempah. Selain berdekatan dengan terowongan, stasiun ini terkenal dengan wisata Situs Megalitikum Gunung Padang yang berjarak 8 kilometer dari Stasiun Lampegan.

Stasiun Lampegan tahun 1800-an. (Foto: Dok. IRPS)

Stasiun Lampegan sempat menjadi tempat pemberhentian terakhir kereta api lokal Cianjur dari arah Bandung. Kereta api tidak bisa diteruskan perjalanannya karena sempat adanya insiden longsor dibagian dalam terowongan. Sehingga Terowongan Lampegan ditutup sejak tahun 2001 hingga dilakukan renovasi besar-besaran dan bisa digunakan kembali sampai tahun 2010.

Stasiun tersebut juga berperan sebagai sarana utama pengiriman rempah-rempah. Bahkan hingga tahun 70-an, terdapat jalur khusus yang menuju pabrik pengolahan rempah tersebut dari kawasan Kecamatan Cibeber dan Ciampea. Uniknya Stasiun Lampegan juga sempat memiliki turntable (pemutar lokomotif) berukuran kecil saat era lokomotif uap.

Meskipun masa kejayaan stasiun ini hanya menjadi kenangan masa lalu, peran mereka sebagai bagian dari transportasi massal kereta api tetap berjalan. Tiang besi dan bagian bangunan stasiun yang telah tua namun tetap terawat akan tetap menjadi saksi bisu peran penting mereka dalam sejarah Cianjur.

Menikmati Perjalanan Kereta Api Tertua di Jawa Barat, Cuma Goceng

Sejarah Stasiun Cianjur: Berjaya dengan 6 Jalur di Era Kolonial Belanda

Siapa yang tak kenal dengan Stasiun Cianjur. Ya, stasiun yang digadang-gadang sebentar lagi akan menjadi stasiun perhentian terakhir kereta api wisata Jaka Lalana ini ternyata menyimpan sejarah yang melegenda. Selain berada di jalur tertua yang menghubungkan Jakarta – Bandung, Stasiun Cianjur juga merupakan bangunan cagar budaya yang dipertahankan keasliannya hingga saat ini.

Pembangunan jalur kereta api di wilayah ini dimulai pada era kolonial, menghubungkan Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung pada akhir abad ke-19. Jalur kereta api pertama di Cianjur dibangun oleh pemerintah kolonial sekitar tahun 1879.

Jalur ini dirancang untuk memperkuat konektivitas antara kota-kota besar di Jawa Barat, seperti Bogor dan Bandung. Meskipun jalur kereta api mulai dibangun pada 1879, stasiun Cianjur baru resmi beroperasi pada 10 Mei 1882.

Jalur kereta pertama yang dioperasikan menghubungkan Bogor dengan Jakarta, kemudian dilanjutkan ke Sukabumi, Cianjur, dan akhirnya Bandung. Jalur kereta api ini dibangun untuk menghubungkan kota-kota penting seperti Batavia (sekarang Jakarta) dan Bandung, yang memainkan peran strategis di masa kolonial. Nah, Stasiun Cianjur sendiri juga menjadi pusat distribusi barang kebutuhan pokok yang diambil dari kota-kota besar, seperti garam dan komoditas lainnya.

Stasiun Cianjur yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di tahun 1882 ini diresmikan pada 10 Mei 1883 bersamaan dengan pembukaan jalur kereta Sukabumi-Cianjur. Stasiun Cianjur awalnya memiliki enam jalur, termasuk jalur menuju gudang di seberang stasiun. Karena sebagian besar kereta api lintas Jakarta–Bandung beroperasi melalui jalur Cikampek – Padalarang, maka jumlah jalur di stasiun ini berkurang menjadi tiga karena lalu lintas yang lengang.

Keunikan stasiun ini juga ada pada suara bel kedatangan kereta api. Yaitu berupa diputarnya 3 lagu daerah yakni “Manuk Dadali”, “Karatagan Pahlawan” dan “Ayun Ayun Ambing”. Selain itu stasiun ini menjadi saksi bisu melayani beberapa kereta api yang melintas dari dulu hingga kini.

Stasiun Cianjur dahulu melayani Kereta Api Cianjuran dengan rute Padalarang–Cianjur. Namun, pengoperasian kereta api tersebut dihentikan pada 2013 karena kereta api lokal tersebut tidak ada kontrak PSO antara PT KAI dan Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

Kemudian ada juga Kereta Api Siliwangi yang beroperasi mulai 8 Februari 2014 lintas Sukabumi – Cianjur. Kala itu Kereta Api Siliwangi terus melayani penumpang hingga Stasiun Cianjur. Namun pada 21 September 2020, Kereta Api Siliwangi akhirnya melayani jurusan baru yaitu jurusan Sukabumi – Cianjur dan Cipatat Kabupaten Bandung Barat. Stasiun Cipatat menjadi stasiun terakhir perjalanan Kereta Api Siliwangi yang hanya memiliki 2 jalur.

Warga Cianjur Antusias dengan Kehadiran Kereta Api yang Terhubung Langsung ke Jakarta

Menembus Gelap Arktik: Kereta Malam Panoramik Aurora Pertama di Dunia Resmi Meluncur

Norwegia kembali mengukuhkan diri sebagai pionir dalam pariwisata berkelanjutan dengan meluncurkan layanan kereta malam panoramik pertama di dunia yang dirancang khusus untuk memburu Northern Lights atau Aurora Borealis.

Diluncurkan secara resmi pada 9 Desember 2025, kereta yang dikenal dengan nama Northern Lights Train ini menawarkan pengalaman “observatorium berjalan” yang mengubah cara wisatawan menikmati langit Arktik tanpa harus kedinginan di luar ruangan.

Keunggulan utama kereta ini terletak pada gerbongnya yang revolusioner. Berbeda dengan kereta konvensional, gerbong panoramik ini memiliki dinding hingga atap yang hampir sepenuhnya terbuat dari kaca khusus berkualitas tinggi. Desain ini memberikan pandangan 180 derajat ke langit terbuka, memungkinkan penumpang untuk tetap berbaring di kursi ergonomis yang dapat direbahkan menghadap ke atas sambil menunggu tarian cahaya hijau di langit.

Detail teknis yang paling menarik adalah penggunaan sistem pencahayaan internal yang sangat minim dan menggunakan spektrum cahaya rendah. Hal ini dirancang sengaja untuk menghilangkan pantulan pada kaca dan menjaga penglihatan malam (night vision) penumpang tetap optimal, sehingga pendaran Aurora yang paling redup sekalipun dapat terlihat jelas dari dalam kabin.

Kereta Panoramic, Era Baru KAI Melihat Pemandangan Lebih Luas Selama Perjalanan

Kereta ini beroperasi di jalur bersejarah Ofoten Line, berangkat dari kota pelabuhan Narvik, yang merupakan salah satu titik paling utara di dunia yang terhubung dengan jaringan kereta api. Narvik terletak tepat di bawah “oval aurora”, area dengan aktivitas geomagnetik paling aktif di bumi.

Perjalanan ini dilakukan pada malam hari, menjauh dari polusi cahaya kota menuju wilayah pegunungan yang terisolasi di perbatasan Norwegia dan Swedia. Salah satu pemberhentian paling ikonik adalah di Stasiun Katterat, sebuah lokasi terpencil yang tidak memiliki akses jalan raya, menjadikannya salah satu tempat tergelap dan terbaik di dunia untuk melihat fenomena Aurora secara maksimal.

Selain kenyamanan, kereta ini juga dilengkapi dengan teknologi pemantauan aktivitas matahari secara real-time. Selama perjalanan, para ahli dan pemandu akan memberikan informasi mengenai kapan kemungkinan besar Aurora akan muncul berdasarkan data sensor terbaru. Tidak hanya itu, kereta ini sepenuhnya bertenaga listrik yang bersumber dari energi terbarukan, menjadikannya alternatif perjalanan yang jauh lebih hijau dibandingkan melakukan perburuan Aurora menggunakan bus atau mobil.

Layanan ini dijadwalkan beroperasi secara intensif mulai Oktober hingga Maret, bertepatan dengan musim dingin Arktik di mana malam berlangsung sangat panjang. Menariknya, peluncuran tahun 2025 ini dilakukan saat matahari sedang mendekati siklus puncak aktivitasnya (Solar Maximum), yang diprediksi akan menghasilkan tampilan Northern Lights paling spektakuler dalam satu dekade terakhir.

Bagi mereka yang ingin merasakan sensasi lebih dekat dengan alam, kereta ini juga menyediakan sesi berhenti di tengah pegunungan di mana penumpang bisa turun sejenak untuk berfoto di samping api unggun yang telah disiapkan di atas salju, sebelum melanjutkan perjalanan dalam kehangatan kabin kaca yang mewah.

Islandia (1): Menjejakkan Kaki di Negeri Surga Aurora

KAI Target Penumpang LRT Jabodebek Naik Segini Sepanjang Libur Nataru 2026

PT KAI menargetkan penumpang LRT Jabodebek meningkat 10-15 persen dibanding tahun lalu sepanjang masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), mulai 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.

Baca juga: KAI Optimis 100 Persen Operasional LRT Jabodebek Lancar Selama Libur Nataru

“Pertumbuhan penumpang pasti iya (ada kenaikan) karena jumlah trainset yang beroperasi untuk Nataru ini per 1 Desember kemarin kan bertambah dibanding tahun kemarin sekitar 20 trainset sedangkan untuk per 1 Desember ini kan 26 trainset,” ujar Manager Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika Putra, Kamis (18/12/2025).

“Persentasenya (kenaikannya) berkisar 10-15 persen (dibanding tahun lalu),” tambahnya.

Untuk diketahui, sepanjang periode Angkutan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (19 Desember 2024 – 5 Januari 2025), LRT Jabodebek melayani sebanyak 1.142.377 pengguna, meningkat signifikan sebesar 84,25 persen atau 522.364 pengguna dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 620.013 pengguna.

Sepanjang Libur Nataru 2025-2026, KAI mengoperasikan 26 trainset dengan 430 perjalanan per hari pada hari kerja (weekday) dari sebelumnya 24 trainset LRT Jabodebek dengan 396 perjalanan per hari. Headway-nya sendiri berkisar 10 menit.

Sementara itu pada akhir pekan dan libur nasional, KAI mengoperasikan 270 perjalanan LRT Jabodebek per hari dengan headway sekitar 15 menit.

Baca juga: Wajib Tahu! Ini Dia Tarif LRT Jabodebek Jika Tanpa Subsidi

“Selama masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, KAI melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan melalui Posko Angkutan. Posko ini berfungsi sebagai pusat pemantauan operasional, koordinasi lintas fungsi, serta pengambilan keputusan secara cepat dan terukur untuk menjaga kelancaran layanan LRT Jabodebek,” pungkas Radit.

Selama periode Libur Nataru 2025-2026, KAI menyiagakan 1.419 petugas LRT Jabodebek yang terdiri dari Train Attendant, Station Officer, Ticketing Officer, Passenger Officer, petugas kebersihan, paramedis, serta petugas keamanan. Para petugas tersebut akan bersiaga di stasiun, rangkaian kereta, dan titik-titik strategis untuk memastikan layanan berjalan sesuai prosedur.

 

 

China Airlines Pesan (Lagi) Lima Unit Airbus A350-1000

China Airlines dari Taiwan telah memesan lima pesawat Airbus A350-1000 tambahan, sehingga total pesanannya untuk tipe pesawat tersebut menjadi 15 unit. Pesawat-pesawat ini akan bergabung dengan armada 15 pesawat A350-900 yang sudah ada dan beroperasi di jaringan rute jarak jauh maskapai tersebut.

“Perluasan armada A350-1000 kami menandai langkah penting lainnya dalam strategi pertumbuhan jangka panjang kami. Efisiensi dan kenyamanan penumpang yang luar biasa dari A350 sejalan dengan tujuan kami untuk memodernisasi armada, meningkatkan daya saing penerbangan jarak jauh, dan memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik kepada pelanggan kami,” kata Kao Shing-Hwang, Ketua China Airlines.

“Kami sangat menghargai kemitraan jangka panjang kami dengan China Airlines. Pesanan lanjutan ini merupakan wujud kepercayaan yang kuat terhadap A350-1000 sebagai pesawat yang tepat untuk ambisi jaringan China Airlines di masa depan. Efisiensi, jangkauan, dan kenyamanan kabin generasi berikutnya akan memberikan nilai yang lebih besar bagi maskapai dan penumpangnya,” kata Benoit de Saint-Exupéry, Wakil Presiden Eksekutif Penjualan Pesawat Komersial Airbus.

Profil China Airlines, Maskapai Nasional Taiwan yang ‘Alergi’ Pakai Nama ‘China’

A350 adalah pesawat berbadan lebar paling modern di dunia, dirancang untuk terbang hingga 9.800 mil laut / 18.000 kilometer tanpa henti, menetapkan standar baru untuk perjalanan antarbenua. Pesawat ini mencakup teknologi dan aerodinamika mutakhir yang memberikan standar efisiensi dan kenyamanan yang tak tertandingi.

Mesin Rolls-Royce generasi terbaru dan penggunaan material ringan memberikan keuntungan 25 persen dalam hal konsumsi bahan bakar, biaya operasional, dan emisi karbon dioksida (CO₂) , dibandingkan dengan pesawat pesaing generasi sebelumnya. Kabin Airspace yang unik pada A350 menawarkan kepada penumpang dan awak pesawat produk-produk modern terbaru dalam penerbangan untuk pengalaman terbang yang nyaman.

Seperti semua pesawat Airbus, A350 sudah mampu beroperasi dengan hingga 50% Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF). Airbus menargetkan agar pesawatnya mampu beroperasi hingga 100% menggunakan SAF pada tahun 2030.

Pada akhir November 2025, keluarga A350 telah memenangkan hampir 1.500 pesanan dari 66 pelanggan di seluruh dunia.

Setelah 20 Tahun, Japan Airlines Pensiunkan Unit Perdana Boeing 777-300ER, Digantikan Airbus A350-1000

Derazona Helicopters Indonesia Jadi Operator Airbus H160 Pertama untuk Sektor Energi di Asia Tenggara

Airbus Helicopters telah menyerahkan unit helikopter H160 ke Derazona Helicopters di Indonesia. Penyerahan ini menandai masuknya helikopter generasi terbaru tersebut ke tanah air sekaligus di pasar sektor energi di Asia Tenggara yang lebih luas.

Derazona Helicopters (PT Derazona Air Service) adalah perusahaan penerbangan swasta asli Indonesia yang mengkhususkan diri pada layanan transportasi helikopter.

Helikopter multi-misi H160 diharapkan dapat memperkuat armada operator di Indonesia dan digunakan untuk mendukung misi energi lepas pantai, serta layanan utilitas dan transportasi komersial.

“Kedatangan helikopter H160 ini menandai babak baru yang penting bagi Derazona Helicopters. Sebagai operator pertama helikopter untuk misi energi di Asia Tenggara, kami sangat antusias memanfaatkan kemampuan uniknya untuk melayani kebutuhan berbagai klien kami dengan standar keamanan dan efisiensi tertinggi. Kemampuan helikopter H160 yang teruji akan menjadi kunci dalam memperkuat posisi kami sebagai pemimpin layanan helikopter di kawasan Asia Tenggara,” ucap Ramadi Widyardiono, Director of Production, Derazona Helicopters.

“Kami bangga melihat helikopter H160 mulai beroperasi di Asia Tenggara, memperkuat hubungan kami dengan Derazona sebagai pelanggan perdana di kawasan ini untuk misi energi,” ujar Regis Magnac, Vice President Head of Energy, Leasing and Global Accounts Airbus Helicopters. “Helikopter H160 merepresentasikan sebuah terobosan generasi yang sesungguhnya, dirancang sebagai helikopter yang efisien, andal, dan nyaman, sehingga sesuai untuk memenuhi persyaratan operasional yang menantang pada sektor energi di Indonesia. Penyerahan ini merupakan tonggak penting yang menegaskan daya tarik global helikopter ini dan kemampuannya dalam menetapkan kembali standar dalam transportasi lepas pantai.”

H160 merupakan salah satu helikopter tercanggih di dunia, dirancang dan dirakit untuk memberikan keselamatan operasional tertinggi sekaligus kenyamanan terbaik di kelasnya. Helikopter ini dapat mendukung berbagai misi mulai dari penegakan hukum, operasi lepas pantai, misi pencarian dan penyelamatan, perjalanan privat dan bisnis, hingga layanan medis darurat (Emergency Medical Services/EMS). Kini, helikopter H160 telah beroperasi di negara Brasil, Kanada, Cina, Perancis, India, Jepang, Korea, Malaysia, Filipina, Arab Saudi, Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa lainnya.

Didirikan di Jakarta pada tahun 1971, Derazona Helicopters menjadikannya salah satu operator helikopter pionir di Indonesia. Perusahaan ini merupakan bagian dari grup perusahaan yang memiliki sejarah panjang di industri dirgantara nasional.

Biro Pemadam Kebakaran Kota Nagoya Jepang Order Helikopter Airbus H160

KAI Optimis 100 Persen Operasional LRT Jabodebek Lancar Selama Libur Nataru

KAI memastikan operasional LRT Jabodebek siap menghadapi Masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Operasional semasa Nataru diyakini bisa berjalan lancar tanpa kendala.

Baca juga: Masih Tersedia! Diskon Tiket KAI Jelang Libur Nataru Bisa juga Beli Go Show

“Kami yakin operasional akan berjalan lancar dengan segala persiapan matang yang sudah dijalankan. 100 persen (yakin),” jelas Manager Public Relations LRT Jabodebek, Radhitya Mardika Putra, dihadapan awak media, Kamis (18/12/2025).

Bilapun terdapat gangguan, lanjutnya, KAI sudah melakukan simulasi tanggap darurat dan skema pola operasi guna memastikan respon time bisa sesingkat mungkin.

“Kami menyiagakan petugas tidak hanya di kereta dan stasiun, tetapi juga di OCC (Operating Control Center). Di situ semua laporan tersistem dan ketika ada gangguan langsung ditindak lanjut,” tambahnya.

KAI menetapkan Masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 berlangsung pada 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.

Selama periode tersebut, KAI menyiagakan 1.419 petugas LRT Jabodebek yang terdiri dari Train Attendant, Station Officer, Ticketing Officer, Passenger Officer, petugas kebersihan, paramedis, serta petugas keamanan. Para petugas tersebut akan bersiaga di stasiun, rangkaian kereta, dan titik-titik strategis untuk memastikan layanan berjalan sesuai prosedur.

Baca juga: PT KAI Hadirkan Vending Machine, Naik LRT Jabodebek Pakai KMT Kini Makin Mudah

Dari sisi operasional, untuk mendukung kelancaran layanan dan mengakomodasi pergerakan pengguna LRT Jabodebek, KAI mengoperasikan 26 trainset dengan 430 perjalanan per hari pada hari kerja (weekday) dari sebelumnya 24 trainset LRT Jabodebek dengan 396 perjalanan per hari. Sementara itu pada akhir pekan dan libur nasional, KAI mengoperasikan 270 perjalanan LRT Jabodebek per hari.

“Selama masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, KAI melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan melalui Posko Angkutan. Posko ini berfungsi sebagai pusat pemantauan operasional, koordinasi lintas fungsi, serta pengambilan keputusan secara cepat dan terukur untuk menjaga kelancaran layanan LRT Jabodebek,” tutupnya.